Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Komjen Budi Waseso memberikan pemaparan materi tentang permasalahan narkoba saat menyampaikan kuliah umum di kampus Universitas Batam, Jumat (6/1). Foto: Cecep Mulyana

batampos.co.id – Wilayah Kepri dan Batam menjadi salah satu pintu utama masuknya narkoba dari luar negeri. Bukan karena kondisi geografis yang menyulitkan pengawasan, namun barang haram itu bebas masuk akibat adanya keterlibatan oknum aparat.

“Ada keterlibatan oknum Bea Cukai dan polisi di sana. Serta oknum nelayan yang mau membawa narkoba masuk ke Indonesia,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Budi Waseso (Buwas) saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Batam (Uniba), Jumat (6/1).

Pria yang akrab disapa Buwas itu mengatakan, narkoba yang masuk melalui Batam kebanyakan dipasok dari Malaysia dan Singapura. Namun sebenarnya kedua negara tetangga itu hanya sebagai daerah transit. Karena semua narkoba tersebut berasal dari Cina.

Menurut Buwas, prekursor sebagai bahan utama narkotika dibuat di Cina. “Prekursor itu diproduksi rumahan, dan dikirim ke berbagai negara. Salah satunya Indonesia,” ungkapnya.

Dari Malaysia dan Singapura, narkoba asal Cina itu kemudian dikirim ke wilayah Kepri melalui berbagai pintu masuk. Baik pelabuhan resmi dan pelabuhan tikus maupun bandara.

Otoritas negara Malaysia dan Singapura, menurut Buwas, sengaja meloloskan barang haram itu ke Indonesia melalui Batam dan Kepri. Perjalanan barang haram itu ke dalam negeri menjadi semakin gampang karena ada keterlibatan oknum aparat tadi.

Ia mengatakan pihak berwenang di negara-negara pemasok dan distributor narkoba itu ada kapal yang memuat prekursor dalam jumlah besar. Namun karena ada kelengkapan dokumen dan barang itu tidak diperjualbelikan di sana, maka pihak berwenang di negara itu tak melakukan tindakan.

“Karena barang hanya transit, dan para pemasok tak berbuat kriminal di negara itu. Masalahnya di negara Indonesia ini mereka menyebarkannnya,” ungkapnya.

Kendati sudah memetakan alur pengiriman narkoba jaringan internasional, Buwas mengaku masih kesulitan memberantasnya. Di antara kendalanya adalah karena terbentur aturan dan hukum di negara pemasok narkoba tersebut.

“Negara-negara itu memiliki undang-undang sendiri,” ucapnya.

Karenanya, BNN telah menjalin kerjasama dengan negara-negara ASEAN untuk memberantas bisnis narkoba lintas negara ini. Namun menurut dia, selama ini kerjasama tersebut tidak efektif. Karena pada dasarnya, Indonesia adalah pasar utama dari jaringan narkoba internasional itu.

Untuk itu, Buwas mengaku akan mengevaluasi kembali jalinan kerja sama itu. “Jika tidak menguntungkan, lebih baik kita keluar. Dan kita sendiri yang harus memperkuat pertahanan dari ancaman narkoba,” tegasnya.

Buwas mengatakan, saat ini Indonesia sudah dalam status darurat narkoba. Dia menyebut, dalam dua bulan terakhir saja pihaknya sudah berhasil mengamankan ratusan kilogram sabu dan puluhan ribu pil ekstasi.

Oleh sebab itu, ia mengimbau semua masyarakat agar dapat bekerja sama dalam memerangi narkoba. Sebab narkoba mengancam generasi muda di Tanah Air.

“Kalau dibiarkan masuk dan beredar, maka narkoba ini akan membunuh generasi penerus bangsa,” katanya.

Dalam kuliah umum kemarin, Buwas juga menggelar dialog interaktif dengan para peserta yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar. Seorang mahasiswa, Nikson, mengatakan pemberantasan narkoba di Batam terkesan tebang pilih. Menurut dia, sebenarnya aparat sudah mengetahui lokasi-lokasi transaksi narkoba di Batam.

“Namun kenapa hingga saat ini tak ada penanganan,? tanya Nikson.

Menanggapi pertanyaan itu, Buwas membenarkan. Dia sendiri mengaku sudah sering mendengar ada sejumlah diskotel di Batam yang secara bebas mengedarkan narkoba. Bahkan Buwas mengklaim sudah menyiapkan strategi khusus untuk memberangus praktik bisnis haram tersebut.
“Percayalah pada BNN, kami sudah merencanakan langkah-langkah itu,” katanya.

Namun ia masih merahasiakan langkah yang akan diambilnya itu. Sedikit bocoran yang diungkapkan Buwas, dirinya telah menyiapkan kekuatan besar untuk menangani peredaran narkoba di Batam.

Sebab menurut Buwas, ada oknum aparat yang sengaja melindungi bisnis narkoba oleh para pengusaha hiburan malam di Batam. “Ada keterlibatan oknum (aparat) yang melindungi ini. Yakinlah kepada kami,” tegasnya lagi.

Buwas juga berkoar sudah mengantongi nama-nama pengusaha ‘hitam’ itu. Karena itu, selain akan menindak aparat yang membekingi bisnis tersebut, ia juga berjanji akan menyeret para pengusaha yang terlibat dalam bisnis narkoba di Batam.

“Pengusaha sebagai penglola (diskotek) harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Meski melibatkan aparat, Buwas mengaku tidak gentar membasmi bisnis narkoba di Batam. Sebab dia mengklaim mendapat dukungan penuh dari Polri dan TNI.

“Kapolri berkomitmen, Panglima (TNI) juga,” katanya. (ska)

Respon Anda?

komentar