Jajanan Nikmat Belum Tentu Sehat, Waspadalah!

349
Pesona Indonesia
Beberapa anak SD sedang membeli jajanan di sekitar sekolah. Jajanan ini memang nikmat, tapi belum tentu sehat. Foto: istimewa
Beberapa anak SD sedang membeli jajanan di sekitar sekolah. Jajanan ini memang nikmat, tapi belum tentu sehat. Foto: istimewa

batampos.co.id – Jajanan instan memang diminati anak sekolah. Mualai dari SD hingga SMA. Terutama yang jualan di sekitar sekolah mereka.

Seperti di depan Sekolah Yos Sudarso, Batam Centre, berbagai jenis jajanan dijual. Ada telur, cimol, minuman, ubi, dan tahu. Para pedagang mengatakan mereka memulai berjualan dari pukul 11.00 pagi hingga pukul 16.00 sore.

“Saya memang berjualan telur setiap harinya. Banyak pembeli yang datang dan umumnya anak sekolah,” kata penjual telur, Saiful Arif sambil menggoreng telurnya.

Tak hanya anak sekolah Yos itu sendiri, siswa sekolah lain hingga orang dewasa pun suka membeli jajanan tersebut.

“Iya, memang bermacam-macam pembeli yang datang. Dari sekolah negeri ada, bahkan orangtua yang sedang menunggu anaknya juga suka beli,”lanjutnya.

“Kalau untuk beli cimol ini sih umumnya siswa. Dan satu porsi ini Rp5000. Tapi terkadang, mereka minta hanya dua ribu atau tiga ribu ya bisa. Saya tidak terlalu terpatok satu porsi belinya,” kata penjual cimol, Zai.

Sementara itu, Siswa SMA Yos Sudarso, Inggrid mengatakan memang biasanya bawa bekal. Tapi, walaupun bawa bekal tetap saja suka jajan di depan sekolahnya. “Enak sih, harganya juga murah,” kata Inggrid.

Dia mengaku orangtua nya sudah menyarankan untuk mengurangi jajanan di sekolah, dengan alasan makanan rumah lebih terjamin dan lebih sehat. “Walaupun begitu, saya tetap saja membeli jajanan. Tidak tiap hari, kadang-kadang saja,” ujarnya sambil membawa jajanannya.

Memang ketika membeli makanan, hal utama yang harus diperhatikan adalah gizi dan terjaminnya kebersihan. Sebagai pembeli, kita harus memperhatikan apakah makanan tersebut sehat dan bersih atau tidak. Namun, rasa makanan tersebut yang lezat dapat membuat orang lupa dan menilai makanan tersebut.

“Ya namanya jajanan di pinggir jalan. Pasti makanannya kurang bersih dan jaminan kesehatannya. Tapi kalau pulang sekolah memang enaknya makan di depan sekolah apalagi sama teman-teman dan nongkrong,” ujar siswi lain, Viona.

“Menurut aku makanan pinggiran memang kurang terjamin untuk kesehatan tapi harganya juga murah, jadi wajar saja. Kalau buat kita sebagai siswa yang penting di sekolah tidak kelaparan dan rasanya enak,”lanjutnya.

Sementara itu, jajanan yang dominan berbahan dasar tepung kanji juga bisa mengakibatkan berat badan naik drastis.

“Karena kanji banyak mengandung karbohidrat namun sangat minim serat,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Batam, Soritua Sarumpaet, SpPD. FINASIM.

Memang rata-rata jajanan ini diolah dengan digoreng. Saat menggoreng, banyak minyak yang terserap dalam jajanan. “Makin jenuh minyak, makin besar pula resiko kanker pada tubuh,” paparnya.

Konsumsi jajanan secara berlebihan yang digoreng juga berimbas pada kesehatan tubuh. “Minyak yang digoreng lebih dari dua kali sehingga menjadi jenuh bisa menjadi toksik (racun,red) bagi tubuh,” jelasnya.

Menurutnya, orangtua bisa menyarankan dan membatasi anak di sekolah dengan membawa bekal dan membuat jajanan rumahan sendiri. “Diimbangi dengan konsumsi makanan sehat seperti buah dan sayur,” pungkasnya. (frisca/cr18)

Respon Anda?

komentar