ICW: Jaksa Agung Memagari Fauzi

271
Pesona Indonesia
Jaksa Agung HM Prasetyo dalam konferensi pers terkait operasi tangkap tangan oknum jaksa Kejati Jatim, di sela-sela Rakernas Kejagung, Kamis (24/11). / Dok. Radar Bogor
Jaksa Agung HM Prasetyo dalam konferensi pers terkait operasi tangkap tangan oknum jaksa Kejati Jatim, di sela-sela Rakernas Kejagung, Kamis (24/11). / Dok. Radar Bogor

batampos.co.id – Pernyataan Jaksa Agung M. Prasetyo pasca tertangkapnya jaksa Kejaksaan Tinggi Negeri Jatim Ahmad Fauzi patut dipertanyakan. Pasalnya, dia memastikan bahwa Fauzi hanya seorang diri memeras pihak beperkara. Padahal, penyidik belum memeriksa Fauzi. Apalagi penyidikan kasus korupsi tidak mungkin dilakukan seorang jaksa saja.

Biasanya minimal ada lima jaksa yang dilibatkan menyidik kasus korupsi. Bahkan, tidak jarang sampai ada belasan jaksa yang dilibatkan jika kasusnya besar.

Nah, mungkinkah Fauzi seorang diri bisa mengubah “nasib” seseorang dalam kasus yang ditangani satu tim itu? “Nilainya besar. Tidak mungkin dia (Fauzi, Red) bermain sendiri,” tegas peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri kemarin (25/11).

Seperti diberitakan, jaksa Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim) Ahmad Fauzi ditangkap tim Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah memeras pihak beperkara.

Dari tangannya disita uang Rp 1,5 miliar yang dimasukkan ke koper hitam. Beberapa sumber menyebutkan bahwa uang itu merupakan hasil pemerasan tahap kedua.

Tahap pertama -juga senilai Rp 1,5 miliar- telah diserahkan beberapa waktu sebelumnya. Di sela-sela rapat kerja Kejagung di Bogor Kamis (24/11), Jaksa Agung Prasetyo menyatakan bahwa Fauzi merupakan pelaku tunggal. Tidak ada jaksa lain yang terlibat.

Febri Hendri mengkritik Prasetyo yang terburu-buru menyatakan bahwa kelakuan memeras tersebut inisiatif Fauzi sendiri. Menurut Febri, jaksa agung hanya ingin memagari dan berusaha melokalisasi kasus itu agar tidak menyeret pejabat Kejati Jatim atasan Fauzi. Padahal, kata Febri, tidak tertutup kemungkinan atasan Fauzi terlibat. Baik itu pejabat yang langsung di atasnya maupun justru pucuk pimpinan Kejati Jatim.

Apalagi, Fauzi hanya jaksa biasa yang tidak mungkin bermain sendiri. Dia tidak punya kewenangan untuk memutuskan kebijakan. Selain itu, perkara surat tanah tersebut ditangani tim, bukan Fauzi sendiri. “Jaksa agung jangan terburu-buru menyebut pelakunya tunggal. Didalami dulu untuk mencari keterlibatan pihak lain,” tutur dia.

Apalagi, informasinya, Fauzi sudah pernah menerima uang suap. Kabarnya, uang itu sudah mengalir ke beberapa orang. Artinya, ada indikasi banyak pejabat kejaksaan yang terlibat.

Menurut Febri, penanganan kasus tersebut harus transparan. Jangan sampai ada pejabat yang dilindungi dengan mengorbankan jaksa biasa. Semua yang terlibat, baik atasan Fauzi maupun pucuk pimpinan Kejati Jatim, harus ditindak tegas. Selama ini Fauzi dikenal dekat dan menjadi kepercayaan petinggi Kejati Jatim. (rul/idr/lum/tyo/atm/c9/nw/JPG)

Respon Anda?

komentar