Lahan Perkebunan Lingga Masih Tersedia Luas

268
Pesona Indonesia

plantera-hallbatampos.co.id – Kepala Bappeda kabupaten Lingga, Ir M Ishak MM mengatakan, untuk pola ruang perkebunan peruntukannya cukup dominan di Lingga. Disampaikan Ishak, kedepan tergantung kebijakan daerah untuk mengembangkan sentral buah-buahan lokal ataupun buah-buahan yang memiliki nilai ekonomis termasuk tanaman pangan dan hortikultura.

Lingga sendiri terang Ishak, sebagai pusat kesultanan melayu lebih 2 abad yang lalu juga telah memiliki berbagai jenis buah-buahan lokal dan perkebunan masyarakat. Seperti tanaman pangan sagu, kebun karet, kelapa, sahang (lada red), getah merah (getah perca red), cengkeh, banang, pulas dan berbagai jenis buah-buahan lokal yang langka.

“Untuk lahan perkebunan pola ruang yang tersedia lebih dominan. Dalam hal ini, menurut saya tanaman buahan lokal juga harus dikembangkan. Karena akan menjadi khas daerah. Ini juga upaya menjada plasma nuftahnya,” terang Ishak yang juga ikut mendampingi bupati ke sentra perkebunan buah Jawa Tengah.

Namun selama ini lanjut Ishak, tanaman unggulan Lingga seperti sagu, karet, kelapa terpuruk akibat harga yang tidak stabil. Sementara hanya lada yang tetap menjadi primadona karena harga pasaran yang cukup baik. Namun begitu, mantan kepala dinas Kebudayan dan Pariwisata Lingga ini juga berharap gagasan sentra buah-buahan tidak meninggalkan potensi buah-buahan lokal yang tergolong langka di alam melayu.

“Tinggal bagaimana mencarikan tekhnologi dan melakukan penelitian agar buah lokal ini bisa produksi setiap tahun atau berbuah dua sampai tiga kali. Tidak tergantung musim,” lanjut Ishak.

Nilai ekonomis tentu terang Ishak menjadi bahan perhatian pemerintah dalam hal ini. Bukan sekedar prodak daerah, namun pemasaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari pinggiran sesuai program nawacita yang ingin di teruskan pemkab Lingga di Bunda Tanah Melayu.

“Karena apapun jenis prodak sentra nanti, pasti yang harus diperhitungkan segi ekonomisnya. Kendala buah-buahan lokal kita tergantung musim dan tidak berbuah setiap tahun. Namun jika ada tekhnologinya, tentu bisa dikembangkan,” pungkasnya. (mhb)

Respon Anda?

komentar