Pemandangan dari udara Waduk Duriangkang.
Foto/ATB/Benny Andrianto

Pembaca batampos.co.id yang budiman, ketahuilah sesungguhnya ATB juga mengelola Wastewater atau limbah air yang terbuang dari proses produksi Duriangkang.

Dari wastewater ini, menghasilkan dua jenis limbah. Diantaranya limbah lumpur dan air. Limbah air inilah yang kemudian di olah kembali menjadi air bersih.

“Setiap harinya, setidaknya ada 5 persen air yang terbuang dari produksi Dam Duriangkang (2.000 liter per detik) atau kurang lebih 80 hingga 100 liter per detik yang terdiri dari air. Sehingga ada 6.912 m3/hari limbah (air) yang kemudian di olah kembali menjadi air bersih. Jika dikalikan dalam satu bulan, maka akan menghasilkan 207.360 m3 air bersih yang berasal dari wastewater tersebut. Inilah yang dilakukan ATB dalam membantu penghematan air baku,” terang Enriqo Moreno, Corporate Communication Manager ATB..

Enriqo sangat berharap, Rationing tidak sampai terjadi, tapi ATB berkewajiban mengingatkan kemungkinan buruk ini bisa saja terjadi apabila tidak ada perubahan cuaca dan pola konsumsi dari masyarakat.

“Untuk itu, mari kita berharap agar curah hujan bisa tetap melebihi rata rata selama beberapa bulan kedepan. Selain itu pola konsumsi hemat  dalam menggunakan air juga sangat dibutuhkan  dalam memperpanjang ketahanan Dam Duriangkang, gunakanlah air deperlunya bukan secukupnya” himbaunya.

Selain perubahan curah hujan dan pola hemat air yang dilakukan masyarakat, maka cara lain yang dapat membantu memecahkan masalah ini adalah dengan tambahan sumber air baku baru seperti dari Waduk Tembesi.

“Semua pihak harus menyadari pentingnya masalah krisis air baku di Batam ini, ATB sudah melakukannya dengan cara menekan kebocoran dan memanfaatkan limbah air di produksi, masyarakat dengan pola konsumsi hemat air, dan pemerintah dengan menyediakan sumber air baku yang baru seperti dam Tembesi,”pungkasnya.

Oleh karena itu, Batam membutuhkan sumber air baku baru. Satu-satunya waduk yang bisa diharapkan untuk mengatasi penyusutan waduk yang ada di Batam adalah Waduk Tembesi.

Waduk bervolume 5,166,400 m3 ini merupakan waduk keenam yang dibangun oleh BP Batam dengan cara membendung laut, sehingga butuh proses menghilangkan kadar garam dalam air untuk mendapatkan air yang dapat dikonsumsi (desalinasi). Dan akan segera bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kapasitas Waduk Tembesi diperkirakan akan mencapai 600 liter per detik dan akan dialirkan dengan jaringan pipa air bersih yang telah dibangun sebelumnya.

Dengan beroperasinya Tembesi, diharapkan akan mampu memproduksi air bersih lebih maksimal lagi untuk menyuplai kebutuhan masyarakat.

Tembesi merupakan Waduk terakhir yang dibangun oleh BP Batam, mengingat keterbatasan lahan masih menjadi kendala.

Setiap waduk juga membutuhkan daerah resapan air yang cukup luas, berupa hutan lindung, hutan wisata atau hutan jenis lainnya. Produksi air bersih dari waduk ini diproyeksikan masih bisa untuk melayani kebutuhan Batam hingga 2016. (*)
 

Respon Anda?

komentar