Pelaku Industri Wisata Harus Segera Go Digital

166
Pesona Indonesia
Menpar Arief Yahya saat memberikan bimbingan workshop kepada para pelaku pariwisata. Foto: kemenpar
Menpar Arief Yahya saat memberikan bimbingan workshop kepada para pelaku pariwisata. Foto: kemenpar

batampos.co.id -Era digital memaksa semua lini usaha beralih ke digital. Terutama sektor pariwisata yang memang tak bisa lepas dari dunia digital.

Itu sebabnya Menpar Arief Yahya menyarankan para pelaku bisnis pariwisata segera mengubah  haluan. Bertransformasi menuju platform digital, karena customers-nya terus bergerak dan makin cepat beralih ke digital lifestyle.

Ketika gaya hidup berubah, maka model bisnisnya pun akan bergerak. “Jangan menunggu ditinggalkan customers! Jemput perubahan dengan go digital, jika ingin winning the future customers,” kata Arief Yahya, Menpar RI.

Kemenpar sudah roadshow ke beberapa daerah untuk memberikan bimbingan workshop bagi supplayer seperti hotel, restoran, theme park, water park, rent car, souvenir shop, airlines, dan semua yang terkait dengan layanan wisata. Juga para distributor, seperti tour operator, tour agent, tour guide khusus dan lainnya. Sudah hampir 6.000 industri bergabung ITX Indonesia Travel Xchange, sebuah platform yang diendors pemerintah untuk mempertemukan demand dan supplay dalam bentuk digital market place.

Melalui ITX itu, lanjut dia, industri lebih leluasa dan siap bersaing di bisnis pariwisata. Mereka bisa mengemas paket-paket yang jauh lebih kreatif, lebih variatif, lebih luas jangkauannya karena langsung masuk ke pasar global.

“Ingat, more digital more global, more digital more personal, more digital more professional,” kata Arief Yahya.

Kota-kota yang sudah didatangi tim Kemenpar untuk digitalisasi adalah Batam (Kepri), Magelang (Joglosemar), Medan (Sumut), Banda Aceh (NAD) dan Jakarta. Selanjutnya akan hadir di Bali, Labuan Bajo, Lombok, dan seterusnya. Digital sudah menjadi basic need, kebutuhan pokok, yang tidak mungkin orang bisa hidup tanpanya. Ini bukan judul lagu, ini suasana yang terjadi saat ini.

Menpar yang 30 tahun lebih bergerak di IT itu sudah membayangkan apa yang akan terjadi di teknologi. Baik Transportasi, Telekomunikasi maupun Tourism, mirip. Semua akan berbasis pada teknologi.

“Yang masih konvensional, silakan segera ubah ke digital,” kata dia.

Caranya mudah, segera gabung ke ITX, gratis alias tidak perlu abonemen, juga tidak perlu membayar iuran untuk membuka jalan ke digital. Justru disupport oleh Kemenpar dengan template website gratis, booking system gratis dan payment system gratis pula. Kalau membangun sendiri bisa 300-400 juta habisnya.

Melalui ITX Indonesia Travel Xchange, langsung bisa bertransaksi dari searching, booking sampai payment. Lebih gamblang, Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis ITX, Sigma memastikan bahwa ITX itu bukanlah OTA, seperti Traveloka atau Agoda. ITX bukan pelaku bisnis pariwisata, bukan penjual tiket ataupun pembuat paket wisata.

“ITX itu IT company, bergerak di teknologi, jadi jangan khawatir, kami netral, tidak berbisnis di travel,” kata Claudi.

“ITX ini hanya mesin untuk mempertautkan customers atau traveller yang hendak berwisata ke Indonesia dengan induatrinya. Ada accomodation, airlines, dan attraction. Dari searching sampai payment di digital, tidak lagi transfer, bayar via ATM, apalagi teller di bank? Juga tidak perlu komunikasi telepon, karena bisa booking dan security pembayarannya aman,” kata Claudia.

Seperti diketahui, pariwisata sudah ditetapkan menjadi core ekonomi Indonesia. Soal devisa, Menpar Arief Yahya memang sudah menyampaikan di berbagai forum,  hanya sektor pariwisata yang mampu menyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja yang paling mudah, murah dan cepat.

“Soal PDB, pariwisata menyumbang 10% PDB nasional, dengan nominal tertinggi di ASEAN. Selama ini kita itu angkanya selalu buruk, di pariwisata ini kita menemukan angka terbaik di regional!” katanya.

Kedua, PDB pariwisata nasional tumbuh 4,8% dengan trend naik sampai 6,9%, jauh lebih tinggi daripada industri agrikultur, manufaktur otomotif dan pertambangan. Ketiga, devisa pariwisata USD 1 Juta, menghasilkan PDB USD 1,7 Juta atau 170%. Itu terbilang tertinggi dibanding industri lainnya.

“Jadi kalau selama ini orang mengkategorikan industry itu menjadi migas dan non migas, maka kelak industry itu akan menjadi pariwisata dan non pariwisata,” kata Arief.

Lagi-lagi soal devisa? Pariwisata masih berada di posisi ke-4 penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3% dibandingkan industri lainnya. Tapi, pertumbuhan devisa pariwisata itu tertinggi, 13%. Industri minyak gas bumi, batubara, dan minyak kelapa sawit yang pertumbuhannya negatif.

“Ini penting: Biaya marketing yang diperlukan hanya 2% dari proyeksi devisa yang dihasilkan,” kata lulusan ITB Bandung, Surrey University Inggris dan Unpad Bandung itu.

Dalam hal tenaga kerja, Pariwisata penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, 8,4% nasional dan urutan ke-4 dari seluruh sektor industri. Dalam penciptaan lapangan kerja, sektor pariwisata tumbuh 30% dalam waktu 5 tahun.

“Karena itu menggenjot pariwisata itu menyelesaikan banyak persoalan negara,” kata Menpar Arief Yahya. Lalu menunggu apa lagi? (inf)

Respon Anda?

komentar