Endang Rahayu Pujo, Perintis Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Berkebutuhan Khusus

Pendiri Rumah Kampus, Endang Rahayu (tengah) saat mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di Rumah Kampus, Jakarta, Senin (13/2/2017).-
Foto: Imam Husein/Jawa Pos

Rumah di mulut Jalan Kelapa Mas, Utan Kayu, Jakarta Timur, itu kini berubah fungsi. Tak lagi sebagai rumah biasa, melainkan telah disulap menjadi tempat perkuliahan. Namanya Rumah Kampus. Yang istimewa, mahasiswanya berkebutuhan khusus.

Ya, Rumah Kampus adalah perguruan tinggi yang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendirinya Endang Rahayu Pujo, sang pemilik rumah. Endang memilih nama Rumah Kampus karena ingin menghadirkan suasana kampus di dalam rumah. Tapi, seperti di kampus umum, istilah-istilah pendidikan tinggi tetap digunakan di Rumah Kampus. Misalnya, dosen, mahasiswa, mata kuliah, ujian semester, sampai praktik kerja lapangan (PKL).

Perempuan kelahiran Rangkasbitung, Lebak, Banten, 11 Maret 1957, tersebut menjelaskan, Rumah Kampus didirikan pada 4 Maret 2008. Kampus itu dia dirikan berdasar pengalamannya sebagai ibu yang sulit mencarikan perguruan tinggi bagi anaknya yang berkebutuhan khusus.

Anak kedua Endang, Bagus Angger Putranto, sejak kecil memang mempunyai kelainan. Hanya, diagnosis beberapa dokter yang ditemui berbeda-beda. Ada dokter yang mendiagnosis down syndrome, ada juga yang menyebut autis.

’’Anak saya motoriknya susah. Tapi, dia bisa membaca. Dokter bilang waiting for the miracle,’’ kenangnya ketika ditemui Senin (13/2).

Kala itu Endang cukup sulit mencarikan SD yang cocok buat Bagus. Pendidikan di SLB dinilai tidak maksimal. Sebab, anak-anak berkebutuhan khusus di SLB cenderung dibiarkan dan disuguhi materi keterampilan hidup. Padahal, bagi Endang, anak berkebutuhan khusus juga perlu ’’dipaksa’’ untuk melahap kemampuan membaca, menulis, serta berhitung.

’’Tentu dipaksa dalam hal yang positif,’’ jelasnya.

Akhirnya, Angger dimasukkan ke sekolah umum sampai SMA, tapi mendapat pendampingan khusus. Dia juga dikursuskan bahasa Inggris. Kemudian, selulus SMA, pemuda kelahiran 1987 itu menyatakan keinginannya untuk kuliah, seperti kakaknya yang bernama Novilia Purnama Putri. Namun, setelah berkeliling Jakarta sampai Bogor, Endang tidak menemukan satu pun perguruan tinggi yang bersedia menerima anaknya yang berkebutuhan khusus sebagai mahasiswa.

Dari pengalaman itulah, Endang terpikir untuk mendirikan perguruan tinggi khusus bagi anak berkebutuhan khusus. Maka lahirlah Rumah Kampus hasil kerja sama dengan program diploma IPB pada 2008. Pada awal-awal berdiri, programnya seperti kursus kecakapan yang berdurasi satu tahun.

Meski sudah sembilan tahun beroperasi, Rumah Kampus baru mewisuda lulusan pertama pada 3 September 2016. Upacara wisuda dilakukan secara resmi di kampus program diploma IPB Bogor.

Di antara delapan mahasiswa tingkat akhir, ada empat orang yang diwisuda untuk diploma satu (D-1) saat itu. Sisa dari angkatan pertama yang belum diwisuda bakal diwisuda bulan depan. Sementara itu, 25 mahasiswa yang masih mengikuti kuliah saat ini digenjot supaya bisa lulus akhir tahun nanti.

Tantangan dalam menyelenggarakan pembelajaran untuk anak-anak berkebutuhan khusus adalah menghadapi respons masyarakat. Endang menjelaskan, masyarakat umum kebanyakan belum yakin atas kemampuan anak berkebutuhan khusus.

’’Memang, mereka ini diajari, lalu tumplek (roboh, Red). Diajari lagi, tumplek lagi,’’ tutur istri Pujo Cahyono tersebut.

Tantangan lain adalah membangkitkan semangat belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Sebab, selama hidup mereka, anak-anak itu mendapat perlakuan yang berbeda dari masyarakat sekitar. Menyadari hal itu, Endang pun mengkhususkan diri menjadi dosen spesialis menumbuhkan kepercayaan diri para mahasiswa. Program penumbuhan kepercayaan diri tersebut bisa berjalan sampai 1,5 tahun.

Kepada para mahasiswanya, Endang selalu menanamkan keyakinan bahwa Tuhan tidak melabeli manusia dengan label berkebutuhan khusus atau tidak. Di mata Tuhan, orang yang berkebutuhan khusus atau tidak adalah sama.

’’Ini fondasi dasarnya agar mereka punya kepercayaan diri yang kuat untuk belajar.’’

Menurut Endang, Rumah Kampus merupakan wahana untuk mencari bekal usaha tanpa pendampingan. Karena itu, para alumnus diharapkan bisa hidup mandiri setelah mentas dari Rumah Kampus. Mereka bisa bekerja di dunia kerja yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

’’Pada dasarnya, mereka ini jujur-jujur. Tidak ada yang punya perasaan jelek,’’ tutur Endang yang kini dibantu Bagus dalam menjalankan Rumah Kampus.

