Dituding Bagian Kelompok Makar, Rachmawati Soekarnoputri Berang

977
Pesona Indonesia
Rachmawati Soekarnoputri. (foto: jpnn)
Rachmawati Soekarnoputri. (foto: jpnn)

batampos.co.id – Putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri, berang setelah dianggap sebagai bagian dari kelompok makar yang ditudingkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Rachmawati dan sejumlah tokoh nasional dianggap akan mendompleng agenda aksi 2 Desember untuk menggulingkan Presiden Jokowi.

Tudingan itu berdasarkan opini sebagian tokoh yang hadir di antaranya mantan Menkopolhukam Tedjo Edhy yang menyatakan menduduki Gedung DPR/MPR sebagai salah satu alternatif yang sah dalam mengembalikan undang-undang dasar kepada UUD 1945.

Pertemuan dan konsolidasi tokoh nasional di Universitas Bung Karno (UBK) pada tanggal 20 November lalu juga menurut Rachmawati tidak beda dengan seminar biasa.

Dalam pertemuan yang dihadiri tokoh seperti Ketua Majelis Syuro PBB MS Ka’ban, aktivis pergerakan Syahganda Nainggolan, mantan Menko Polhukam Tedjo Edhie Purdijtno, Happy Trenggono, Sri Bintang Pamungkas, Permadi, Ketua Umum PB HMI Mulyadi P Tamsir, Ketua Umum KAMMI Kartika Nurrakhman, musisi Ahmad Dhani, tokoh Tionghoa Lieus Sungkarisma, Fuad Bawazier, Syarwan Hamid, ekonom Ichsanuddin Noorsy ini hanyalah pertemuan biasa dengan topik-topik kritis berbagai persoalan bangsa dan negara.

Karena itu salah besar bila pertemuan ini dianggap sebagai bagian dari upaya makar.

“Ada apa Kapolri Tito dan jajarannya? Terhinggap paranoid atau karena utang budi dengan penguasa,” kata pendiri UBK, Rachmawati Soekarnoputri, dalam keteranganya Senin (28/11/2016).

Rachmawati menegaskan bahwa UBK seringkali mengadakan beragam kegiatan. UBK juga pernah dijadikan acara pemaparan Pangdam Jaya, acara pernikahan, bakti sosial dan lai-lain. Tentu saja kampus memiliki otoritas untuk mengadakan berbagai kegiatan tersebut.

Rachma mengingatkan, pada era Kapolda Metro Jaya dipegang Sutarman, juga pernah terjadi demonstrasi sehingga mahasiswa UBK bentrok dengan polisi. Dalam bentrokan itu konon ada mahasiswa yang membawa batu dan bambu kayu. Polisi pun menembak mahasiswa dengan peluru tajam, dan jelas-jelas tindakan polisi ini melanggar protap. Mahasiswa pun mau membalas perlakuan polisi.

Namun, sambung Rachma, atas kebijakan Sutarman dan pimpinan UBK, keduanya sepakat untuk cooling down. Bahkan Sutarman dan pimpinan UBK sama-sama menjenguk korban di RSCM. Ini contoh bukti Polisi independen mengambil langkah persuasif karena tidak terkooptasi kekuasaan.

“Bagaimana Polri sekarang? Bukan rahasia umum lagi dimana kedudukan korps Bhayangkara sejak rezim jokowi berkuasa,” sindirnya. (ysa/sta/pst)

Respon Anda?

komentar