Fidel Castro, El Comandante yang Tak Pernah Tunduk dari Amerika hingga Ajal Menjemput

349
Pesona Indonesia
Foto Fidel Castro yang diambil 30 Desember 1988. Fidel Castro wafat 25 November 2016 atau 26 November 2016 WIB di Havana. Foto: RAFAEL PEREZ/AFP
Foto Fidel Castro yang diambil 30 Desember 1988. Fidel Castro wafat 25 November 2016 atau 26 November 2016 WIB di Havana. Foto: RAFAEL PEREZ/AFP

batampos.co.id – Fidel Castro, pemimpin revolusi Kuba yang berpulang Jumat (25/11/2016) adalah sosok yang tak pernah mau tunduk pada Amerika Serikat (AS) hingga ajal menjemputnya di usianya yang ke-90 tahun.

Kematian Castro diumumkan adiknya sekaligus Presiden Kuba Raul Castro melalui siaran televisi nasional, Sabtu pagi (26/11/2016).

Raul tidak memberikan detail kematian kakaknya tersebut Namun, Fidel Castro memang sudah lama memiliki masalah kesehatan.

Raul hanya menyebutkan bahwa Castro mengembuskan napas terakhir pada Jumat pukul 22.29 waktu setempat atau Sabtu pukul 12.00 WIB.

“Sesuai dengan wasiat Kamerad Fidel, jenazahnya akan dikremasi Sabtu pagi,” ujar Raul.

Pemerintah menetapkan masa berkabung selama sembilan hari. Baru setelah itu jenazah pemimpin yang berkuasa sesudah berhasil melancarkan kudeta tersebut akan dimakamkan. Tepatnya pada 4 Desember mendatang.

Kabar itu memang datang tiba-tiba. Namun tidak mengejutkan karena kondisi Castro memang sudah tidak fit lagi. Bahkan, setelah menyerahkan jabatannya kepada Raul, Castro jarang tampil di depan publik.

April lalu dia sempat hadir dalam kongres Partai Komunis yang didirikannya. Saat itu dia sempat menyampaikan pidato yang mengindikasikan bahwa usianya tidak akan lama lagi.

“Saya akan segera berusia 90 tahun. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan. Segera saya akan berakhir seperti yang lainnya. Semua orang memiliki giliran masing-masing,” ujar ayah sembilan anak tersebut kala itu.

Hal senada dia ungkapkan dalam pidato perayaan ulang tahunnya pada 13 Agustus lalu. Itu adalah kali terakhir dia tampil di depan publik.

Luar biasa kehidupan pria yang memiliki penampilan khas seragam militer plus cerutu itu. Meski begitu banyak orang yang ingin membunuhnya, dia bisa bertahan hingga sembilan dekade. Namun, semua upaya pembunuhan itu selalu gagal.

“Kalau saya dianggap sebuah mitos, itu semua karena AS,” katanya pada 1988.

AS memang menjadi musuh besar Castro. Bahkan, hubungan kedua negara tak pernah harmonis.

Baru setelah Raul menggantikan Fidel Castro, Kuba dan AS menormalisasi hubungan diplomatik mereka.

Belum ada komentar resmi dari AS mengenai kematian pria yang memegang teguh slogan Sosialisme atau Mati tersebut.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang menjadi sekutu Kuba langsung bereaksi.

“Sekarang tinggal kita yang harus meneruskan warisannya. Membawa bendera kemerdekaannya,” tulis dia di Twitter.

Ucapan bela­sungkawa tidak hanya datang dari para pemimpin Amerika Latin. Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi juga menulis di akun Twitter bahwa negaranya merasa kehilangan seorang teman yang luar biasa.

Mantan Sekjen Partai Komunis Uni Soviet Mikhail Gorbachev juga ikut berduka atas kematian Fidel Castro. Saat masih berkuasa, Castro lebih memilih dekat dengan Uni Soviet jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Kedekatan itu berbuah embargo dari AS.

“Fidel berdiri dan memperkuat negaranya selama blokade tersulit Amerika, ketika ada tekanan luar biasa kepadanya,” ujar Gorbachev.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengirimkan telegram yang berisi ungkapan belasungkawa atas kematian Fidel Castro. Putin menyebut Castro sebagai simbol dari seluruh era dalam sejarah dunia modern.

“Dia adalah orang yang bijaksana dan kuat, menjadi contoh yang menginspirasi untuk semua orang dan negara. Juga, bagi Rusia, dia adalah teman yang tulus serta bisa diandalkan,” tulis Putin kepada Raul.

Fidel Castro memimpin Kuba selama 49 tahun. Hal itu membuat dia menjadi salah satu pemimpin terlama. Selama berkuasa, pria yang dijuluki El Comandante oleh penduduk Kuba tersebut memang lebih condong kepada para pemimpin sayap kiri.

Hingga detik terakhir, dia tidak berhenti menyumpahi AS. Ia tidak pernah tunduk pada AS. Meski sang adik penerusnya, Raul Castro telah memperbaiki hubungan kedua negara. (AFP/Reuters/BBC/sha/c11/any) 

Respon Anda?

komentar