Bokor World Music Festival Bawa Bokor Mendunia

458
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Tiga hari berturut-turut desa yang berada di hulu Sungai Bokor itu mendadak riuh. Perhelatan Bokor World Music Festival (BWMF) 2016 yang digelar Sanggar Bathin Galang, 19 hingga 21 November itu berhasil mengundang musisi-musisi kelas nasional maupun internasional. Bukan hanya Asia, bahkan dari Eropa juga turut menampilkan karya mereka.

Sebut saja Steev Kinwald. Musisi kelahiran Amerika dan besar di Rumania ini sengaja terbang jauh begitu mendapat undangan tampil di Desa Bokor. Laki-laki yang sangat ahli memainkan berbagai alat musik tiup itu sangat memuji keasrian alam dan keramah- tamahan masyarakat Bokor.

“Di sini (Bokor, red) alamnya begitu kuat. Luar biasa ramah orang-orangnya,” puji laki-laki yang kini menetap di Jepang itu.

Dengan pengalaman bermusik lebih kurang 20 tahun dan telah melanglang buana ke berbagai negara itu, Steev terlihat begitu menikmati penampilannya di pentas BWMF 2016. Dia juga menilai para musisi yang tampil cukup berkualitas dengan berbagai skill bermusik kelas dunia.

“Memang pentas di Bokor ini sangat cocok dengan musik-musik etnik. Jadi bukan untuk musisi biasa dengan genre musik yang umum,” ungkap pria kelahiran 1970 itu.

Dari atas pentas megah yang berada di tepian Sungai Bokor dengan latar pohon-pohon durian berusia ratusan tahun, penampilan Steev cukup memukau mata dan telinga ribuan penonton dan musisi lainnya. Bagaimana tidak, laki-laki yang mengaku gemar menyendiri di gurun pasir itu mampu memainkan tiga buah seruling sekaligus.

“Selama di Bokor saya diajar main naviri dan diberikan sebagai kenang-kenangan. Saya rasa naviri ini lebih mewakili dan khas untuk budaya di Meranti,” sebutnya.

Naviri sendiri merupakan alat musik tiup yang selalu dimainkan oleh masyarakat Kepulauan Meranti yang biasa dipadu dengan gendang pada perayaan tertentu. Seperti pentas silat dan tepuk tepung tawar.

Steev hanya satu dari berbagai bintang tamu lainnya yang tampil di BWMF 2016. Masih ada musisi lain yang berasal dari Prancis, Inggris, Wales, Meksiko dan Polandia. Selain itu juga dari Malaysia dan berbagai daerah di Indonesia.

Rino Dezapati, pimpinan grup musik Riau Rhytm Chamber Indonesia, usai penampilan yang memukau dengan masterpiece mereka Satelit Zapin, mengungkapkan Bokor World Music merupakan iven musik etnik terbaik di Sumatera saat ini dengan 21 penyaji musik dalam dan luar negeri.

“Selain ajang saling mengenal, lewat BWMF ini juga sangat banyak ilmu dan pengalaman yang bisa kita dapat dan bagikan bersama musisi kelas dunia yang datang,” ungkap pentolan grup yang pernah mewakili Riau dalam pentas musik etnik di Australia.

Dengan berbagai iven bertaraf internasional yang digelar di desa kecil itu, tentunya nama Desa Bokor Kepulauan Meranti sudah mendunia dan dikenal oleh banyak musisi.

“Bokor ini bukan sembarang kampung. Bokor ini kampung internasional,” kata Ramadhan Arrasuli vokalis Made in Made, grup musik melayu-rege asal Aceh.

Selain diisi para musisi etnik dengan alat musik yang tidak biasa, BWMF 2016 juga diisi dengan seminar musik. Para bintang tamu diminta membagikan ilmu mereka kepada para peserta seminar yang terdiri dari siswa sekolah dan pengunjung lainnya yang tertarik.

“Jadi bukan hanya semata menampilkan keahlian mereka saja tapi juga berbagi ilmu dalam bermusik pada orang lain,” kata Ketua Pelaksana BWMF Sopandi Bathin Galang.

Para tamu undangan yang berasal dari daerah yang sudah berlainan bahasa suku dan ras itu, juga mendapat keistimewaan tersendiri oleh panitia dengan menginapkan mereka langsung di rumah warga desa yang sudah disiapkan khusus. Tujuannya, agar bintang tamu dan warga bisa saling menyatu serta berbagi pengalaman dan budaya masing-masing.

“Istimewanya, baik mereka maupun warga desa bisa langsung saling bertukar cerita dan berbagi budaya masing-masing,” tutur pria yang berhasil mendapat penghargaan MURI tahun lalu itu.

Meski telah melaksanakan berbagai pagelaran seni budaya sejak 2011 lalu, baru tahun ini Sanggar Bathin Galang mendapat dukungan anggaran dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Riau.

“Selain menambah wawasan dalam bermusik, iven ini tentunya memperkenalkan kabupaten yang terkenal dengan penghasil sagu terbaik di dunia ini ke wisatawan lokal maupun mancanegara,” ujar Kepala Disparekraf Provinsi Riau, Fahmizal saat menutup BWMF 2016, Senin (21/11).

Menurutnya pagelaran seperti ini merupakan salah satu cabang ekonomi kreatif dalam bidang musik yang diharapkan menambah daya dorong bagi pelaku seni untuk terus berkarya. Pemerintah Provinsi Riau juga sudah melakukan kesepakatan dengan seluruh kepala daerah se propinsi Riau untuk membangun pariwisata berbasis budaya.

“Kami berjanji akan mensuport terus kegiatan ini setiap tahunnya. Sekaligus berupaya membangun prasaranan dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk pengembangan wisata di desa ini,” ungkap Fahmizal. (amn)

Respon Anda?

komentar