Lingga Disiapkan Jadi Sentra Perkebunan Buah di Kepri

194
Pesona Indonesia
Bupati Lingga, Alias Wello. foto:hasbi/batampos
Bupati Lingga, Alias Wello. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Sukses mencetak sawah di sejumlah titik di Lingga, Bupati Lingga kembali membuat program baru berupa upaya menjadikan Lingga sebagai lumbung penghasil buah.

Bahkan Bupati Lingga Alias Wello bertolak ke Jawa Tengah bersama kepala Bappeda Lingga, Kadistanhut, Asisten Ekbang dan Staf Khusus Bidang Tenaga Kerja, untuk melakukan studi lapangan di perkebunan buah Bawen dan Kendal.

Kunjungan yang terbilang singkat ini, bupati Lingga belajar tekhnis penanaman berbagai jenis buah-buahan unggul. Seperti budidaya durian musangking, lengkeng itoh, mangga, jambu citra, dan jenis buah unggul lainnya untuk diadopsi di lahan Lingga.

Selain itu, pemkab Lingga juga melihat langsung bagaimana cara pengemasan dan packing buah-buahan agar mutu dan kualitas tetap terjaga.

“Secara pribadi, saya sudah memulai di lahan Pulau Singkep. Sudah ditanam beberapa jenis buah-buahan seperti jambu kristal, mangga, dan lain-lain,” ujar Bupati yang akrab disapa Awe, usai melihat-lihat projek sentra buah di Jawa Tengah tersebut, Rabu (24/11/2016) lalu.

“Kami akan mencoba merancang pertanian yang berkonsep agrominawisata dengan melibatkan masyarakat sebagai pelakunya. Masyarakat bisa memanfaatkan lahannya, termasuk lahan perkarangan.”

Selain mengagas cetak sawah di lahan-lahan tidur pulau Lingga dan Singkep, potensi sentra buah-buahan menurut hemat Awe juga bisa dikembangkan di Lingga.

Bupati yang berlatar belakang pengusaha optimis ekonomi kerakyatan lewat kerjasama dengan masyarakat dan potensi lahan yang ada kabupaten Lingga bisa menjadi pilot projek sentra buah-buahan di Kepri. Terlebih lagi, baru-baru ini Presiden RI, Joko Widodo juga menggalakkan untuk mengembangkan buah lokal dengan membuat sentra perkebunan buah.

Selain melihat bagaimana sentra buah, pemkab Lingga juga mendapat penjelasan bagaimana membuat pupuk organik. Salah seorang pakar budidaya pupuk memperkenalkan budidaya cacing tanah untuk membuat pupuk organik. Rekayasa tekhnologi ini juga akan menjadi salah satu pendukung bagi pemerintah menjalankan sentra buah seperti yang dicanangkan.

“Paling tidak kedepan, Lingga bisa menjadi penyuplai buah-buahan untuk Batam dan Tanjungpinang,” target Awe kedepan.

Kepala Bappeda kabupaten Lingga, Ir M Ishak MM menambahkan untuk pola ruang perkebunan peruntukannya cukup dominan di Lingga.

Disampaikan Ishak, kedepan tergantung kebijakan daerah lagi untuk mengembangkan sentral buah-buahan lokal ataupun buah-buahan yang memiliki nilai ekonomis termasuk tanaman pangan dan hortikultura.

Lingga sendiri terang Ishak, sebagai pusat kesultanan melayu lebih 2 abad yang lalu juga telah memiliki berbagai jenis buah-buahan lokal dan perkebunan masyarakat. Seperti tanaman pangan sagu, kebun karet, kelapa, sahang (lada red), getah merah (getah perca red), cengkeh, banang, pulas dan berbagai jenis buah-buahan lokal yang langka.

“Untuk lahan perkebunan pola ruang yang tersedia lebih dominan. Dalam hal ini, menurut saya tanaman buahan lokal juga harus dikembangkan. Karena akan menjadi khas daerah. Ini juga upaya menjada plasma nuftahnya,” terang Ishak yang juga ikut mendampingi bupati ke sentra perkebunan buah Jawa Tengah.

Namun selama ini lanjut Ishak, tanaman unggulan Lingga seperti sagu, karet, kelapa terpuruk akibat harga yang tidak stabil. Sementara hanya lada yang tetap menjadi primadona karena harga pasaran yang cukup baik. Namun begitu, mantan kepala dinas Kebudayan dan Pariwisata Lingga ini juga berharap gagasan sentra buah-buahan tidak meninggalkan potensi buah-buahan lokal yang tergolong langka di alam melayu.

“Tinggal bagaimana mencarikan tekhnologi dan melakukan penelitian agar buah lokal ini bisa produksi setiap tahun atau berbuah dua sampai tiga kali. Tidak tergantung musim,” lanjut Ishak.

Nilai ekonomis tentu terang Ishak menjadi bahan perhatian pemerintah dalam hal ini. Bukan sekedar prodak daerah, namun pemasaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari pinggiran sesuai program nawacita yang ingin di teruskan pemkab Lingga di Bunda Tanah Melayu.

“Karena apapun jenis prodak sentra nanti, pasti yang harus diperhitungkan segi ekonomisnya. Kendala buah-buahan lokal kita tergantung musim dan tidak berbuah setiap tahun. Namun jika ada tekhnologinya, tentu bisa dikembangkan,” pungkasnya. (mhb)

Respon Anda?

komentar