Retribusi Parkir di Batam Banyak Bocor, Masuk Kemana?

483
Pesona Indonesia
Jefri Simanjuntak. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos
Jefri Simanjuntak. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos.co.id – Anggota Komisi III DPRD Batam, Muhammad Jefri Simanjuntak,  menggelar inspeksi mendadak (sidak) parkir di sejumlah titik di Batamcentre, Kamis (24/11/2016). Dari hasil sidak tersebut diketahui banyak kebocoran. Juru Parkir (Jukir) hanya menyetor tidak lebih dari 30 persen dari total retribusi parkir yang didapat setiap harinya.

Di kawasan Edukids Batamcentre misalnya. Yeremias, salah seorang jukir mengaku bisa menarik uang parkir hingga Rp 400 ribu untuk satu kali shift.

“Disini dua kali shift, pagi dan sore. Kalau pagi mulai pukul 08.00 wib sampai 15.00 wib, sedangkan sore pukul 15.00 sampai jam 9 malam,” ujar Yeremias, yang mengaku baru satu bulan bekerja sebagai jukir.

Ia mengaku, uang tersebut bukan sepenuhnya untuk dia. Melainkan ada pembagian-pembagian dengan pengawas atau lebih dikenal dengan kordinator lapangan (korlap) dan Dinas Perhubungan.

Setiap harinya, ia harus menyetor uang Rp 125 ribu ke korlap yang disebutnya bernama Nasuha. Sedangkan untuk dishub sendiri hanya sebesar Rp 35 ribu saja.

“Karena kami disini dua orang yang jaga, setornya Rp 250 ribu ke korlap dan Rp 70 ribu ke dishub,” tuturnya.

Selain sebagai korlap parkir di kawasan ini, Nasuha disebutnya juga sebagai sekuriti yang menjaga kawasan tersebut. Pembayaran uang retribusi dilakukan setiap kali pertukaran shift.

“Bayarnya tiap hari bg. Kalau dapatnya banyak, bisa Rp 150 buat saya. Tapi kalau sepi, bersihnya (setelah bayar korlap dan dishub) bisa Rp 50 ribu saja,” katanya.

Tak jauh beda dari Edukids, David, jukir di Palm Spring depan BPR Barelang Mandiri mengaku menyetor ke korlap yang bernama Saud Manurung. Di lokasi ini juga ada dua shift. Meskipun tak langsung menyetor ke dishub, David mengaku uang yang dibayarkan ke korlap lebih besar, yakni Rp 140 ribu. Uang tersebut juga dibayar setiap pergantian shift.

“Rata-rata dapatnya Rp 250. Kalau bersihnya cuma Rp 110 ribu saja,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Ino, jukir lain yang ada di Palm Spring. Setiap hari uang yang disetor ke korlap Rp 140 ribu untuk satu kali shift. Disini ada sembilan titik parkir dengan total 18 orang jukir. Bisa dibayangkan berapa penerimaan Saud Manurung setiap harinya.

“Yang saya tahu korlaplah yang akan menyetor ke dishub,” ungkapnya.

Oblin, jukir senior di palm Spring, tepatnya di depan Bank OCBC NISP mengaku sudah empat tahun menjadi jukir. Selama itulah ia dan teman-teman lain menyetor ke korlap Saud Manurung tersebut. Setiap harinya, ia bisa mendapatkan uang retribusi Rp 400 ribu.

“Berapapun dapat, setoran ke korlap selalu sama, berapa ke dishub kita tak tahu,” kata dia.

Untuk jam parkir sendiri kata Obeli dimulai pukul 08.00 wib sampai 23.00 malam. “Khusus disini bayarnya shift pagi saja. Kalau sudah malam tak ditagih korlap lagi,” ujar Oblin sambari berlalu.

Kepada Batam Pos, Jefri mengaku pendapatan retribusi parkir banyak yang bocor. Bahkan untuk satu titik saja, jukir bisa menarik uang hingga Rp 600 ribu.

Kondisi ini sangat disesalkan mengingat jumlah PAD yang masuk dari parkir tak sampai setengah dari setoran tersebut. Ironisnya, uang tersebut hanya dinikmati oleh segelintir oknum yang mengatasnamakan korlap parkir.

“Ini sudah mengibuli pemerintah. Siapa sebenarnya korlap-korlap ini,” tutur Jefri.

Bisa dibayangkan, lanjutnya, uang yang akan masuk ke PAD bila retribusi parkir ini bisa dioptimalkan Pemko Batam.

“Hanya sebagian kecil saja ke dishub, selebihnya korlap-korlap ini. Tak mengherankan bila pendapatan PAD dari parkir kita setiap tahunnya selalu tidak sesuai target,” sesal politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.

Kepada Pemko Batam, Jefri berharap agar semua retribusi parkir tepi jalan dihentikan. Sehingga pemko fokus untuk memperbaiki pelayanan dan mengganti orang-orang yang terlibat dalam penarikan retribusi tersebut.

“Jangan ada retribusi tepi jalan dulu. Karena ini kebororannya besar dan sudah tidak terkendali,” tegasnya.

Ketua Panitia Khusus (pansus) Ranperda Parkir, Muhammad Yunus juga mempertanyakan jumlah dan verifikasi jukir yang dilaporkan pemko Batam. Pasalnya dalam laporan tersebut diketahui jumlah jukir hanya 477 orang yang terbagi di 203 titik. jumlah ini disebut Yunus tidak masuk akal mengingat banyaknya jukir dan titik parkir saat ini.

“Seperti di Sagulung tiga titik dengan enam orang juru parkir. Batuaji ada dua titik dengan 10 orang juru parkir. Coba cek kesana, saya rasa lebih banyak lagi jumlahnya,” kata Yunus.

Ia juga mempertanyakan kenapa di Kecamatan Nongsa tidak ada jukir dan titik parkirnya. Pasalnya selain ada potensi PAD yang hilang, penarikan retribusi disana tetap dilakukan namun tidak terdaftar di pemko Batam.

“Saya rasa walikota Batam tak tahu hal ini. Kenapa di Nongsa tak ada jukirnya. Kemana uangnya,” disambung Jefri. (rng/bp)

Respon Anda?

komentar