Rumah Kampus di rumah Endang menyulap dua ruangan menjadi dua ruang kuliah. Unit kelas yang pertama menggunakan ruang tamu. Unit kelas kedua memakai ruang keluarga yang kemudian dilengkapi papan tulis.

Untuk perkuliahan, ada sepuluh dosen yang bertugas mendampingi para mahasiswa. Salah satunya Hermi Mugiasih yang mengampu mata kuliah bahasa Indonesia. ’’Materi pelajarannya kami ambil yang paling dasar. Tidak bisa disamakan dengan materi pelajaran kuliah pada umumnya,’’ kata perempuan 48 tahun itu.

Dia mencontohkan materi bahasa Indonesia yang diajarkan seperti menyusun subjek, predikat, objek, dan keterangan (SPOK). Selain itu, ada permainan mengacak kata, kemudian dirangkai lagi menjadi satu kalimat. Mugi juga sering memberikan tugas rumah. Misalnya, merangkum berita yang disiarkan di TV.

Mugi menyatakan, membimbing belajar anak-anak di Rumah Kampus membutuhkan kesabaran yang tinggi. Kesabaran sangat dibutuhkan karena setiap anak memiliki daya tangkap yang berbeda-beda. Ada yang lumayan cepat nyambung dan mengerti, tetapi banyak pula yang harus diajari berkali-kali.

Kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, khususnya tunagrahita, Mugi berpesan, jangan pernah memiliki rasa penyesalan. Selain itu, jangan gampang memaklumi anak-anak berkebutuhan khusus dalam belajar.

’’Jangan dikit-dikit kalau anak tidak bisa, orang tuanya merasa maklum karena berkebutuhan khusus. Sebab, sikap gampang memaklumi inilah yang tidak mendukung perkembangan kemampuan anak,’’ tandas dia.

Wartawan koran ini sempat mengikuti perkuliahan yang berlangsung mengasyikkan. Mata kuliah yang diajarkan cukup ’’horor’’ di mata para mahasiswa, yakni matematika.

’’Ayo Rizki, 50 dikali 10 berapa?’’ tanya Endang kepada Muhammad Rizki, 27, salah seorang mahasiswa.

Jawaban bilangan perkalian itu sejatinya cukup mudah. Apalagi bagi mahasiswa sepantaran Rizki. Namun, karena pemuda asal Serang, Banten, itu mengalami keterlambatan berpikir (tunagrahita), dia membutuhkan beberapa saat untuk menjawabnya.

’’Enam puluh, Bu,’’ jawab Rizki setelah beberapa saat berpikir.

Lantaran masih salah, dia diingatkan untuk menghitungnya lagi. Rizki pun kembali berpikir. Sesaat kemudian, dia menjawab 500.

’’Nah, itu yang betul, Riz,’’ ujar Endang.

Dengan penuh ketelatenan dan senyum, Endang menjelaskan kembali bahwa 50 dikali 10 sama dengan 500. ’’Nolnya ditambah satu di belakang. Kalau 60, itu hasil dari 50 ditambah 10,’’ jelasnya.

Rizki mengaku cukup senang belajar di Rumah Kampus. Perkuliahan dilaksanakan setiap Senin, Kamis, dan Jumat. Setiap hari dia naik angkutan dari Serang ke Jakarta. ’’Senang kuliah di sini,’’ ujar Rizki, lantas tersenyum.

Saat ini Rumah Kampus memiliki 25 mahasiswa. Mereka terbagi dalam dua kelas. Yakni, kelas perikanan dan kelas jaminan mutu pangan (JMP). Penyelenggaraan perkuliahan bekerja sama dengan Program Diploma Institut Pertanian Bogor (IPB).

Di antara 25 mahasiwa itu, sebagian besar adalah tunagrahita yang ber-IQ rendah. Sebagian di antara mereka sebenarnya ingin kuliah di kampus negeri. Ada yang pernah melamar ke Universitas Indonesia, tapi ditolak. Sebab, meski kampus ’’jaket kuning’’ itu menerima anak-anak berkebutuhan khusus, IQ mereka harus tinggi.

Walaupun kebanyakan mahasiswa di Rumah Kampus penyandang tunagrahita, ada yang berprestasi internasional. Di antaranya, Rahma Hadayani, mahasiswa asal Kemayoran, Jakarta. Bungsu dua bersaudara itu memiliki bakat bermain bulu tangkis.

Mahasiswa jurusan JMP tersebut meraih dua medali emas (tunggal dan ganda putri) dalam Special Olympic Asia Pacific Games di Australia pada 2013. Di final, Rahma mengalahkan wakil dari India dan Korea.

’’Saya juga mendapatkan medali perak untuk ganda campuran dengan wakil Thailand,’’ terangnya.

Rahma mengulang prestasi pada Special Olympic Games di Los Angeles, AS, 2015. Dia meraih satu medali emas untuk tunggal bulu tangkis. Dia mengalahkan wakil Italia. Selain itu, Rahma mendapat satu medali perunggu dari ganda putri. Special Olympic adalah ajang perlombaan olahraga multicabang khusus untuk anak-anak penyandang tunagrahita.

Sebelum kuliah di Rumah Kampus, Rahma masuk dalam pemusatan latihan Special Olympic Indonesia (Soina). Soina adalah organisasi yang diakui Special Olympic Internasional (SOI) untuk menggelar pelatihan dan kompetisi olahraga penyandang tunagrahita. (M. HILMI SETIAWAN, Jakarta/c5/ari)

Respon Anda?

komentar