Kampus Politeknik Negeri Batam, Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Politeknik Negeri Batam menyambut baik kebijakan pemerintah yang membuka akses bagi lulusan politeknik untuk menjadi guru SMK.

Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama Poltek Batam, Muslim Ansori, menilai kebijakan itu sudah pas.

“Karena ada kesesuaian pembelajaran vokasi di Politeknik dan SMK,” kata Muslim Ansori, Kamis (5/1/2016).

Muslim menjelaskan, sistem pendidikan Indonesia itu meliputi dua jalur. Yakni, jalur akademis dan jalur vokasi. Pada jalur akademis, pembelajaran didominasi teori umum. Sebab, para lulusannya diharapkan dapat beradaptasi di semua lingkungan.

Sementara untuk jalur vokasi, pembelajaran dilakukan lebih spesifik. Teori tidak diberikan dalam jumlah banyak. Justru lebih banyak praktek. Sebab, tujuan akhirnya adalah menyiapkan tenaga kerja di bidang tertentu.

“Di level pendidikan menengah, jalur vokasi itu SMK. Di level pendidikan perguruan tingginya itu Politeknik,” ujarnya.

Menurutnya, sudah seharusnya, guru SMK itu merupakan lulusan politeknik. Sebab, porsi pendidikan vokasi dan teorinya sama. Akan menjadi tidak pas jika para siswa SMK yang sebagian besar studinya berupa praktikum diajar oleh guru yang jarang melakukan praktikum.

“Memang, kalau itu diterapkan, lulusan politeknik tidak bisa langsung mengajar. Mereka harus mendapatkan training metodologi pengajaran dulu,” tambahnya.

Muslim mengatakan, Politeknik Negeri Batam telah menerima surat keputusan bersama empat menteri yang berisi kebijakan untuk membuka akses lulusan politeknik menjadi guru SMK. Namun, menurutnya, Politeknik Negeri Batam belum akan menindaklanjutinya.

Poltek Batam akan melihat situasi terlebih dahulu. Terutama, tentang peluang pekerjaan menjadi guru SMK di Batam ataupun di wilayah Kepulauan Riau lainnya. Mereka juga akan menunggu inisiatif dari instansi pemerintahan terkait tentang hal tersebut.

“Itu kan kebijakan pemerintah pusat. Kalau pemerintah daerah diam-diam saja dengan hal ini, kami percuma juga menyiapkan,” tuturnya.

Muslim berharap pemerintah daerah juga mengambil peluang ini. Jika ada lampu hijau dari pemerintah daerah, Politeknik Negeri Batam akan mulai mempersiapkan mahasiswanya. Salah satu caranya dengan membuka mata kuliah baru atau setingkat training metodologi pengajaran.

“Kalau melihat kondisi di Batam, kebutuhan yang paling besar itu untuk tenaga kerja perusahaan. Tapi kalau memang ini sudah kebijakan pemerintah, kami mau tidak mau akan meresponnya,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah mahasiswa Politeknik Negeri Batam mengaku tidak memiliki keinginan untuk menjadi guru SMK. Edyanto Wijaya, misalnya. Mahasiswa Semester V Jurusan Teknik Mesin Konsentrasi Manufaktur Poltek Batam ini mengatakan tidak ingin menjadi guru SMK.

“Belum ada panggilan hati jadi guru,” ujarnya.

Edy lebih ingin bekerja di sebuah perusahaan. Mengerjakan proyek-proyek perusahaan. Hal tersebut, lebih sesuai dengan apa yang sudah ia pelajari selama ini di kampus.

“Lebih enak kerja-kerja buat alat seperti ini,” tuturnya.

Ketua Jurusan Teknik Mesin Cahyo Budi Nugroho juga pesimis anak politeknik berminat menjadi guru SMK. Terlebih, para lulusan baru. Mereka pasti lebih ingin bekerja di perusahaan.

“Gaji guru SMK itu berapa. Kalau mereka lihat teman-teman mereka yang kerja di perusahaan bisa dapat dollar, mereka juga pasti lebih ingin kerja di perusahaan,” ujar Cahyo. (ceu)

Advertisement
loading...