Gusti Raizal Eka Putra, Kepala BI Kepri. Foto: batampos.com

batampos.co.id – Tahun 2017 Ekonomi Kepri diprediksi cerah, meski pertumbuhan ekonomi Kepri dan Batam diperkirakan akan tumbuh terbatas pada kisaran 5,8 hingga 6,2 persen.

Namun, pertumbuhan tersebut jauh lebih baik dari tahun sebelumnya yang hanya 5,6 hingga 6 persen.

Sektor konsumsi, investasi dan ekspor ditopang dengan pembangunan infrastruktur akan menjadi tiang utama pertumbuhan ekonomi pada tahun depan.

“Dari sisi permintaan, konsumsi yang terjaga akan menjadi penopang pertumbuhan. Sedangkan investasi diperkirakan akan ditopang oleh belanja pemerintah khususnya proyek infrastruktur,” ujar Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putera, Selasa (27/12/2016).

Ekspor keluar negeri diperkirakan juga akan tumbuh terbatas karena pengaruh perlambatan ekonomi global. Secara sektoral, sektor perdagangan besar dan eceran diperkirakan akan menjadi penopang pertumbuhan dipengaruhi oleh konsumsi yang tetap tumbuh tinggi.

Selain itu, bukan hanya ekspor yang tumbuh terbatas akibat perlambatan ekonomi. Sektor industri pengolahan juga akan tumbuh terbatas. Sedangkan sektor konstruksi diperkirakan tetap stabil karena ditopang oleh proyek pemerintah dalam pengerjaan infrastruktur meskipun investasi swasta menurun.

Gusti mengatakan, peningkatan perekonomian Kepri dan Batam di tahun mendatang dengan mengoptimalkan tiga potensi ekonomi. “Tiga potensi ekonomi ini nantinya akan mempengaruhi keyakinan dan gairah pihak swasta untuk beraktivitas,” ujar Gusti.

Potensi yang pertama, yakni kepercayaan yang tinggi dari pelaku ekonomi terhadap pemerintah. Pemerintah harus memiliki kedisiplinan pengelolaan kebijakan makro ekonomi, kebijakan fiskal dengan target yang realistis.

Potensi yang kedua adalah munculnya sumber pembiayaan ekonomi. Saat ini pemerintah memiliki sumber pembiayaan ekonomi dari program pengampunan pajak. Biaya ini akan menjadi sumber biaya pembangunan.

“Dari program ini, diyakini akan menjadi modal penting bagi upaya memperlebar ruang fiskal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Gusti.

Sedangkan potensi ketiga yakni potensi teknologi digital yang berkembang pesat, seperti teknologi sharing ekonomi. Teknologi ini merupakan konsep bisnis yang memberikan akses terhadap sumber daya yang dimiliki per orangan atau perusahan untuk dikonsumsi bersama orang lain.

“Potensi-potensi ini jika diberdayakan dengan efektif akan memperkuat dan menggandakan potensi sumber daya domestik. Yakni sumber daya manusia dan sumber daya alam,” tuturnya.

Selain itu, sambung Gusti, untuk membangun perekonomian Kepri diperlukan peningkatan pada sumber maritim dan pariwisata. Sebab, Kepri memiliki banyak pulau dengan hasil laut yang berlimpah, termasuk lokasi wisatanya yang indah.

“Kita secara bersama harus mendorong sumber maritim dan pariwisata ini. Dan didukung oleh semua pihak,” tegasnya.

Gusti menambahkan, potensi maritim Kepri hingga kini belum termanfaatkan secara maksimal dan dalam kurun waktu enam tahun belakangan menurun 7,43 peren per tahunnya. Sementara untuk pemanfaatan perikanan tangkap Kepri hanya 10 persen dari potensinya.

“Begitu juga dengan hasil perikanan budidaya yang trennya menurun. Ini yang perlu dimanfaatkan termasuk masyarakat lokal (nelayan),” terangnya.

Menurutnya, lemahnya pemanfaatan sumber maritim di Kepri disebabkan belum memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI). TPI ini diperuntukkan untuk lokasi transaksi antara nelayan lokal dengan nelayan asing.

“Belum lagi maraknya illegal fishing. Padahal kita sudah memiliki teknologi shipyard yang canggih,” paparnya.

Dia menjelaskan untuk awal tahun 2017, laju inflasi langsung mengalami peningkatan. Laju inflasi ini akan didorong oleh kenaikan harga pangan terutama komoditas hortikultura dan ikan segar.

“Untuk tekanan inflasi inti diperkirakan relatif tinggi yang dipengaruhi nilai tukar, kenaikan harga rokok dan pesawat,” paparnya.

Menurut Gusti, sebenarnya Batam siap untuk menghadapi tahun 2017. Secara geografis Batam dilewati Selat Malaka.

“Potensi peti kemas di Selat Malaka dan Selat Singapura capai 51,56 juta TEUs/tahun. Geografis Batam memberikan keuntungan besar terutama untuk pelabuhan transhipment internasional, industri pengolahan dan industri shipyard,” jelasnya.

Selain itu, sebenarnya infrastruktur yang ada di Batam cukup baik dan lengkap dan dengan kebijakan perdagangan bebas di area Free Trade Zone (FTZ) yang memberlakukan sejumlah insentif, maka Batam seharusnya bisa bersaing dengan negara-negara lainnya di Asia Tenggara.

Sayangnya hingga saat ini Batam hanya menjadi penerima dan pemroses pesanan dari Singapura. Sebagai tempat produksi, pabrik di Batam hanya bertugas menerima pesanan dan mengirim kembali ke pembeli. Devisa akan dibayarkan pembeli ke kantor pusat di Singapura.

“Oleh karena itu, Batam hanya menerima nilai tambah yang kecil dari kebijakan FTZ,” imbuhnya.

Kelemahan Batam lainnya dapat terlihat dari sektor industrinya. Walaupun sektor industri menopang 38,6 persen ekonomi Kepri dan memiliki diversifikasi produk yang cukup baik, namun ketergantungan impor industri di Batam masih sangat tinggi.

Kondisi ini terjadi karena sangat sedikit industri lokal yang dapat menopang kebutuhan bahan baku atau barang pendukung industri-industri di Batam.

“Masalah lainnya adalah jika industri di Batam mengambil produk domestik, harganya jauh lebih mahal dibanding barang impor,” jelasnya.

Ketergantungan impor menyebabkan nilai tambah produk industri berkurang. Lalu bagaimana solusi dari BI untuk membantu pemerintah setempat mengatasi kelemahan ini.

Dalam menghadapi perlambatan industri pengolahan, stakeholder terkait harus mengoptimalkan potensi industri yang dimiliki saat ini. Untuk mengurangi impor bahan baku dari luar negeri, pemerintah daerah dapat membantu memfasilitasi re-engineering bahan baku alternatif yang dapat dikembangkan secara lokal misalkan dari scrap.

Untuk ekspor, pemerintah perlu mengembangkan industri lokal sebagai industri pendukung seperti packaging, perlu dikembangkan industri potensial untuk mendukung bahan mentah seperti industri kimia tingkat tinggi penghasil bahan baku wafer atau bahkan industri berteknologi rendah yang melibatkan UKM lokal seperti industri scrap.

“Industri kreatif juga perlu dikembangkan dengan cara diberikan insentif khusus. Dukungan pembangunan infrastruktur juga perlu. Data menunjukkan bahwa peningkatan pelabuhan sebesar 30 persen dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,16 persen,” ungkapnya. (leo/opi)

Respon Anda?

komentar