Batam Banjir Pengangguran

Ribuan pelamar kerja memenuhi jalan di depan PT. Sumitomo Wiring System, Batamindo Indurty Park, Batam, Jum’at (5/2). Antusias pelamar yang tinggi untuk dapat bekerja di perusahaan asing tersebut. F.Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Batam masih tetap menjadi mangnet pagi pencari kerja dari berbagai daerah di Indonesia. Sementara, lowongan kerja makin terbatas. Belum lagi serbuan tenaga kerja asing. Pengangguran kini hantui Batam.

Elvi tampak lelah. Sesekali jemarinya merapikan lembaran berkas di map merah dalam tas hitam miliknya. Di dalam map berisi persyaratan melamar pekerjaan.

“Baru keliling kami, tadi dari Cammo (Kawasan Industri Cammo Batamcenter, red),” kata wanita 23 tahun itu di Multi Purphose Hall (MPH) Kawasan Industri Batamindo (KIB), Kamis (16/2) pekan lalu.

Di MPH atau yang lazim dikenal Pujasera Batamindo itu, Elvi tak sendirian, ratusan pencari kerja (pencaker) berjubel menunggu informasi lowongan pekerjaan. Empat papan lowongan di MPH, selalu jadi fokus perhatian mereka. Begitu ada yang menempel kertas, dipastikan mereka bangkit dari duduknya mengerumuni papan itu.

“Diminta pengalaman pula,” gerutu seorang diantaranya setelah membaca lowongan satpam. Ia memilih duduk kembali.

Ya, hari itu kebetulan PT Tunaskarya Indoswasta (Tunaskarya), sebuahperusahaan penempatan tenaga kerja  menjaring lowongan untuk dua perusahaan di KIB, yakni PT Ciba Vision dan PT Wohlrab Indonesia.

Suara staf di balik megaphone menggiring pencaker berkumpul. Hanya hitungan detik, para pencaker itu membentuk persegi mengelilingi staf PT Tunaskarya Indoswasta. Jika tidak dibatasi tali rafia dan diatur satpam, bisa jadi mereka berebut.

“Yang diambil sekitar 50 orang saja,” kata Heru, seorang staff PT Tunaskarya Indoswasta.

Seleksi pekerja dilakukan di tempat. Kali ini untuk posisi operator, batas minimal umur harus 21 tahun dan lulusan SMA. Lulusan SD, SMP, SMK atau Madrasyah Aliyah dipastikan tereliminasi di tempat.

Proses seleksi diawali  mengukur tinggi badan. Pria minimal 163 centimeter, sementar wanita 153 centimeter. Kurang satu centimeter saja dipastikan gugur, seperti yang dialami Ade, 21.

“Tidak ada toleransinya, satu centi pun,” keluh pria asal Medan Sumatera Utara ini.

Namun Ade masih bisa mengerti, pasalnya dia belum genap dua pekan tiba di Batam, tepatnya Minggu (5/2) lalu ini. Berbeda dengan temannya yang baru beberapa hari dikenalnya yakni Fajar yang sudah menggangur delapan bulan.

“Datang ke Batam ajakan teman. Sekarang masih nyari, sesekali jadi buruh bangunan,” kata Fajar, pencaker asal Pekanbaru.

Pencaker lain, Narap Untung, mengaku kaget mencari kerja di Batam sangat sulit. Dia ke Batam karena mendapat kabar ‘freshgraduate’ sepertinya akan mudah dapat kerja.

“Sulit juga rupanya,” kata pria yang datang ke Batam pertengahan Desember 2016 lalu itu.

“Kakak ku ada setahun dia (menganggur). Padahal mantap sekolahnya perhotelan, lamarannya tak ada yang nyangkut,” ucapnya.

***

Sulitnya mendapat pekerjaan di daerah asal dan kabar Batam memiliki upah tinggi dan mudah mendapatkan kerja, membuat lulusan SD, SMP, SMA sederajat, hingga perguruan tinggi berduyun-duyun ke Batam.

Hal ini tercermin dari permintaan form Ak1 atau lebih dikenal kartu kuning atau kartu pencari kerja (pencaker) meningkat di semua kecamatan di Batam.

Data dari Kecamatan Sekupang menyebutkan selama tahun 2016 sedikitnya terdapat 1.841 AK1  yang dikeluarkan bagi pencari kerja. Sebanyak 500 di antaranya laki-laki dan perempuan sebanyak 1.341 orang.

Di Kecamatan Lubukbaja, pada 2016 lalu tercatat 1.276 pencaker mengurus kartu kuning. Mulai dari lulusan SD hingga pencaker lulusan S1.

“Paling bayak lulusan SMA, ada  1.131 orang,” sebut Novi Harmadyastuti, camat Lubukbaja.

Sisanya pencaker lulusan SD 12 orang, SMP 50 orang, D2 dua orang, D3 ada 35 orang dan S1 sebanyak 46 orang.

“Kalau Januari dan Februari belum banyak,” katanya.

