ilustrasi

batampos.co.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam, mendorong masyarakat mengembangkan pertanian perkotaan. Salah satunya dengan bertanam sayur-mayur dan kebutuhan pokok lain, yang dinilai mendongkrak inflasi.

“Kita berharap pertanian perkotaan menjadi inspirasi bagi masyarakat Batam agar memanfaatkan lahan di sekitarnya menjadi lahan pertanian produktif,” ujar Aman, anggota Komisi II DPRD Batam, Minggu (15/1).

Menurutnya, inflasi di Batam tak lepas dari kenaikan sejumlah bahan-bahan pokok. Semisal cabai, bayam dan kacang panjang. Ketiga sayur ini menjadi pendongkrak inflasi di setiap tahun, mengingat masyarakat suka mengonsumsinya.

“Karena kita keterbatasan lahan bercocok tanam, pertanian perkotaan ini paling tepat. Apalagi caranya mudah dan tidak menyita waktu. Bisa ditanam di pekarangan rumah dengan hidroponik,” ujar Aman.

Hidroponik atau budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah ini, kata Aman, sudah banyak di terapkan di beberapa negara tetanga seperti Malaysia dan Singapura. Selain mampu menekan inflasi, pertanian perkotaan dengan hidroponik ini terbukti mampu mengurangi belanja rumah tangga. Sangat cocok di daerah perkotaan.

“Kita harapkan pemerintah kota ke depan fokusnya kesana. Untuk teknisnya ada di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Dinas Pertanian Kota Batam yang lebih paham,”lanjut politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Aman berharap, ke depan setiap kecamatan sudah mulai ada yang menerapkan program ini. Dan bila di tahun pertama hasilnya bagus. Pemerintah bisa menganggarkan sehingga Batam tidak lagi ketergantungan dengan daerah penghasil.

“Saya rasa tak terlalu besar. Kita lihat perkembangan di tahun ini,” jelasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Kota Batam mengalami inflasi sebesar 0,26 persen di awal tahun 2017. Inflasi ini disebabkan oleh kenaikan beberapa kelompok kebutuhan seperti, bahan makanan, listrik, komunikasi dan jasa.

Sebaliknya, tiga kelompok menyusun inflasi gabungan dua kota justru mengalami penurunan indeks. Yaitu kelompok sandang dan kelompok kesehatan. “Inflasi Kota Batam Desember 2016 sebesar 0,26 persen” ujar kepala BPS Batam, Rahayuddin.

Laju inflasi ‘year on year’ (Desember 2016 dibandingkan Desember 2015) sebesar 3,53 persen. Dari 23 kota IHK di Sumatera, tercatat 21 kota mengalami inflasi dan dua kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Lhokseumawe sebesar 2,25 persen.

“Bila dilihat dari 78 kota IHK, yang mengalami inflasi se-Indonesia, Batam berada diposisi ke-59,” sebut Rahayuddin. (rng)

Respon Anda?

komentar