Kisah (Tidak) Cinta yang Berujung Penyesalan

Umi Hany Akasah - Radar Surabaya

382
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Gara-gara diculik dan dipaksa menikah dengan pacar saat duduk di bangku SMA membikin Karin, 29, menyesal. Lantaran, dia tidak bisa menyelesaikan pendidikannya. Untungnya, April 2015 lalu, Karin bisa kembali ke orang tua.

Kini Karin bisa melanjutkan studinya dengan mengikuti kejar paket C.

——-

WAKTU 11 tahun menemukan keluarganya akhirnya tercapai. Karin dijemput orang tuanya di Maumere, Papua. Karin tak menyangka bila ia akan kembali ke orang tuanya setelah diculik oleh pacarnya yang kini jadi suaminya, Donjuan, 38.

“Pas waktu itu mau Ebtanas (ujian nasional, Red),” kata Karin di sela-sela mengambil akta cerai di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Rabu (30/11).

Meski sudah menikah 11 tahun lamanya, Karin mengaku tidak mencintai Donjuan. Apalagi, pernikahan itu dilakukan dengan cara menculik dan memaksanya.

“Saya tidak suka sama suami. Tapi, dia memperkosaku seminggu waktu mau ujian. Minggu depannya, dia memaksa saya menikah,” kata Karin.

Perkenalan Karin dan Donjuan bermula saat Karin mengikuti les nyanyi di salah satu guru musik di kawasan Surabaya Timur. Waktu itu, Karin memang berambisi untuk bisa menyanyi untuk menjadi penyanyi terkenal.

Di situlah, Karin mengenal Donjuan yang merupakan salah satu personel band.

”Saya sudah berkali-kali menolak dia. Saya ingin fokus sekolah dan nyanyi,” jelasnya dengan suara penyesalan.

Sewaktu pulang kursus menyanyi Donjuan mendekap dan memperkosannya. Sungguh nasib Karin yang malang. Ia tak bisa bercerita dengan mama dan papanya.

”Papa waktu itu dalam proses kenaikan jabatan. Reputasinya harus dijaga. Mama juga barusan ditinggal meninggal uti (mbah putri, Red). Saya tidak berani bercerita,” katanya.

Akhirnya, pernikahan mendadak sempat digelar Donjuan di rumahnya. Tentu, orang tua tidak pernah setuju. Apalagi, saat itu ia akan ujian akhir sekolah.

Tetapi, Karin tak mampu berbuat apa-apa lantaran Donjuan mengancam menyebarkan foto mesumnya bila tidak mau menikah dalam waktu itu juga.

”Mama dan papa nangis saja waktu saya nikah. Mama tahu kalau saya sebenarnya tidak mau menikah secepat itu,” kata Karin dengan wajah nelongso.

Frustasi dan stres sudah ada dalam benaknya. Ia sudah tidak tahu arah hidupnya.

Menikah dengan pria yang sudah menyakiti hatinya. Bahkan, hingga Karin tidak mampu menyelesaikan studinya. Sampai akhirnya, Karin langsung dibawa Donjuan ke Maumere, Papua.

”Saya tersiksa di sana. Tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh pegang handphone. Sebulan setelah menikah saya pasang KB, jadi tidak hamil sampai sekarang. Saya ingin pulang ke Surabaya,” kata warga Mulyosari.

Sampai akhirnya, ia memiliki waktu untuk mengirim surat pada orang tuanya ke kantor Pos. Hal itu dilakukan ketika ia sembunyi-sembunyi ke pasar.

Karin juga memberikan nomor telepon tetangganya supaya orang tuanya bisa  menghubunginya sewaktu-waktu.

”Awal April 2015 lalu, papa mama datang. Ia menjemputku bersama polisi. Saya tidak tahu nasib dia sekarang. Saya sekarang sedang ikut paket C di PKBM. Nanti mau lanjut kuliah,” katanya dengan senyum bahagia. (no/JPG)

Respon Anda?

komentar