Inflasi Tahunan Kepri Lebih Tinggi dari Nasional

3791
Warga saat belanja di Pasar Fanindo Tanjunguncang, Batuaji. Jelang Ramadan pemerintah diharapkan dapat mengawasi dan melakukan operasi pasar untuk mengatasi lonjakan harga kebutuhan pokok. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Inflasi tahunan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tercatat sebesar 3,53 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari inflasi nasional 3,02 persen (year on year/yoy). Namun masih dalam kisaran sasaran inflasi nasional 4±1 persen (yoy).

“Tekanan inflasi di Kepri melambat pada Desember 2016. Inflasi Desember tercatat 0,25 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibanding inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,86 persen, juga lebih rendah dibanding inflasi nasional 0,42 persen,” kata Sekretaris II Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri, Eko Waluyo Purwoko kemarin (6/1).

Menurut Eko, perlambatan laju inflasi Desember dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas volatile food, terutama cabai dan aneka sayuran. Setelah mencatatkan inflasi cukup tinggi sejak September, harga cabai merah turun 11,17 persen (mtm) pada Desember. Ini sekaligus menjadi pendorong utama kelompok volatile food alami deflasi 0,33 persen (mtm).

Sejumlah komoditas sayuran juga mencatatkan penurunan harga dibanding bulan sebelumnya. Seperti bayam turun 8,59 persen, kangkung 0,04 persen, dan kacang panjang 0,02 persen.

“Secara keseluruhan tahun, inflasi untuk kelompok volatile food ini tercatat sebesar 3,87 persen (yoy). Cukup rendah di tengah anomali iklim La Nina. Capaian ini didukung oleh terjaganya pasokan bahan pangan dan koordinasi lintas instansi yang semakin solid dalam wadah TPID,” terangnya.

Sementara dari kelompok inti, inflasi Desember sebesar 0,11 persen (mtm). Sumbangan terbesar bersumber dari komoditas lemari pakaian dan ketupat atau lontong sayur. Besaran inflasinya masing-masing 18,78 persen dan 3,37 persen (mtm). Secara keseluruhan tahun, tingkat inflasi kelompok inti relatif terjaga pada level rendah dan stabil yaitu 2,52 persen (yoy)

Di Batam, penyumbang inflasi terbesar adalah cabe. Harganya semakin tinggi karena persediaan di pasar pun sudah makin menipis.

Pantauan Batam Pos di Pasar Tiban Cipta Puri, harga cabe tetap bertahan di angka yang tinggi mulai dari Rp 80 ribu hingga Rp 140 ribu.”Cabe setan paling mahal. Harganya sekitar Rp 140 ribu perkilonya,” ungkap pedagang disana, Iman.

Menurut Iman, tingginya harga cabe disebabkan persediaannya yang mulai menipis di pasaran. Sedangkan tingkat permintaan tetap tinggi.

Menanggapi hal ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Gusti Raizal Eka Putera mengatakan tim TPID akan mengupayakan sejumlah tindakan untuk mencegah agar inflasi tidak bertambah tinggi lagi.

Cara-cara tersebut antara lain adalah melakukan pemantauan harga dan distribusi barang, kemudian mengupayakan ketersediaan dan keterjangkauan harga, menjaga ekspektasi harga, dan mengintervensi pemerintah daerah (Pemda) terkait pengendalian tarif angkutan, elpiji, dan listrik.

“Melakukan sidak pasar untuk mengawasi pasokan dan harga terhadap kebutuhan pokok masyarakat di pasar utama. Tujuannya adalah untuk menghindari adanya kenaikan harga sepihak yang dilakukan pengusaha,” ujarnya.(leo).

Respon Anda?

komentar