Tradisi Mandi Syafar di Lingga

276
Pesona Indonesia
Warga dan anak-anak padati pantai pasir Panjang, dusun Malar desa Mepar ikuti riual budaya mandi syafar. foto: Hasbi / batampos
Warga dan anak-anak padati pantai pasir Panjang, dusun Malar desa Mepar ikuti riual budaya mandi syafar.
foto: Hasbi / batampos

batampos.co.id – Ritual Mandi Syafar adalah satu dari sekian banyak kebiasan masyarakat melayu Daik Lingga. Tradisi turun temurun menolak bala pada hari Rabu terakhir bulan Syafar perhitungan Hijriah ini dipercaya dapat menolak segala macam penyakit di hari naas dalam kepercayaan orang-orang melayu.

Warga Daik percaya, bulan Syafar merupakan bulan naas. Ribuan penyakit akan turun pada hari Rabu terakhir. Untuk jauh dari segala mara bahaya baik penyakit maupun kejadian naas, beratus tahun lalu hingga kini ritual budaya tersebut terus berlangsung. Warga akan melakukan ritual mandi tolak bala dari air yang telah dibacakan tetua dan direndam Wafak atau ayat-ayat suci yang dituliskan pada selembar daun Macang (sejenis Daun Mangga red) ataupun dari Sangku berlafal kalimah suci yang berbahan tembaga. Ada yang melaksanakan di rumah, di sungai ataupun juga di laut.

Pernyataan hari naas bulan Syafar menurut tetua ada dalam ajaran Islam. Namun untuk tradisi, memangg tidak menjadi bagian dari ritual agama. Bahkan tidak dianjurkan. Melainkan murni kebiasaan masyarakat. Karena telah menjadi kebiasan, warga tetap menghidupkan tradisi ini.

Ritual ini juga tercatat dalam manuskrip perjalan Sultan Abdurahman Muazzam Syah, sultan Lingga terakhir pada tahun 1900 an yang juga ikut melaksanakan ritual di Daik. Dari Penyengat, Sultan pulang ke Lingga untuk mandi Syafar.

Rabu (23/11) ratusan warga padati Pantai Pasir Panjang. Bersama sanak famili, ritual ini layaknya liburan keluarga menikmati alam dan mandi bersama-sama.

“Mandi Syafar ini memang ditunggu-tunggu. Sudah sejak kecil kami disini melakukannya. Biasanya bawa bekal dan mandi bersama,” ungkap Ady salah seorang warga Daik.

Mandi Syafar selain menjadi ritual budaya kata Ady juga menjadi ajang berkumpul. Warga akan membaur bersama-sama.

“Selalu ada yang menarik. Biasanya ada yang pergi ke Sungai, ada yang ke Pantai dan ada juga yang cuma melaksanakan dirumah. Boleh-boleh saja. Tradisi tidak terlalu mengikat kelompoknya. Memang beberapa tahun terakhir, kegiatan ini juga dipromosikan pemerintah dengan mengisi berbagai kegiatan seni dan permainan rakyat,” sambungnya.

Sementara itu, dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) melalui Plt kasi Seni dan Budaya Amran mengatakan, pemerintah dalam hal ini juga akan menggelar kegiatan serupa. Direncanakan, pada hari Rabu tanggal 30 November mendatang bertempat di Pemandian Lubuk Papan Daik, tradisi mandi Syafar juga akan digelar pemerintah dan melibatkan masyarakat.

“Nanti tanggal 30 kami ada kegiatan mandi syafar,” ungkap Amran singkat.

Meski tahun ini pelaksanaannya tidak serentak karena memiliki hitungan tersendiri, namun dirasa pristiwa ritual budaya ini yang telah mendarah daging dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi kabupaten Lingga. (mhb)

Respon Anda?

komentar