Afis mendemonstrasikan buzzer untuk memanggil ikan di kolam Untag. Salah satu fitur pada alat Fish Finder itu mampu memanggil ikan agar mendekat dengan alat ciptaan Afis. (Antin Irsanti/Jawa Pos/JawaPos.com)

batampos.co.id – Nelayan Kepri bisa memenfaatkan teknologi pencari ikan ini agar mendapatan hasil optimal.

Mahasiswa semester VII jurusan Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Afis Sabi Masrury, membuat Sabi Fish Finder sebagai tugas akhir. Sistem alat tersebut tersambung dengan perangkat smartphone Android sebagai pengendali.

’’Sekarang semua orang sudah pakai smartphone, jadi tidak sulit untuk mengoperasikannya,’’ kata Afis, Selasa (31/1).

Pemuda asal Situbondo itu mengungkapkan, alat fish finder sebenarnya banyak ditemukan di pasaran. Namun, teknologi tersebut belum banyak dimanfaatkan nelayan-nelayan kecil. Sebab, harganya cukup mahal.

Afis menjelaskan, fish finder buatannya dilengkapi Arduino yang berbasis Android. Alat berwarna hitam itu berisi kamera standar, sensor sonar single beam, dan buzzer 5 volt dengan frekuensi 500–1.000 Hz. Sistem kendalinya menggunakan aplikasi Android melalui bluetooth.

’’Sebisa mungkin saya buat tanpa memakai kuota internet agar tidak keluar biaya tambahan,’’ katanya.

Alat tersebut dipasang di kapal nelayan. Sensor single beam membaca keberadaan ikan di dekatnya. Melalui kamera, nelayan bisa mengetahui benda yang tertangkap sensor sonar itu benar-benar ikan atau bukan. Jika belum ada tanda-tanda ikan di dekatnya, buzzer bisa dinyalakan untuk memanggil ikan.

’’Jarak gelombangnya mencapai 2–3 meter,’’ tambahnya.

Sementara itu, pemanfaatan smartphone bisa menggantikan posisi GPS Garmin dalam membaca hasil sensor fish finder. Hasil pembacaan sensor yang biasanya ditampilkan secara digital dengan GPS Garmin akan digantikan smartphone.

Menurut Afis, alat tersebut sudah diuji coba di dua lokasi. Yakni, tambak dan danau sekitar Surabaya. Jarak pantau maksimal Sabi Fish Finder 30 sentimeter sampai 3 meter. Adapun jarak antara perangkat pelacak dan smartphone tidak lebih dari 10 meter.

Alat buatan Afis itu cukup murah. Pembuatannya menghabiskan anggaran Rp 400 ribu. Karena itu, dia berharap harga alat tersebut lebih terjangkau sehingga kegunaannya bisa dirasakan para nelayan kecil Nusantara. Dengan begitu, penghasilan mereka dapat bertambah.

Afis tidak menampik bahwa alat buatannya masih butuh banyak penyempurnaan. Salah satunya mengganti sensor sonar single beam dengan multibeam. Tujuannya, jangkauan deteksi ikan di dalam perairan bisa lebih luas. Bungsu dua bersaudara itu juga berencana mengganti kamera standar dengan kamera infrared. Dengan begitu, jarak pandangnya lebih tajam.

’’Harapannya, alat ini bisa membantu nelayan untuk menambah pendapatan,’’ paparnya. (ant/c15/fal/sep/JPG)

Respon Anda?

komentar