Kisah Sang Jaksa Fauzi

305
Pesona Indonesia
Ahmad Fauzi, jaksa penyidik di Bidang Pidana Khusus Kejati Jatim ditangkap usai melakukan pemerasan terkait dengan perkara korupsi yang diusutnya. Dari tangannya, petugas menyita barang bukti berupa satu buah koper berisi uang tunai sebesar Rp 1,5 miliar.   Foto: GALIH COKRO/JAWA POS
Ahmad Fauzi, jaksa penyidik di Bidang Pidana Khusus Kejati Jatim ditangkap usai melakukan pemerasan terkait dengan perkara korupsi yang diusutnya. Dari tangannya, petugas menyita barang bukti berupa satu buah koper berisi uang tunai sebesar Rp 1,5 miliar.
Foto: GALIH COKRO/JAWA POS

Jaksa Ahmad Fauzi mewakili Kepala Kejati Jatim Maruli Hutagalung dalam menghadapi permohonan praperadilan yang diajukan Dahlan Iskan.

Dalam sidang praperadilan itu, Kejati Jatim menugaskan empat jaksa. Selain Fauzi, ada Rhein E. Singal, Ketut Yogiswara, dan Ko Triskie Narendra. Di antara empat jaksa itu, hanya Fauzi yang paling aktif bertanya kepada ahli yang dihadirkan oleh pemohon dan termohon.

Fauzi juga menjelaskan dengan panjang lebar pentingnya pemberantasan tindak pidana korupsi lengkap dengan hambatannya. Dia menukil sejumlah buku yang membahas kejahatan kerah putih untuk menguatkan argumennya.

Bukan itu saja, Fauzi juga melontarkan ucapan pedas saat membacakan jawaban atas permohonan praperadilan. Salah satunya, dia menuduh ahli sebagai pelacur akademik.

Dia menganggap ahli itu sebagai senjata bayaran yang diorder pihak berkepentingan dan memberikan keterangan sesuai permintaan.

Fauzi juga menyindir hakim dengan meminjam ungkapan seorang filsuf Yunani. Dalam jawabannya, jaksa menyebut para hakim seyogianya lebih terpelajar daripada pandai bersilat lidah.

Hingga sidang keempat (Rabu, 23/11) permohonan praperadilan yang diajukan Dahlan, jaksa selalu hadir bersamaan.

Namun, saat sidang dengan agenda pembacaan putusan kemarin (24/11), Fauzi tidak tampak.

Menjelang sidang dimulai, sekitar pukul 10.00, hanya tiga jaksa yang hadir di pengadilan. Fauzi tidak tampak. Awak media sempat menanyakan keberadaan Fauzi kepada tiga jaksa yang hadir. Tim jaksa sempat menutupi ketidakhadiran Fauzi.

“Ada di kantor,” ucap jaksa Rhein E. Singal, salah seorang jaksa yang hadir.

Saat ditanya di kantor mana, kejati atau Kejagung, Rhein tampak bingung untuk menjawab. Mulutnya bergerak tidak beraturan seperti berkomat-kamit tapi tidak mengeluarkan suara.

Dia bersama dua rekannya bergegas masuk ke ruang Cakra PN Surabaya. Beberapa wartawan kemudian tertawa. Sebab, pertanyaan tersebut sebenarnya hanya dilontarkan untuk menggoda para jaksa itu.

Wartawan sudah mengetahui bahwa Fauzi, teman para jaksa itu, ditangkap karena memeras.

Sementara itu, komentar soal penangkapan Fauzi disampaikan Prof Dr Nur Basuki Minarno, ahli pidana Universitas Airlangga. Dia termasuk saksi ahli yang disebut Fauzi sebagai pelacur akademik.

Nur Basuki menyayangkan tertangkapnya jaksa Fauzi karena memeras. Sebab, Fauzi-lah yang paling lantang menyatakan pe­rang terhadap korupsi dan menyebut ahli sebagai pelacur akademik. Nur Basuki mendengar sendiri ucapan tersebut karena saat itu hadir sebagai ahli yang diajukan pemohon.

“Kalau mau menuduh, ya lihat githok (tengkuk, Red)-nya sendiri dulu. Jangan asal. Dia sendiri malah berbuat seperti itu,” ucapnya.  (atm/c11/nw/ jawa pos)

Respon Anda?

komentar