Tujuh Jurus Inisiatif Pembangunan ala OJK

Bagian dalam kantor OJK. Foto: jawapos

batampos.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Kepri merumuskan beberapa program untuk memperkuat fondasi ekonomi Kepri. Ada beberapa fokus yang akan digarap OJK Kepri guna meningkatkan stabilitas ekonomi di wilayah perbatasan ini.

Kepala OJK Kepri, Uzersyah, mengatakan fokus pertama adalah bagaimana peran sektor jasa keuangan dapat lebih kontributif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. “Serta meningkatkan daya beli masyarakat dan sekaligus mendorong distribusi pendapatan yang lebih merata,” kata Uzersyah, Kamis (16/2).

Kedua, kata Uzersyah, bagaimana kontribusi sektor jasa keuangan dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan ketahanan dan stabilitas sistem keuangan.

Melalui kedua aspek ini, pihaknya yakin akan menjadi kunci bagi Kepri untuk mengarungi 2017 dan juga tahun-tahun ke depan. Selain itu, peran ekonomi domestik perlu diperkuat untuk mengantisipasi lambatnya pemulihan global. Penyebaran sentra pertumbuhan juga perlu dipercepat agar hasil pembangunan dapat dinikmati secara lebih merata.

“Inisiatif-inisiatif yang kami susun diharapkan juga dapat memperluas akses keuangan oleh seluruh kalangan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, ketahanan dan stabilitas sistem keuangan mutlak diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan terhadap prospek dan fundamental ekonomi Kepri.

“Untuk itu, kami telah menyiapkan tujuh inisiatif,” ucapnya.

Pertama, OJK akan lebih mengoptimalkan lagi beberapa program kerja yang telah digagas bersama industri jasa keuangan, pemerintah, dan Bank Indonesia (BI). Di antaranya program Laku Pandai, program Simpanan Pelajar, program Jaring, asuransi pertanian dan ternak, asuransi nelayan, dan penjaminan kredit UMKM, pengaturan pegadaian swasta, revitalisasi modal ventura, serta program pembiayaan yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan lainnya.

Kedua, OJK bersama dengan pemerintah dan pihak terkait lainnya akan menyempurnakan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar penyalurannya lebih terarah dan efektif. Selama ini, KUR lebih banyak disalurkan untuk sektor perdagangan sebesar 66,8 persen dan sebarannya juga masih terfokus di Pulau Jawa.

“Kami akan memperluas lembaga jasa keuangan yang dapat menyalurkan KUR, serta meminta lembaga jasa keuangan penyalur KUR untuk lebih fokus pada sektor-sektor produktif dan daerah-daerah potensial di luar Pulau Jawa,” jelasnya.

Ketiga, OJK akan memperluas dan lebih mengoptimalkan lagi peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang telah terbentuk. Saat ini telah dibentuk 45 TPAKD di seluruh Indonesia, baik di tingkat kabupaten kota maupun provinsi.

“Tahun ini kami menargetkan akan meresmikan 41 TPAKD, 6 TPAKD di tingkat provinsi dan 35 TPAKD di tingkat kabupaten kota,” harapnya.

Keempat, OJK juga melihat bahwa perluasan akses keuangan masyarakat dapat lebih diakselerasi dengan memanfaatkan model pembiayaan melalui financial technology (Fintech).

“Dengan Fintech, akan terisi ruang yang selama ini belum tersentuh oleh lembaga keuangan formal,” ujarnya.

Di akhir tahun lalu, OJK telah menerbitkan ketentuan yang mengatur tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi atau peer-to-peer lending.

“Tujuan dari pengaturan ini adalah agar industri Fintech dapat bertumbuh dengan tetap memberikan perlindungan bagi para pihak yang terlibat di dalamnya. Ini yang keempat,” terang pria yang pernah menjadi Deputi Bidang Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Kepri ini.

Kelima, dengan kondisi permodalan perbankan yang kuat serta prospek ekonomi domestik yang membaik, OJK Kepri yakin kredit dapat tumbuh lebih tinggi tahun ini.

“Kami memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini akan sebesar 9-12 persen. Apabila berbagai pekerjaan rumah dan tantangan yang ada dapat kita selesaikan, Kami yakin, ruang untuk terus bertumbuh masih sangat lebar,” ungkapnya.

Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan kredit akan sangat tergantung pada ketersediaan likuiditas. “Kami mengapresiasi program tax amnesty yang berjalan baik sehingga selain dapat menyehatkan postur fiskal, juga turut menyumbang bagi tambahan likuiditas,” ujar Uzersyah.

Keenam, OJK melihat peran bank di Kepri bagi pembangunan masih dapat ditingkatkan. Sebagian besar bank saat ini eksposur kreditnya masih didominasi oleh kredit konsumsi. “Untuk itu, kami mengingatkan kembali komitmen seluruh bank terhadap upaya peningkatan kemampuan bisnis dan layanan, penguatan ketahanan kelembagaan dan peningkatan kontribusi pembangunan daerah yang didukung dengan SDM yang professional, infrastruktur IT yang memadai, manajemen risiko, dan pengendalian internal yang lebih efektif,” bebernya.

Ketujuh, jelas Uzersyah. Saat ini, pasar modal tidak hanya menjadi tempat berinvestasi saja, namun menjadi alternatif sumber pembiayaan jangka panjang yang melengkapi sumber pembiayaan yang selama ini bergantung banyak kepada perbankan.

“Tahun lalu, kita menyaksikan lonjakan yang signifikan dalam penghimpunan dana di pasar modal. Kami mengharapkan hal ini dapat ditingkatkan di tahun 2017,” katannya. (cr18)

Respon Anda?

komentar