Di Kecamatan Batuaji, Januari 2017 sudah 477 form AK1 yang diminta warga Batuaji. Jumlah tersebut diakui pihak kecamatan meningkat dari rata-rata permintaan setiap bulan tahun 2016 lalu yang hanya mencapai 300 permintaan.

“Kalau dilihat rata-rata perbulan, Januari kemarin meningkat cukup signifikan,” ujar Friedkalter, camat Batuaji, Jumat (17/2) pekan lalu.

Sementara tahun 2016 lalu permintaan kartu kuning mencapai angka 3.902 yang didominasi tamatan SMA dan setara. “Yang D3 ada tiga orang, Akta 3 dan Akta 2 sebanyak 69 orang. Jadi memang kebanyakan tingkat SMA yang membutuhkan kartu kuning di sini,” tutur Frid Kalter.

Meningkatnya permintaan kartu kuning itu, diakui Frid Kalter karena memang masih banyak warga Batuaji yang belum memiliki pekerjaan.

“Jumlah pengangguran cukup banyak. Makanya permintaan kartu kuning ini selalu banyak setiap bulan,” ujarnya.

Di Kecamatan Bengkong, permintaan kartu kuning di tahun 2016 juga cukup tinggi, mencapai 3.494 pengurus. Jumlah ini tercatat lebih banyak dari 2015 lalu yakni mencapai 2.587.

Sementara, data terbaru Januari 2017 ini sebanyak 186 orang. Terdiri dari 106 perempuan dan 81 laki-laki. “Yang didominasi oleh pencari kerja lulusan SLTA,” ucap Kasi Pelayanan Umum, Harun, Jumat (17/2) pekan lalu.

Mengenai rata-rata jumlah pendaftar per harinya, Harun menyebutkan Kecamatan Bengkong bisa melayani permintaan formulir tersebut 10-20 orang.

Februari ini, ia mengatakan jumlah pengurusnya sudah meningkat. Karena berhubungan dengan dibukanya penerimaan Polisi.

“Dua minggu lalu, pengurusan kartu kuning mencapai 200 orang per hari,” tutupnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Sagulung. Di Tahun 2016 tercatat 3.975 pencaker mengurus kartu kuning. Sementara Januari 2017 mencapai 435 orang. Jumlah ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan permintaan Januari 2016 lalu yang mencapai 629 orang, yang terdiri dari 274 laki-laki dan 355 perempuan.

“Dalam sebulan, yang datang mengurus sekitar 224 orang, jumlah ini yang paling sedikit,” ujar Camat Sagulung, Reza Khadafy, Sabtu (18/2) pekan lalu.

Dia mengatakan pengurus yang datang didominasi oleh lulusan SLTA yang datang dari berbagai daerah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau dan lain sebagainya.

“Tapi yang paling dominasi itu dari Sumatera Utara,” katanya.

Sementara Kecamatan Seibeduk mencatat ada sekitar 4.930 orang yang mengurus kartu kuning di 2016. Didominasi lulusan SLTA.

Di Kecamatan Nongsa, juga tercatat 375 orang mengurus kartu pencari kerja dari awal tahun hingga pertengahan Februari 2017.  sekitar 80 persen lulusan SMA dan SMK.

“Kebanyakan laki-laki,” kata Kasi Pelayanan, Sony Efrianto.

Sony menjamin kartu pencaker yang dikeluarkan pihaknya, semuanya memiliki KTP berdomisili di Nongsa. “Kalau luar Nongsa, kami tidak terima. Kami sarankan langsung ke Disnaker saja untuk mengurusnya,” tuturnya.

Pada tahun 2016, Sony mengatakan pihaknya mengeluarkan sebanyak 2.177 kartu pencari kerja. “Tahun 2015 juga pada kisaran itu,” pungkasnya.

Bagaimana dengan Batuampar tempat ratusan industri berdomisili? Camat Batuampar Tukijan mengatakan Januari hingga pertengahan Februari pihaknya sudah mendata  398 warga Batuampar yang meminta kartu kuning.

“Tahun ini cukup ramai warga yang datangn meminta kartu kuning. Februari saja rata-rata permohonana 30 sampai 50,” ujar Tukijan.

Menurut Tukijan, ramainya permintaan ini disebebkan karena adanya pelatihan yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam. Pada bulan lalu saja jumlah permohonan pembuatan AK1 hanya sebesar 104 selebihnya pada Februari.

“Februari ini baru pertengahan bulan sudah ramai. Warga mengaku meminta AK1 untuk persyarata mengikuti pelatihan di Disnaker,” ungkapnya.

Sepanjang 2016 lalau, jumlah permintaan Kartu Kuning mencapai angka 1.483 yang didominasi warga dengan golongan pendidikan SMA sebanyak 543, SMK sebanyak 368 orang, MTS sebanyak 2.31, MA sebanyak 1.97, SMP 41, dan beberapa orang DIII dan S1.

“Yang paling banyak tahun lalu tamatan SMA sederajat,” papar Tukijan.

