40 Petani Lada Lingga Dibekali Pelatihan

330
Pesona Indonesia

ladabatampos.co.id – Sektor pertanian lada di Lingga sangat menjanjikan. Sejak 5 tahun, warga khususnya di pulau Lingga menata lahan-lahan kosong untuk ditanami tanaman rempah ini. Selain pasaran dan harga yang cukup baik, lada kini telah banyak membantu para petani meningkatkan taraf ekonomi.

Untuk itu dinas pertanian kabupaten Lingga bekerjasama dengan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sebagai penyelenggara menggelar pelatihan budidaya bibit agar para petani mendapat hasil maksimal. Pembekalan ini diikuti sedikitnya oleh 40 petani lada di kecamatan Lingga, Lingga Timur dan Lingga Utara. Sementara narasumber diisi oleh Lektor Departemen Agronomi IPB, Dr Ir Suwarto Msi.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Lela Sangguna kelurahan Daik tersebut dibuka oleh Plt Sekda Lingga, Said Parman. Dalam kesempatannya, Parman mengatakan pemerintah selalu mendukung upaya pengembagan usaha masyarakat.

Pertanian lada Lingga kata Parman diharapkan dapat semakin berkembang dengan mendatangkan langsung ahli dari ITB. Begitu juga pembibitan dan produksi yang diharapkan lebih meningkat dengan adanya pembekalan ini.

“Saya harap setelah workshop ini para petani dapat pengetahuan bagaimana mendapatkan panen lada yang lebih baik,” ungkap Said Parman, saat membuka workshop, Rabu (23/11).

Parman mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir petani lada Lingga yang mandiri terus berkembang. Bahkan, tanaman lada boleh dikatakan sebagai primadona petani Lingga yang memiliki prawatan tidak terlalu sulit dan nilai ekonomis tinggi. Hal ini terlihat antusias warga yang mulai menata lahan-lahan untuk ditanami lada. Meski harga pasaran sempat jatuh diangka Rp 135 ribu perkilogramnya namun hal tersebut masih mampu menutupi kebutuhan petani.

“Kedepannya kita berharap Lingga bisa menjadi penghasil lada dengan kualitas baik,” harapnya.

Sementara Suwaryo dalam pemaparannya mengatakan, tanaman lada memiliki usia produksi cukup lama. Bisa berusia hingga 15 tahun atau lebih. Pada usia 3 hingga 4 tahun, lada yang ditanam sudah bisa diproduksi.

Suwaryo menambahkan, untuk mendapat hasil produksi yang baik dari tanaman lada, khususnya produksi lada hitam biji lada yang berwarna hijau muda, akan berubah menjadi hijau tua hingga berwarna kuning dan kemrah-merahan dan siap dipetik.

“Untuk membuat lada hitam, pemetikan lada dilakukan pada 6-7 bulan setelah tanaman berbunga dengan ditandai buah berwarna hijau tua atau hijau gelap, atau ditandai dengan adanya tangkai buah dengan satu atau dua buah lada yang telah berwarna kuning,” terangnya.

Untuk menghasilklan lada hitam yang berkualitas, pola pemetikan harus dilakukan dengan baik. Wadah lada yang dipetik harus bersih dari bahan-bahan yang dapat kontaminasi atau pencemaran.

“Kantong atau keranjang yang telah digunakan untuk menyimpan bahan kimia pertanian tidak boleh digunakan untuk menyimpan buah lada,” sambungnya.

Di Lingga sendiri, kini tak kurang dari 100  hektar petani madiri yang telah memasuki masa produksi lada. Selain memproduksi lada hitam petani juga memproduksi lada sulah yang telah dibersihkan kulitnya dengan harga jual yang lebih tinggi. (mhb)

Respon Anda?

komentar