ilustrasi

Karin, 52, menggugat cerai suaminya, Donwori, 59.

Perceraian itu ialah bentuk tantangan pada kedua anaknya yang dinilainya nakal.

Karin dan Donwori membawa kedua anaknya ke Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Jumat (3/2).

Dengan raut wajah marah dan sedih, Karin mengaku akan berpisah dengan ayah mereka.

Ibu iki nelangsa. Isin nak,” kata Karin menangis.

Terlihat sangat emosi, Karin pun langsung masuk untuk mengambil formulir gugatan cerainya. Kedua anaknya hanya melongo.

Tampaknya kedua anak Karin memang sudah mati rasa. Mereka tidak melakukan penolakan terhadap ancaman Karin yang ingin menceraikan suaminya, Donwori.

Proses pun berjalan. Donwori membiarkan istrinya mendaftarkan gugatan cerai.

Ketika mengisi formulir gugatan cerai, Karin menceritakan kisah kehidupannya yang penuh liku. Dulu, ia hanyalah anak yatim piatu.

Hidup bersama neneknya yang menjual jamu. Hingga akhirnya ia meneruskan jualan jamu.

Merasa sangat sedih tak punya orang tua, Karin pun sangat menyayangi kedua anaknya.

Karin dan suaminya berjualan jamu pagi sampai siang dengan keliling wilayah Kenjeran. Malamnya, ia membuka gerai di depan gang rumahnya di kawasan Kali Kedinding Surabaya.

Ternyata kesibukannya bekerja membuat anaknya terpengaruh lingkungan.

”Saya ndak tahu, anak pertama saya nakal begitu. Kalau malam dijemput om-om. Sering saya kunci di rumah tapi tetap bisa lari. Saya sampai kehabisan akal dan hanya bisa berdoa,” jelasnya.

Sedangkan putra keduanya menikah muda karena menghamili tetangganya. Lulus SMA, anak keduanya kerja sebagai sales.

Namun, setelah menikah justru dia tak mau bekerja. Ia hanya tidur di rumah mertuanya yang bersebelahan dengan rumahnya.

”Saya itu dilabrak terus sama besan. Sudah saya marahi, tapi saya dan suami enggak bisa berbuat apa-apa,” jelasnya.

Begitu pula dengan Donwori. Ia hanya menangis. Donwori merasa kemarahannya sudah habis buat anak-anaknya.

Donwori hanya bisa pasrah dengan rumah tangganya yang sudah diujung tanduk.

”Saya akan ngontrak. Saya tidak kuat melihat anak wanita saya ditiduri orang tiap hari, malu juga punya anak lanang malas,” akunya.

Sementara itu, kedua anaknya justru tidak memperhatikan kedua orang tuanya yang akan bercerai gara-gara mereka.

Biarin aja. Lha wong wis pada tuek,” ujar putrinya cuek, sebut saja Sephia, 22. (Umi Hany Akasah – Radar Surabaya/no/jpg)

Respon Anda?

komentar