Manajer ARFF Bandara Soetta Agus Maulana (kiri) bersama sebagian personel tim Salvage di depan pesawat latih evakuasi Kamis (9/2). (Bayu Putra//Jawa Pos)

batampos.co.id – Pasti pernah dengar kabar pesawat tergelincir. Sekarang mari kita kenalan dengan tim Salvage Bandara Soekarno-Hatta. Tim ini ialah satu-satunya pasukan khusus untuk mengevakuasi pesawat yang tergelincir.

Insiden di Bandara Djalaluddin, Gorontalo, pada 6 Agustus 2013 tidak akan pernah dilupakan oleh Sadino. Tergelincirnya pesawat Lion Air JT 892 gara-gara menabrak sapi di landasan pacu tersebut membuat dia harus terbang ke Sulawesi Utara hari itu juga. Padahal, saat itu dua hari menjelang Idul Fitri. Rencana merayakan Lebaran bersama keluarga pun pupus.

”Kami sempat lupa kalau mau Lebaran. Baru waktu dengar takbir malamnya, kami ingat, oh besok Lebaran,” kenang Sadino saat ditemui di kantor Airport Rescue and Firefighting (ARFF) Bandara Soekarno-Hatta Kamis lalu (9/2).

Kejadian itu merupakan salah satu di antara sekian insiden pesawat tergelincir yang ditangani tim Salvage. Sejak dibentuk pada 1995, tim tersebut sudah menangani lebih dari 20 insiden pesawat tergelincir. Tugas tim itu adalah mengevakuasi pesawat dari lokasi pendaratan yang melebihi runway ke tempat yang telah ditentukan.

Bukan hal mudah memindahkan burung besi berbobot 30–40 ton dari lokasi tergelincir. Namun, dengan pengalaman plus peralatan yang dimiliki, tim Salvage mampu mengevakuasi dalam waktu rata-rata kurang dari enam jam. Kemampuan itulah yang membuat tim tersebut dipercaya untuk menangani berbagai insiden.

Manajer ARFF Bandara Soetta Agus Maulana menuturkan, tim Salvage beranggota 48 personel. Umumnya, dalam satu insiden, ada 10–12 orang yang diterjunkan.

”Mereka ini kami rekrut dari tim rescue Bandara Soekarno-Hatta yang sudah senior,” tuturnya.

Standarnya bukan senior dalam hal usia, melainkan pengalaman, jam terbang, dan militansi. Mereka juga merupakan anggota yang paling disiplin di tim rescue bandara.

Tim Salvage merupakan bagian dari Divisi Security, Rescue & Firefighting (SRFF) Bandara Soekarno-Hatta. Sehari-hari, bila tidak sedang diterjunkan dalam tugas, anggota tim Salvage kembali ke satuan masing-masing di SRFF.

Untuk masuk tim Salvage, mereka harus menjalani latihan khusus terlebih dahulu. Mereka setidaknya harus menjalani pendidikan dan pelatihan (diklat) selama satu bulan.

Ada beberapa pesawat tergelincir yang dievakuasi tim Salvage. Antara lain pesawat Adam Air di Bandara Hang Nadim Batam pada 2004, kemudian Lion Air di bandara yang sama pada 2009.

Ada pula pesawat Sriwijaya Air di Bandara Soetta dan Batik Air di Bandara Adisutjipto pada 2015. Yang terbaru, pesawat Garuda Indonesia di Bandara Adisutjipto 1 Februari lalu. Pesawat terbesar yang pernah ditangani tim Salvage adalah Boeing 737-900.

Apa saja yang dilakukan tim tersebut? Sunyoto, kepala Dinas Building Fire Protection ARFF yang juga anggota senior di tim Salvage, menjelaskan bahwa timnya bekerja dengan sangat hati-hati. Sebelum memulai penanganan, selalu ada rapat dengan seluruh pihak terkait untuk memutuskan metode yang akan digunakan.

Tim Salvage tiba di lokasi, lalu melakukan assessment di TKP berdasar kondisi pesawat. Tim memperkirakan tingkat kerusakan, kemudian menganalisis beberapa alternatif metode evakuasi. Juga menganalisis jalur evakuasi terbaik ke titik yang telah ditentukan.

”Setelah itu, saya rapat dengan KNKT, maskapai, bandara, dan lain-lain, sementara anggota saya menyiapkan peralatan,” tuturnya.

Setelah metode evakuasi disepakati, barulah tim mulai bekerja. Kunci utamanya adalah ketepatan dan kecepatan. Kerja tim tidak boleh keliru. Jangan sampai timbul kerusakan baru pada pesawat saat proses evakuasi. Kemudian, tim juga diburu waktu karena beberapa kejadian membuat bandara harus ditutup.

Agus menambahkan, kecepatan kerja tim tidak hanya ditentukan oleh pengalaman. Tapi juga ketersediaan peralatan pendukung. Ketika berangkat, tim Salvage biasa membawa beberapa peralatan seperti airbag inflatable untuk kelas 40 ton. Kemudian, ada air control system, sling, hingga tali (rope). Tidak lupa track atau landasan portabel untuk media menarik pesawat.

”Ukuran masing-masing 2×1 meter dengan berat 72 kilogram. Kami punya 47 buah,” urainya.

