Iklan
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberikan keterangan kepada awak media terkait hasil gelar perkara kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan terhadap gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (16/11). Kapolri menyatakan penetapan Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka kasus penistaan agama murni berdasarkan fakta hukum yang ditemui tim penyelidik.FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

batampos.co.id – Kapolri Jenderal Tito Karnavian akhirnya buka-bukaan soal penangkapan 11 aktivis beberapa saat sebelum Aksi Super Damai Bela Islam III. Salah satu alasan utamanya, agar para aktivis ini tidak “membajak” kemurnian aksi 212 itu.

Iklan

Hal itu ditegaskan oleh Tito dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Senin (5/12/2016).

Tito juga menyebutkan, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Islam (GNPF-MUI) sebagai penyelenggara aksi 212, telah meminta kepada kepolisian agar menjaga aksi agar tidak dinodai agenda lain.

“Kita nggak ingin ada pihak lain yang mengganggu kesucian ini. GNPF bilang, ‘pak, tolong jaga supaya nggak ada yang ganggu massa’,” kata Tito.

Tito membeberkan, informasi yang diperolehnya dari intelijen, Rachmawati Cs akan membajak massa yang ikut aksi 212 untuk menduduki gedung MPR/DPR RI.

Tujuannya menggulingkan pemerintahan sah Jokowi-JK melalui sidang istimewa MPR.

“Kalau demo-demo biasa depan DPR silakan saja. Tapi kalau memaksa menduduki itu inkonstitusional,” terangnya. (wid/RMOL)