Aleppo Jatuh ke Tangan Assad

362
Pesona Indonesia
Dua pria menggendong bayinya yang selamat dari serangan udara pasukan Assad dan Rusia di Aleppo, Suriah. Aleppo kini porak-poranda, warga tak berdosa termasuk anak-anak tewas bergelimpangan. Foto: time
Dua pria menggendong bayinya yang selamat dari serangan udara pasukan Assad dan Rusia di Aleppo, Suriah. Aleppo kini porak-poranda, warga tak berdosa termasuk anak-anak tewas bergelimpangan. Foto: time

batampos.co.id – Bana Alabed kembali menjadi pusat perhatian. Akhir pekan lalu, gadis belia yang baru beberapa bulan belakangan punya akun Twitter itu mencuitkan ketakutannya terhadap serangan udara bertubi-tubi.

Rupanya, serangan tersebut berujung pada keberhasilan pasukan Syria merebut wilayah timur Kota Aleppo yang selama ini dikuasai oposisi bersenjata, Senin (28/11/2016).

’’Pesan Terakhir – Terperangkap serangan udara yang kian hebat. Rasanya tidak akan mungkin hidup lagi. Jika kami mati, tetaplah menjadi suara bagi 200.000 orang lainnya yang masih hidup. Selamat tinggal,’’ tulis Fatemah, ibu Bana, lewat akun putrinya pada Sabtu (26/11/2016).

Akhir pekan lalu, pasukan Syria memang meningkatkan intensitas dan frekuensi serangan udara di ibu kota Aleppo dan sekitarnya. Bagi Bana yang masih berusia tujuh tahun, deru mesin jet tempur yang terbang berputar-putar di langit Aleppo adalah teror. Rentetan tembakan dan dentuman yang sesekali terdengar di sela deru mesin jet tempur itu juga merenggut keberaniannya.

Akhir pekan lalu, suara-suara mengerikan tersebut terdengar sangat jelas. Sebab, militer Syria dan Rusia memang sedang menarget kawasan tempat tinggal Bana.

Ledakan bom di dekat rumah Bana menciutkan nyali Fatemah. Dia pun langsung mengajak anak-anaknya meninggalkan rumah. Di tengah kebingungannya, ibu muda itu mencurahkan ketakutannya lewat Twitter.

Setelah cuitan yang dia beri judul Pesan Terakhir tersebut menuai perhatian luas publik, akun Bana berhenti mencuit. Sebaliknya, media gencar memberitakan serangan udara besar-besaran di Aleppo.

Pada Minggu (27/11/2016), sekitar enam jam setelah cuitan berjudul Pesan Terakhir, akun Bana kembali mencuit. Pagi itu, akun yang punya lebih dari 124.000 follower tersebut menampilkan foto Bana. Sulung di antara tiga bersaudara itu terlihat kuyu dengan tubuh penuh debu. Foto tersebut jelas menerbitkan senyuman di bibir para follower dan netizen yang harap-harap cemas menanti kabarnya.

Bocah perempuan yang bercita-cita menjadi guru itu selamat. Namun, bom dari jet tempur militer Syria dan Rusia menghantam rumahnya. Bangunan yang menjadi tempatnya bernaung tersebut rata dengan tanah.

’’Malam ini kami tidak punya rumah lagi. (Rumah kami, Red) Sudah dibom dan menjadi puing-puing. Saya melihat banyak kematian dan nyaris mati juga,’’ tulis @AlabedBana.

Bana memang bukan baru sekali atau dua kali menampilkan realitas Aleppo lewat gambar dan tulisan kepada dunia. Sering kali foto yang dia bagikan masuk kategori mengerikan. Mayat-mayat bergelimpangan, anak-anak dan orang dewasa bersimbah darah atau puing-puing bangunan.

Semua yang @AlabedBana sajikan di dunia maya itu menjadi bukti kekejian rezim Presiden Bashar al Assad dan Moskow meski tidak pernah diakui.

Bana, gadis cilik yang rajin ngetwit soal kondisi Aleppo selamat dari serangan udara pasukan Assad dan Rusia. Ia menyempatkan diri membaca setelah selamat dari maut meski rumahnya terkena bom. Foto: @banaalabed/twitter
Bana, gadis cilik yang rajin ngetwit soal kondisi Aleppo selamat dari serangan udara pasukan Assad dan Rusia. Ia menyempatkan diri membaca setelah selamat dari maut meski rumahnya terkena bom. Foto: @banaalabed/twitter

Mohamed Shbeeb, jurnalis lepas Al Jazeera, melaporkan bahwa lebih dari 500 warga sipil tewas karena serangan udara tanpa henti dari pasukan Syria dan Rusia. Selama lebih dari sepekan, ratusan penduduk Aleppo di area yang menjadi target serangan kekurangan pangan. Mereka kelaparan. Tidak ada stok makanan yang tersisa. Padahal, suplai makanan ke Aleppo masih terputus.

Tidak hanya lapar dan terteror, penduduk Aleppo juga tidak punya lagi fasilitas kesehatan. ’’Tidak ada lagi rumah sakit yang beroperasi. Tidak ada obat-obatan. Tidak ada yang bisa merawat mereka yang terluka,’’ terang Shbeeb.

Dari hari ke hari, kondisi Aleppo kian memprihatinkan. Untuk bisa bertahan, warga hanya mengandalkan hasil kebun. Kadang-kadang ada warga yang punya hasil kebun berlimpah dan menjualnya.

Sementara itu, pasukan Assad berhasil menguasai Distrik Masaken Hanano dan beberapa distrik lain yang semula menjadi wilayah pemberontak. Warga sipil di kawasan tersebut mengungsi sejak akhir pekan. Mereka diarahkan ke kantong-kantong pasukan Assad.

’’Aleppo akan lenyap,’’ kata Khaled Khatib, fotografer White Helmets yang merupakan kelompok sukarelawan milik Syrian Civil Defense. (AFP/AP/BBC/hep/c14/any)

Respon Anda?

komentar