GIPI Yakin Pariwisata Indonesia Lebih Maju Bukan Mimpi, Tapi Kenyataan

Merespons Semangat Presiden Joko Widodo Genjot Sektor Pariwisata (3)

259
Pesona Indonesia
Ketua GIPI Didien Junaedy. Foto: istimewa
Ketua GIPI Didien Junaedy. Foto: istimewa

batampos.co.id – Presiden Jokowi di  100 CEO Forum di JCC Senayan, Jakarta, 24 November 2016, memberikan harapan besar bagi kemajuan pariwisata tanah air. Apalagi presiden menjanjikan menaikkan budget promosi pariwisata hingga 4-5 kali lipat.

Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didien Djunaedy pun exiceted. Dia seperti seperti sedang bermimpi, dengan niatan menaikkan budget promosi pariwisata hingga 4-5 kali lipat itu. Antara percaya dan tidak percaya, antara yakin dan tidak yakin. Tapi, buru-buru dia sadar, bahwa itu disampaikan terbuka, di depan forum pelaku bisnis nasional dan para menteri yang terkait.
Didien pun percaya 1000 persen, bahwa statemen Presiden Jokowi itu bukan plesetan. Juga bukan sedang keseleo ucap. Pasti sudah dipikirkan matang dan lama.
“Ini terobosan berani yang out of the box. Berpuluh-puluh tahun saya menekuni bidang Pariwisata, baru kali ini saya merasakan komitmen pemerintah yang sangat serius,” ujar Didien Djunaedy, Jumat, 25 November 2016 di Jakarta.
Karena itu, dia mengapresiasi yang tak terhingga terhadap keseriusan Presiden Jokowi. Sesuatu yang dia sudah tunggu sejak lama, dan kini suasana untuk menjadikan Indonesia sebagai poros pariwisata dunia bakal terjadi.
“Ini langkah yang sangat tepat. Memperbesar anggaran promosi pariwisata sampai empat hingga lima kali lipat adalah investasi, untuk masa depan Indonesia yang lebih sustainable,” ujar Didien dengan peci hitamnya yang khas.
Investasi ini memang membuat anggaran Kementerian Pariwisata seperti balon, naik drastis. Promosi gencar jadi makin leluasa dilakukan di negara-negara originasi. Dari ASEAN serta tiga negara besar Asia seperti Jepang, Korea dan Tiongkok. Belum lagi, pasar Australia yang terus setia menyumbang wisman dalam jumlah besar ke Indonesia. Timur Tengah dan Eropa, Australia serta benua Amerika juga makin leluasa dijejali ‘virus’ Wonderful Indonesia.
“Ini akan memberi efek positif dalam banyak hal. Tenaga kerja, aspek turisme, kebudayaan dan seni, kuliner, perhotelan dan restoran, homestay, transportasi,usaha kecil dan menengah, semua makin hidup,” kata pria berkacamata itu.
Didien menyebut, faktanya, saat ini pariwisata adalah penyumbang PDB, devisa dan lapangan Kerja yang paling mudah, murah dan cepat. PDB dari pariwisata? Angkanya menembus 10% PDB nasional. Itu merupakan nominal tertinggi di ASEAN. Angka pertumbuhan PDB-nya? Tumbuh 4,8% dengan trend naik sampai 6,9%. Prosentasenya jauh lebih tinggi daripada industri agrikultur, manufaktur otomotif dan pertambangan.
Nominalnya? USD 1 Juta, menghasilkan PDB USD 1,7 Juta atau 170%. “Dari sini saja sudah bisa dirasakan. Pariwisata akan cepat menyejahterakan masyarakat. Jadi kalau Presiden Jokowi concern dengan pariwisata ya memang sudah tepat. Bujet promosi itu kan investasi. Pasti akan kembali jangka menengah dan jangka panjangnya. Jadi GIPI mendorong sepenuhnya ide Presiden Jokowi,” ungkapnya.
gipiDi mata Didien, pariwisata Indonesia punya masa depan yang paling cerah. Sebelum anggaran dinaikkan 4-5 kali lipat saja, pariwisata bisa menempati posisi ke-4 penyumbang devisa nasional yang angkanya ada di kisaran 9,3%. Pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata tertinggi. Prosentasenya mencapai 13%. Sedangkan industri minyak gas bumi, batubara, dan minyak kelapa sawit yang selama ini jadi promadona pertumbuhannya justru negatif.
“Bayangkan kalau fakta tadi digas dengan anggaran yang besar. Sumbangan 9,8 juta lapangan pekerjaan pasti bertambah. Sekarang ini pelemahan ekonomi sudah merata. Negara berkembang dan maju sama-sama lesu. Yang bisa menolong ya Pariwisata karena karena sektor ini bisa meng-create job opportunity hanya dengan USD 5.000/satu pekerjaaan,” ujar Didien.
Dari prediksi Didien, ‘gurihnya’ sektor pariwisata diyakini bakal terus dirasakan dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, pada 2019 devisa dari sektor pariwisata diprediksi akan mengalahkan devisa dari sektor minyak dan gas (migas).
“Coba dihitung. Dianalisis. Presiden Jokowi dan Menteri Pariwisata Arief Yahya sudah sangat concern dengan pariwisata. CEO Commitemennya kuat. Dan cuma pariwisata yang mencatatkan pertumbuhan yang menjanjikan. Kalau sudah begini, saya yakin target kunjungan 20 juta wisman bisa segera dicapai,” kata dia.
Karena, kalau orang nomor satu sudah menentukan arah, maka seluruh komponen bangsa wajib mensupportnya. (inf)

Respon Anda?

komentar