Demi Target 20 Juta Wisman, Kemenpar Gelar Pelatihan Win Way Champions

282
Pesona Indonesia
Menpar Arief Yahya dan para pelaku pariwisata di Batam-Bintan antusias mengikuti motivasi dari Tum Desem Waringin di Hotel Novotel Batam, Senin (28/11/2016). Pelatihan Win Way Champions bagi pejabat Eselon IV, juga digelar di Lumire Hotel & Convention Center Jakarta (28-29/11/2016). Foto: Kemenpar
Menpar Arief Yahya dan para pelaku pariwisata di Batam-Bintan antusias mengikuti motivasi dari Tum Desem Waringin di Hotel Novotel Batam, Senin (28/11/2016). Pelatihan Win Way Champions bagi pejabat Eselon IV, juga digelar di Lumire Hotel & Convention Center Jakarta (28-29/11/2016). Foto: Kemenpar

batampos.co.id – Mewujudkan target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) di 2019 itu bukan hal mudah. Perlu kerja keras semua pihak, khususnya para pengambil kebijakan dan insan pariwisata tanah air.

Berbagai  upaya pun dilakukan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Salah satunya, menggelar pelatihan Win Way Champions bagi pejabat Eselon IV, di Lumire Hotel & Convention Center Jakarta, pada 28-29 November 2016. Kegiatan ini diimplementasikan oleh Asdep Pengembangan SDM Aparatur, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kemenpar.

Pelatihan itu dibuka oleh Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kemenpar Ahman Sya. Dia sekaligus menyampaikan pemaparan tentang kebijakan dan upaya konkret dari kelembahaan untuk mempertebal keyakinan mendapatkan wisman 20 juta itu.

Pelatihan Win Way Champions (WWC) itu menampilkan sejumlah nara sumber sebagai motivator dan pakar marketing antara lain Yuswohady, Goenawan Loekito, dan Tung Desem Waringin. Para nara sumber ini memberikan motivasi serta pelatihan sebagai best practice, dengan mengambil sejumlah case study antara lain; Badan Otorita Pariwisata Danau Toba, More For Less, dan case study Thailand.

Pelatihan diikuti sebanyak 214 peserta dari kalangan pejabat Eselon IV di lingkungan Kemenpar.  Sebanyak 120 orang peserta  di antaranya akan menjadi pilot project. Peserta terbagi dalam  4 kelas masing-masing kelas akan diikuti 30 orang peserta.

”Pelatihan ini mengangkat tema Win Way Be The Best. Ini kami lakukan karena target pariwisata dalam lima tahun ke depan atau 2019 yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sangat besar yakni dua kali lipat dari capaian 2014. Jadi kami satukan visi di pelatihan ini,” ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan di Belgia itu.

Lebih lanjut Ahman mengatakan, target pariwisata 2019 diantaranya adalah pariwisata harus memberikan kontribusi pada PDB nasional (WTTC) sebesar 15%, menghasilkan devisa Rp 240 triliun, kontribusi terhadap kesempatan kerja sebanyak 13 juta tenaga kerja, meraih 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebesar 275 juta wisnus, serta daya saing pariwisata Indonesia harus berada di ranking 30 dunia.

“Tingginya daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global ini akan  menjadi modal dalam memenangkan persaingan. Kami harus optimis dan harus bersatu untuk merealisasikan ini,”katanya.

Menurut data Kemenpar,  di tingkat kawasan ASEAN, tahun 2014 Indonesia meraih 9 juta wisman, jauh tertinggal dengan negara tetangga sebagai pesaing utama seperti Malaysia meraih 27,4 juta, Thailand 24,8 juta, dan Singapura 15,1 juta.

”Nah, ke depannya kita harus bisa mengalahkan atau minimal menyamai Malaysia dan Thailand. Kita harus jadi pemenangnya,” ujar pria yang pernah menjadi salah satu rektor perguruan tinggi di Bandung itu.

Untuk mengalahkan kompetitor, imbuh Ahman Sya, dibutuhkan strategi yang jitu terutama dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya di kalangan aparatur Kemenpar.

“Pelatihan hari ini sengaja dipilih tema  “Win Way: Be the Best. Untuk menjadi terbaik (the best) harus dibudayakan 3S dan spirit menjadi yang terbaik,” kata Ahman. Ahman menambahkan, budaya 3S yang selalu diingatkan Menpar Arief Yahya agar tetap menjaga solid, speed, dan smart.

Ahman menjelaskan, solid diimplementasikan solid dalam solid teamwork (collaboration); solid stakeholder integration (pentahelix); serta  solid in action (program execution). Sementara speed diimplementasikan dalam speed process (deregulation); speed product; serta speed service, sedangkan smart diterapkan dalam smart benchmarking (not invented here); smart innovation (blue ocean); dan smart in digital (personal, professional, global). (inf)

Respon Anda?

komentar