Bikin Pertemuan Penyair Nusantara IX Lebih Berwarna

281
Pesona Indonesia
Dua Penyair, Teja Alhab dan Ucok Pelasah membawakan puisi dan musik saat Malam Apresiasi Ayah dalam Kata di Tepi Laut Tanjungpinang, Selasa (19/4). F.Yusnadi/Batam Pos
Dua Penyair, Teja Alhab dan Ucok Pelasah membawakan puisi dan musik saat Malam Apresiasi Ayah dalam Kata di Tepi Laut Tanjungpinang, Selasa (19/4). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Setelah delapan kali digelar di dalam dan luar negeri, Pertemuan Penyair Nusantara IX di Tanjungpinang 15-18 Desember mendatang dipastikan menjadi helatan paling berbeda dibandingkan yang sudah-sudah. Keberadaan Anugerah Jembia Emas bakal membuat helatan pertemuan penyair se-Asia Tenggara itu menjadi kian berwarna.

Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau, Husnizar Hood, memastikan hal tersebut. Dari pengalamannya beberapa kali menghadiri helatan ini, ia menginginkan acara di Tanjungpinang bisa meninggalkan kesan yang mendalam bagi seluruh peserta yang hadir.

Menurut dia, ada dua hal yang akan membuat PPN tahun ini sangat berwarna. Pertama karena digelar di Tanjungpinang, yang merupakan kampung halaman Bahasa Indonesia. Kedua, karena disejalankan dengan Anugerah Jembia Emas, sebuah penghargaan khusus yang diberikan kepada budayawan pilihan.

“Hal ini yang tidak pernah ada dalam PPN sebelumnya,” kata Husnizar, Jumat (25/11).

Anugerah Jembia Emas memang jadi ajang pembuka pada helatan PPN IX pada Kamis (15/12) mendatang. Ada 10 budayawan atau seniman sebagai nominator yang akan menerima anugerah yang kali pertama digelar ini. Ini merupakan sebuah cara untuk menghormati para pelaku budaya atau sekadar stimulan agar proses kreatif berkarya tetap ada hingga tahun-tahun ke depan.

“Di malam Anugerah Jembia Emas itu akan ada pembacaan puisi. Bahkan Pak Gubernur (Nurdin Basirun) pun akan kami minta baca puisi di sana. Beliau sudah janjikan akan datang,” kata Husnizar.

Tidak sekadar diskusi sebagaimana yang ada, pada helatan PPN IX ini, Husnizar memaparkan, seluruh penyair dari dalam dan luar negeri juga akan diajak melakoni ziarah sastra. Sebuah iktikad menapaktilasi kegemilangan Raja Ali Haji berkarya. Menyusuri perjalanan dari Sungai Carang sampai ke petilasan yang ada di pulau Penyengat. Bagi peserta yang beragama muslim juga diajak menunaikan ibadah salat Jumat di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat.

“Setelah itu, santap siang pun digelar di sana. Kami mengajak seluruh peserta makan berhidang di rumah sotoh,” terang Husnizar.

Tidak disangkal Husnizar, bahwasanya seluruh penyair yang diundang dalam helatan PPN IX ini menyatakan antusiasmenya ketika mengetahui Tanjungpinang ditetapkan sebagai tuan rumah. Husnizar menggambarkan antusiasme tersebut laksana anak yang merindukan ke kampung halamannya. Ada debar, ada rindu, ada hasrat dapat melihat lebih dekat kampung halaman bahasa Indonesia ini.

“Bahasa Indonesia itu diambil dari bahasa Melayu yang dirawat dengan baik oleh Raja Ali Haji. Maka ketika datang ke Tanjungpinang, para penyair itu seperti pulang ke kampung halamannya, berziarah kemana bahasa persatuan bangsa ini pernah dirawat dengan penuh kemuliaan oleh Raja Ali Haji,” kata penyair yang juga Wakil Ketua DPRD Kepri ini.

Diskusi-diskusi kesusastraan juga akan melibatkan penyair undangan dari luar negeri sebagai pemateri. Ada Nik Rakib bin Nik Hasan dari Thailand, Djamal Tukimin dari Singapura, Saleeh Rahmad dari Malaysia, dan Zefri Arief dari Brunei Darusalam.

Direktur Yayasan Jembia Emas, Ramon Damora juga mengapresiasi sokongan yang diberikan Dewan Kesenian Provinsi Kepri. Ramon menyatakan, pembangunan kebudayaan memang tidak bisa dilakukan sepihak. Melainkan harus bersama-sama.

“Apa yang diperbuat Dewan Kesenian Kepri itu merupakan dukungan nyata dalam pembangunan kebudayaan di Kepri. Kalau dalam kerja-kerja budaya semacam ini dilakukan segendang-sepenarian tentu bukan lagi sebuah kesulitan,” ungkap Ramon.

Ramon menyebutkan, hingga kini Yayasan Jembia Emas masih terus melakukan penilaian-penilaian terhadap sejumlah nama calon sepuluh nomine yang akan menerima Anugerah Jembia Emas untuk kali pertama. Kualifikasi yang ketat membuat pemilihan nama-nama ini menjadi lebih serius dan perlu kehati-hatian.

“Dalam bekerja kami menginginkan yang terbaik. Semoga nama yang terpilih menerima Anugerah Jembia Emas adalah nama budayawan atau seniman terbaik di antara yang baik yang ada di Kepri,” pungkas Ramon. (muf)

Respon Anda?

komentar