Barang bukti 4,8 kilogram sabu dimusnahkan BNNP Kepri, Kamis (9/6/2016) di Markas BNNP Kepri di Nongsa. Foto: abg/posmetro

batampos.co.id – Selama tahun 2016, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepulauan Riau menanggani sebanyak 61 kasus dan 88 orang tersangka.

Dari barang bukti yang diamankan, BNNP mengungkapkan barang haram itu 90 persen dipasok dari Malaysia. Narkotika yang paling banyak di selundupkan yakni ekstasi dan sabu. Dua ini menjadi primadona bagi kalangan pencandu narkoba di Indonesia.

“Kami belum rekap semua, tapi hingga September kami berhasil menangamankan sebanyak 25 butir ekstasi, 22.1 kg ganja serta 14.33 kg sabu,” kata Kabid Pemberantasan Narkoba BNNP Kepri, Bubung Pramiadi saat ditemui Batam Pos, Rabu (28/12/2016).

Ia mengungkapkan narkoba dari Malaysia ini, hanya numpang singgah di Kepri. Sebab dari data BNNP Kepri, tak banyak pemakai atau pengguna narkoba di Kepri. “Kepri ini jadi pintu masuk saja,” ujarnya.

Selama tahun 2016 ini, Bubung mengatakan ada kebiasaan yang ditangkap pihaknya. Dimana narkoba dalam jumlah banyak biasanya dibawa melalui jalur ilegal. “Masuknya melalui jalur laut, dan tempat mendaratnya bisa diseluruh titik pelabuhan tikus di Kepri,” tuturnya.

Bubung menjelaskan narkoba yang dibawa melalui jalur ilegal ini, biasanya dibawa langsung bandar atau hanya kurir saja. Selama ini penyelundupan jalur ilegal sangat sulit dideteksi. Sebab para pengedar narkoba bisa masuk melalui daerah mana saja.

“Kepri ini punya pantai yang luas dan panjang. Oleh sebab itu, kami butuh informasi dari masyarakat dan bersinergi dengan pihak-pihak terkait,” ungkapnya.

Sedangkan narkoba¬† masuk ke Kepri, melalui jalur legal disebutkan Bubung jumlahnya tak banyak. “Paling banyak itu sekitar setengah kilo saja,” tuturnya.

Hal ini disebabkan karena pengawasan ketat di pelabuhan internasional. Selain itu kurir kesulitan membawa barang dalam jumlah banyak. Sebab resiko ketahuan sangat tinggi.¬† “Kecil-kecil aja,” ucapnya.

Namun bila narkoba sudah sampai di Kepri dari jalur ilegal. Pengedar menyebar narkoba tersebut melalui jalur legal. Berbagai macam cara yang dilakukan pengedar agar narkoba tersebut bisa lepas ke luar Kepri. Salah satu kasus narkoba yang masuk melalui jalur ilegal ke Kepri, keluar jalur legal yakni jaringan narkoba Palembang. Kasus ini menurut Bubung pengungkapan yang cukup sukses.

“Kami berhasil mengamankan dari kaki hingga kepala jaringan ini,” ujarnya.

Dari kasus narkoba jaringan Palembang ini, Bubung menyebutkan mengamankan tujuh orang tersangka. Mulai dari kurir, pengendali lapangan, penyokong dana dan pemilik barang serta pemasok. “Pemasoknya orang Malaysia, sudah kami amankan. Serta penyokong atau pembeli barang haram ini,” ungkapnya.

Bubung mengatakan penyelidikan kasus narkoba dilakukan BNNP Kepri kesulitan karena keterbatasan personel. “Tak banyak,” ujarnya.

Oleh sebab itu, ia telah menjalin kerjasama dengan seluruh lapisan masyarakat. Ia mengatakan telah membuat satuan tugas di tempat di Kepri.

“Satgas ini bertugas untuk memberikan informasi dan perpanjangan tangan kami dalam mensosialisasikan bahaya laten narkoba,” imbuhnya.

Tahun 2017, BNNP Kepri tak hanya menggiatkan penindakan terhadap bandar narkoba saja. Tapi juga mengkampanyekan pencegahan narkoba lebih baik.

“Dengan mengurangi pengguna narkoba, bisa mengurangi jumlah narkoba yang masuk ke Indonesia.

Bubung memprediksi masih banyak narkoba masuk ke Kepri. Hal ini disebabkan, tingginya permintaan terhadap barang haram itu di Indonesia. “Tetap banyak, dan masuknya dari Malaysia,” ujarnya.

Ektasi dan Sabu tetap menjadi narkoba yang favorit dikonsumsi pecandu. Sementara itu narkoba jenis lain tak terlalu. “Contohnya heroin, biasanya dipakai kalangan tertentu saja. Dan kami belum ada menemukan narkoba jenis itu di Kepri,” pungkasnya. (ska)

Respon Anda?

komentar