Maryam Zakiyah, Gadis Indonesia, Orator World Hijab Day di New York

Maryam Zakiyah, saat berorasi pada peringatan World Hijab Day di New York City pada 1 Februari 2017, lalu.
foto: facebook shamsi ali

batampos.co.id – Mari kita berkenalan Maryam Zakiyah, putri tokoh Islam Shamsi Ali.

Ia terlibat dalam peringatan World Hijab Day di New York City pada 1 Februari 2017, lalu.

Lahir di Peshawar, Pakistan, pada 19 Oktober 1993, Maryam menetap di Amerika Serikat ketika berusia 4 tahun. Meski menjadi warga minoritas, dia merasa bisa beribadah dengan bebas dan nyaman.

’’Memang, ada beberapa kali kasus kekerasan kepada muslim. Tapi, itu bukan wajah Amerika yang sesungguhnya,’’ papar sulung di antara enam bersaudara pasangan Shamsi Ali dengan Muthiah Malik tersebut melalui sambungan telepon.

Maryam menyebutkan, jumlah penduduk muslim di New York sekitar satu juta jiwa atau 10 persen dari populasi penduduk kota tersebut. Meski begitu, suasana berpuasa dan Idul Fitri terasa semarak. Maryam dan keluarga tinggal di dekat Jamaica Muslim Center, gedung komunitas muslim terbesar di Kota New York.

’’Saat Idul Fitri dan Idul Adha sangat ramai hingga puluhan ribu orang yang ikut berjamaah,’’ ungkapnya.

Ketika Presiden Donald Trump mengeluarkan kebijakan imigrasi Muslim Ban untuk tujuh negara, menurut Maryam, hal itu berdampak luas. Bukan hanya kepada masyarakat muslim, tetapi juga AS.

Dengan kebijakan yang diskriminatif tersebut, wajah Amerika tercoreng.

Banyak warga AS yang menentang kebijakan itu. Demo terjadi di mana-mana. Hingga akhirnya, hakim agung Mahkamah Federal AS menangguhkan larangan tersebut.

’’Kebijakan itu tidak sesuai dengan karakter AS yang saya kenal. Yang saya tahu, AS sangat toleran, menjunjung kebebasan beragama dan keadilan kepada semua. Saya melihat kebijakan itu merugikan AS sendiri,’’ ujar Maryam.

Pada World Hijab Day di New York City Hall, Maryam diminta menjadi orator oleh sang ayah yang menjabat presiden Nusantara Foundation dan pernah menjadi imam di Islamic Cultural Center of New York selama 10 tahun tersebut. Maryam datang mewakili perempuan muslim Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia.

Itulah peringatan kelima Hari Hijab Sedunia saat perempuan dari beragam latar belakang menunjukkan solidaritas terhadap perempuan muslim.

’’Di balik kebencian dan ketakutan yang ditujukan kepada muslim, kebijakan Muslim Ban menciptakan persatuan dan cinta dari seluruh masyarakat Amerika. Saya merasa bangga sebagai perempuan muslim yang mengenakan hijab. Tidak ada seorang pun yang bisa memengaruhi keputusan kita dalam berpenampilan untuk memenuhi kewajiban kita terhadap Tuhan,’’ jelas Maryam di hadapan audiens di New York City Hall.

Maryam bersyukur tidak pernah mengalami perlakuan berbeda atau hal buruk sebagai muslim di AS. Baik sebelum maupun setelah Trump menjadi presiden.

’’Tapi, saya tahu ada perempuan muslim yang mengalaminya,’’ ucapnya.

Setelah lulus kuliah S-1 Jurusan Bisnis Internasional Baruch College, New York, Maryam sempat bekerja di sebuah perusahaan di Wall Street. Namun, hanya dua bulan.

’’Menuntut waktu yang banyak sampai saya tidak bisa melakukan kegiatan lain. Hidup bukan hanya untuk bekerja dan mencari duit,’’ tuturnya.

Kini Maryam aktif di Nusantara Foundation yang didirikan sang ayah yang juga direktur Jamaica Muslim Center tersebut. Yayasan itu pun bergerak di bidang dakwah. Maryam ingin berdakwah memperkenalkan Islam yang ramah dan bersahabat.

’’Misi saya adalah memerangi persepsi yang salah tentang Islam,’’ terangnya. (nor/c14/ayi/tia)

Respon Anda?

komentar