Salah satu metode evakuasi, misalnya, badan pesawat diangkat terlebih dahulu dengan airbag, lalu di bawah roda dipasangi track. Setelah itu, barulah pesawat bisa ditarik.

Peralatan-peralatan itu diterbangkan dari Bandara Soekarno-Hatta bersama dengan para anggota tim.

”Kalau bandara masih bisa beroperasi, kami mendarat di bandara TKP. Tapi, kalau ditutup, kami divert,” tutur Agus.

Peralatan didaratkan di bandara terdekat, lalu dibawa melalui jalur darat. Meskipun demikian, harus tetap ada peralatan pendukung di tiap daerah bila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Hanya, setiap insiden memiliki tantangan yang berbeda. Sunyoto, anggota lain tim itu, pernah terlibat penanganan insiden pesawat Kalstar di Bandara El Tari, Kupang, pada Desember 2015. Karena peralatan pendukung dari daerah sulit didapatkan, munculah ide kreatif.

Kebetulan, roda pesawat bagian kanan patah. Akhirnya, dibuatlah rel darurat agar badan pesawat tetap bisa ditarik tanpa roda.

”Itu evakuasi paling lama. Kami butuh waktu seminggu,” tutur ayah empat anak tersebut.

Lain lagi dengan yang terjadi di Gorontalo. Ketika akhirnya pesawat berhasil dikeluarkan dari TKP, traktor yang akan digunakan untuk menarik pesawat tidak mampu.

”Jadi, dibantu pakai tenaga orang. Ada mungkin 200 orang, sampai kapten dan kopilot ikut mendorong,” timpal Sadino, lantas tertawa.

Pengalaman dan kreativitas itu pada akhirnya membuat tim Salvage dipercaya untuk menangani berbagai macam insiden.

Meskipun demikian, tidak jarang para pihak terkait terkecoh dengan penampilan para anggota tim Salvage. Bagaimana tidak, badan para anggota tim itu tidak bisa dikatakan gagah layaknya pasukan khusus TNI. Bahkan, sebagian di antara mereka kurus seperti Sunyoto dan Sadino.

Ketika mereka tiba, tidak jarang pihak bandara atau petugas maskapai yang belum mengenal mengernyitkan dahi.

”Kok badannya kecil-kecil,” ucap Sunyoto, lantas terkekeh.

Mereka baru percaya setelah ditunjukkan lisensi yang dimiliki tim Salvage.

Lisensi itu memang menjadi syarat utama tim Salvage. Tidak semua anggota tim ARFF Bandara Soetta bisa menjadi anggota tim Salvage. Anggota tim Salvage yang lulus diklat akan mendapatkan lisensi dari Kemenhub. Lisensi itulah yang menandakan bahwa mereka memiliki kualifikasi untuk menangani insiden pesawat tergelincir.

Selama satu bulan, para anggota tim Salvage dibekali berbagai pengetahuan dan simulasi penanganan pesawat tergelincir. Mulai pengenalan jenis pesawat, penentuan posisi, pemindahan pesawat, hingga beberapa ilmu lain. Namun, tidak jarang di lapangan tim mendapati sesuatu yang benar-benar berbeda. Di situlah pengalaman yang berbicara.

Sebagai gambaran, hampir separo anggota tim Salvage berusia 40–55 tahun. Selebihnya 40 tahun ke bawah. Usia tidak pernah menjadi kendala karena selama ini tim tersebut mengandalkan pengetahuan, pengalaman, dan tentu saja militansi tim rescue.

Menjadi bagian tim Salvage berarti siap menantang risiko. Sadino menuturkan, saat awal-awal tim tersebut terbentuk, nyawanya hampir terancam karena sling yang digunakan untuk menarik pesawat putus. Padahal, dia berada di jalur sling itu.

”Waktu itu saya lihat sling ada tanda-tanda akan putus. Langsung saya lari, menghindar sejauh-jauhnya sebelum benar-benar putus,” tuturnya.

Sejak itu, personel selalu mengambil posisi berlawanan dari jalur sling.

Risiko lain adalah kehilangan waktu bersama keluarga secara mendadak. Sebagaimana tim rescue pada umumnya, para anggota tim Salvage harus siap jika sewaktu-waktu ada tugas. Bahkan bila harus berangkat tengah malam atau saat jadwal libur.

Bila sudah begitu, keluarga pun harus siap ditinggal untuk sementara.

”Pernah istri saya tanya, ’Harus malam ini ya, nggak bisa menunggu besok?’” kenang ayah tiga anak itu.

Namun, akhirnya keluarga juga bisa memahami. Bahkan, istri Sadino kini langsung tanggap dengan menyiapkan keperluannya bila mendadak ada panggilan.

Lain lagi ceritanya bila panggilan tugas itu datang saat jam dinas. Tidak ada lagi waktu pulang untuk menyiapkan bekal. Beberapa kali Sadino berangkat hanya bermodal baju dinas yang melekat di badan.

”Bisa dibayangkan beberapa hari tidak ganti baju, tidak ganti dalaman,” ucapnya, lantas tertawa.

Ke depan, tim Salvage memiliki rencana untuk berlatih bersama tim serupa yang dimiliki PT Angkasa Pura I di Bandara Juanda. Dengan begitu, akan semakin banyak petugas yang memiliki kemampuan evakuasi dengan cepat dan tepat.

(bayu putera/c11/ang/sep/JPG)

Respon Anda?

komentar