Menteri Pariwisata Tantang Kepri Sedot Kunjungan Wisman pada 2017

337
Pesona Indonesia
Menpar Arief Yahya. Foto: kemenpar
Menpar Arief Yahya. Foto: kemenpar

batampos.co.id – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menantang Pemerintah Provinsi Kepri meningkatkan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2017 nanti. Dari 2 juta di tahun 2016 menjadi 2,5 juta wisman pada tahun depan.

“Kalau kurang dari itu artinya kurang dari pertumbuhan nasional. Kalau tumbuhnya kurang dari pertumbuhan nasional, bunuh diri namanya,” kata Arief Yahya dalam acara Workshop Wonderful Batam Bintan di Hotel Novotel, Batam, Senin (28/11).

Secara nasional, target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia di tahun 2016 itu mencapai 12 juta. Dan Kemenparekraf berniat untuk menaikkan menjadi 15 juta di tahun 2017 kelak. Target besarnya, pada tahun 2019 nanti tercapai angka 20 juta kunjungan wisman.

Kepri, kata Arief, selama ini menyumbang 20 persen dari total angka kunjungan di tingkat nasional. “Jadi setidaknya, di tahun 2019 nanti, Kepri harus bisa mendapatkan 4 juta kunjungan,” tambahnya.

Banyak hal yang bisa Kepri lakukan untuk mewujudkan target tersebut. Apalagi setelah Kepri ditetapkan sebagai gerbang wisata bahari nasional. Arief mengatakan, wisata terbaik bahari itu ada di Kepri.

“Kepri berdekatan dengan negara tetangga. Dekat dengan customernya, Singapura dan Malaysia,” ujarnya.

Kepri dapat memanfaatkan areanya sebagai border tourism. Di dunia, pariwisata perbatasan itu mendapatkan angka kunjungan terbaik dibanding jenis pariwisata lainnya.

Jadi, menurutnya, Kepri harus berfokus pada Malaysia dan Singapura. Singapura, misalnya, memiliki 3,5 juta penduduk, 1,5 juta ekspatriat, dan setiap tahunnya ada 15 juta kunjungan turis mancanegara.

“Nah, targetnya bisa diperluas lagi. Tapi yang ingin saya sampaikan, mari menjaring di kolam ikan tetangga,” tuturnya.

Bukan hanya memasang target, Kemenpar sendiri berencana menggandeng pemain dari tiga kelompok pelaku bisnis pariwisata Kepulauan Riau untuk menggenjot angka kunjungan wisman. Arief menyebut taktiknya itu dengan istilah ‘more for less’.

“More for less, you get more, you pay less. Kami akan tawarkan wisman dengan nilai 10 dolar, 20 dolar, atau 30 dolar,” jelasnya.

Ia akan mengundang para pemain-pemain industri pariwisata tersebut untuk membuat paket bersama-sama. Para pelaku industri pariwisata itu meliputi, pemilik atraksi, kuliner, spa, themepark; pemilik akses – feri dan pesawat udara; juga pemilik amenitas – hotel ataupun resor.

“Kami mau bikin, kira-kira dapat apa dengan sepuluh dolar itu. Apakah nanti ferinya gratis atau, mungkin sepuluh dolar itu untuk satu hari jadi dua hari itu 20 dolar,” katanya lagi.

Taktik ini mengusung konsep gotong-royong. Masing-masing pelaku industri itu mengiur potongan harga sesuai kemampuan masing-masing. Iuran ekonomi itu akan dikelola secara digital. Arief menyebutnya dengan digital sharing economy.

Sebagai gantinya, pemerintah akan memberikan promosi untuk pelaku industri pariwisata yang bergabung. Promosi itu diberikan dua hingga tiga kali lipat lebih besar dari diskon yang telah ia iurkan. Promosi besar-besaran itu, terutama, ditujukan untuk pasar Singapura.

“Kalau dia mendiskon Rp 1juta, kami akan akomodasikan promosi jadi Rp 2juta,” ujarnya.

Dengan konsep more for less ini, Arief yakin, angka kunjungan ke Kepri – terutama Batam dan Bintan akan meningkat tiga kali lipat. Jika di hari-hari biasa, angka kunjungan hanya 20 persen, maka dengan konsep itu, angkanya akan berubah menjadi 60 persen.

Konsep ini akan mempengaruhi angka akomodasi sebesar 20 persen. Dari awalnya Rp 1 miliar, misalnya, menjadi Rp 1,2 miliar.

Kelompok atraksi akan mendapat pengaruh yang paling besar. Angka kunjungan untuk bisnis-bisnis kuliner dan spa akan meningkat tajam sebesar 120 persen. Sementara rata-rata pertumbuhan ekonomi akan meningkat hingga 60 persen.

“Tapi, itu hanya untuk (pemain) yang ikut. Kalau yang tidak mau ikut ya tidak akan dapat. Sebab kami akan memberikan biaya promosi dua kali lipat dari pengorbanan yang dia lakukan,” pungkas Arief.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kepri Buralimar menerima tantangan dari Menpar. Ia optimistis, target 2,5 juta kunjungan wisman itu akan tercapai di tahun 2017.

“Mudah-mudahan dengan pelatihan seperti ini dapat meningkatkan daya jual Kepri. Khususnya Batam,” tuturnya usai acara.

Pelatihan Wonderful Batam Bintan itu menghadirkan tiga narasumber sebagai pemateri. Yakni, Claudia dari Indonesia Tourism Exchange, Christine Jong dari travelio.com, dan Tung Desem Waringin selaku pakar marketing Indonesia. Acara yang dimulai pada pukul 12.00 WIB itu berlangsung semarak hingga pukul 18.00 WIB. (ceu)

Respon Anda?

komentar