Saatnya Lingga Kembangkan Budaya

279
Pesona Indonesia
Ketua Sanggar Sri Mahkota Lingga, Kamarulzaman
Ketua Sanggar Sri Mahkota Lingga, Kamarulzaman

batampos.co.id – Meski memiliki segudang aset kebudayaan dan pelaku seni, pemerintah Kabupaten Lingga dinilai masih lalai mengembangkan potensi tersebut. Padahal, ruang seni dan budaya sebagai salah satu eknomi kreatif merupakan harta karun terbesar kabupaten Lingga mengukuhkan dan mewujudkan Bunda Tanah Melayu.

Hal tersebut juga ikut dikomentari salah seorang penggiat seni Lingga, Kamarulzaman. Ia menilai, Pemkab Lingga khususnya dinas terkait yakni dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) minim ide dan kegiatan kebudayaan. Hal ini mengakibatkan ruang gerak pelaku seni di Lingga terbatas.

“Kami berharap adanya dinas kebudayaan nanti lebih konsen terhadap warisan budaya melayu.

Salah satu contoh seperti seni teater rakyat Bangsawan yang kini diakui sebagai warisan budaya Indonesia. Mirisnya, sampai saat ini belum pernah ada kegiatan ataupun tanggapan dinas terkait memberi ruang gerak terhadap seni ini,” ungak ketua sanggar tetaer bangsawan Sri Mahkota Lingga yang telah puluhan tahun ikut menghidupkan tradisi orang-orang melayu Daik ini.

Bahkan dikatakan Kamarul, dinas terkait belum mampu mejalankan program daerah. Rencana induk kebudayaan yang telah disusun sebagai visi misi bunda tanah melayu seakan tidak mampu dijalankan dinas terkait. Persoalan anggaran selalu menjadi alasan dinas mengkerdilkan kepedulian terhadap seni dan budaya.

Padahal jika bicara soal potensi dan prestasi dikatakan Kamarul, Lingga boleh dikatakan gudangnya senimanĀ  dan pelaku seni di Kepulauan Riau. Prestasi tinggkat daerah maupun nasional telah diperoleh pelaku seni di Lingga lewat sejumlah pertunjukan.

“Sekarang tetar bangsawan telah jadi warisan budaya Indonesia. Perjuangan untuk terus mempertahankan seni budaya ini tidak mudah. Tapi belum pernah ada kegiatan pemerintah daerah untuk mengangkat lebih kesenian ini,” sambungnya.

Sebagai salah seorang penggiat seni di Bunda Tanah Melayu, ruang gerak dan kreativitas pelaku seni Lingga kata Kamarul masih belum mendapat apresiasi yang pantas. Bukan terhadap pelaku seni, namun ruang gerak dan fasilitas gedung seni yang representatif juga belum menjadi priotas daerah yang menggadang-gadang kebudayaan sebagai visi misi. (mhb)

Respon Anda?

komentar