Aksi panggung teater monolog seniman asal Malaysia, Khalid Saleh, di Daek Expo 2016 di lapangan sepak bola Sultan Mahmud Riayat Syah, Daik Lingga, Minggu (25/12/2016) malam. Foto: Hasbi/batampos.co.id

batampos.co.id – Aksi panggung teater monolog seniman asal Malaysia, Khalid Saleh, pukau penonton Daek Expo 2016 di lapangan sepak bola Sultan Mahmud Riayat Syah, Daik Lingga, Minggu (25/12/2016) malam.

Wak Khalid sapaan akrab seniman berdarah Jawa-Arab ini begitu tampil bak penjual obat tradisional. Ia berhasil menarik antusiasme penonton menyaksikan aksi teaterikal mendirkan sebuah batu bulat sebesar kepala di atas sebuah botol minuman kosong.

Dipanggung sederhana tersebut, Wak Khalid yang mengaku baru pertama kalinya jejakkan kaki di Bunda Tanah Melayu mengajak audien berimajinasi dengan taklik dan bahasa-bahasa melayunya yang kental.

“Seni bukan kerja main-main,” ucap Wak Khalid membuka pementasannya dengan gaya yang khas menenteng ransel berwarna coklat tua, lengkap dengan aksisoris topi hitamnya.

Dalam pementasannya, Wak Khalid membangun komunikasi dengan para audien. Ilmu tradisional penjual obat jadi cara Wak Khalid memecah suasana. Para penonton diajak menyaksikan lebih dekat atraksi monolog yang mendapat tepukan dan decak kagum para penonton.

“Saya sangat seronok bile berada di atas panggung. Datang ke Bunda Tanah Melayu diundang bersilaturahmi oleh Wawan Daek,” sambung Wak Saleh yang menagku telah berteater sejak berumur 16 Tahun dan mengapresiasi kegiatan yang digelar Nofa Entertaiment bekerjasama dengan Gerakan Peduli Masyarakat Suku Laut (GPSL), Raider Touring Community (RTC), Persatuan Jurnalis Lingga (PJL) Malay Generasi Tanpa Batas (Malagenta) serta Boedak Daek Disign Graphic yang telah berjalan dua malam.

Selain perform Wak Khalid, seniman asal Singapura, Encik Noor Hasnah Adam juga tampail dengan teater monolog membawakan kritik sosial kehidupan melayu saat ini khususnya ditanah kelaiharannya, Singapura. Menurut Hasnah, Daik masih beruntung memiliki kampung dan masyarakat yang memiliki tanah.

“Selagi ada ayam adalah kampung, adalah penghulu. Ada pengulu adalah tanah,” kata Hasnah mengkrikit sosial kehidupan orang-orang melayu di Sigapura saat ini.

Sementara itu ditempat yang sama, ketua Pantia penyelenggara Daek Expo 2016, Wawan Daek mengatakan selain pertunjukan teater, puisi, seni budaya melayu, dan musik kekinian lainnya juga ditampilkan karya anak-anak muda Lingga distand-stand yang telah disediakan.

“Lewat kegiatan Daek Expo 2016 ini kami berharap ada semacam energi untuk mengajak seniman, pelaku seni, pelaku ekonomi dan anak muda di Daik. Mengutkan lagi nama Daik sebagai energi untuk menarik pelaku seni melayu dimanapun mewujudkan Bunda Tanah Melayu. Penyelenggara juga melibatkan anak-anak sekolah,” pungkas Wawan. (mhb)

Respon Anda?

komentar