Tukijan mengatakan, meningkatnya pembuatan kartu kuning ini karena masih banyaknya pengangguran di Batuampar yang belum mendapatkan pekerjaan. Jumlah pengangguran kian meningkat sementara lapangan pekerjaan kian berkurang.

“Pendatang terus saja bertambah dari berbagi daerah,” kata Tukijan.

***

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Rudi Sakyakirti, membenarkan kalau Batam saat ini dihadapkan pada banyaknya pencaker luar daerah dan dari Batam sendiri. Padangan Batam mudah cari kerja dan upah tinggi menjadi daya tarik.

Ironisnya, tiga tahun terakhir ini, lowongan kerja yang tersedia di Batam tidak sebanding dengan jumlah pencaker.

“Lokal saja tidak bisa diakomodir, sedangkan yang luar Batam masuk terus,” kata Rudi.

Rudi merinci ketersediaan tenaga kerja di Batam tiga tahun belakangan ini memang memprihatinkan. Tahun 2015 sedikikitnya ada 22. 141 pencaker, namun lowongan tersedia hanya 11. 141. Jumlah ini meningkat di 2016 menjadi 24.342 pencaker. Namun lowongan yang tersedia hanya 14.828.

“Berarti ada 10 ribu pencaker yang tidak terserap setiap tahunnya. Itu jumlah berdasarkan AK1, di luar itu pasti lebih banyak dari ini, semua jadi pengangguran,” sebut Rudi.

“Yang dibutuhkan 100 melamar 5 ribu,” ucapnya.

Mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Batam ini juga mengungkapkan kondisi ketenagakerjaan di Batam kian diperparah dengan banyaknya perusahaan yang tutup setiap tahunnya. Pada 2014 terdapat 37 perusahaan tutup, 2015 ada 54 perusahaan, dan 2016 meningkat menjadi 62 perusahaan.

Tutupnya perusahaan ini meyumbang pengangguran. Belum lagi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan. Dari tahun 2014 terdapat 170 kasus PHK dengan total karyawan yang di rumahkan mencapai 1.050 pekerja. Kemudian 2015 ada 232 kasus dengan jumlah karyawan yang di-phk mencapai 1.950 orang. Dan, pada  2016 menurun menjadi 162 kasus dengan karyawan diphk mencapai 532 pekerja.

“Dari yang kena PHK saja tiga tahun terakhir sudah 3.532 orang. Itu yang terdata, pasti lebih banyak dari itu,” ujar Rudi.

“Jadi sudah komplit semua permasalahan dunia kerja di Batam ini,” katanya lagi.

Pemerintah sendiri hanya berharap perekonomian Batam membaik. Tumpuan utamanya, berharap banyak investor datang membuka perusahaan di Batam. “Hanya itu yang bisa kita harapkan untuk mengatasi permasalahan ini,” kata Rudi.

Data dari Disnaker menyebutkan perusahaan yang berinvestasi di Batam memang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2014  terdapat 5.700 perusahaan, 2015 terdapat 6.009 perusahaan, dan tahun 2016 terdapat 6.459 perusahaan.

“Namun kebutuhan tenaga kerja tidak banyak, seperti perusahaan di Batuampar, mereka hanya butuh 500 tenaga kerja saja, sedangkan jumlah pencaker mencapai lima ribu lebih,” ucapnya.

Pemko Batam sendiri berusaha untuk mencari solusi. Selain membatasi pekerja antar kota antar daerah (AKAD), dua tahun belakangan ini  juga memanfaatkan dana Izin Memperkerjakan Tenaga Asing (IMTA) untuk menggelar berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi pencari kerja dan tenaga kerja.

Dia menyebutkan tahun 2016 Disnaker berhasil memberikan pelatihan kepada 720 orang. Tahun tahun 2017 ini 646 pencaker dan 2.370 tenaga kerja dengan total anggaran mencapai Rp 15 miliar.

Namun Rudi tak bisa menjamin setelah mendapat pelatihan semua bisa terserap di pasar kerja. Pasalnya, setiap perusahaan yang membuka lowongan kerja, punya persyaratan tersendiri, yang bisa jadi untuk satu job pekerjaan membutuhkan banyak sertifikasi.

“Tapi kami tetap berharap semoga pelatihan dan peningkatan kopetensi ini benar-benar bermanfaat. Minimal bisa mengurangi jumlah pencaker saat ini, biar tak jadi pengangguran karena tak punya keahlian,” harapnya.

Pertumbuhan penduduk juga mempengaruhi angkatan kerja di Batam. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Batam, pada tahun 2015 terdapat 1.033.070 penduduk Batam, jumlah ini meningkat menjadi 1.055.040 pada tahun 2016.

Kepala Disdukcapil Kota Batam, Said Khaidar mengatakan setiap harinya rata-rata 200 lebih surat pindah yang masuk ke kantor Disdukcapil.

“Dan kebanyakan dari mereka usia produktif yang cari kerja,” kata Said.

Tantangan terbaru dunia kerja di Batam sejak 2016 adalah masuknya tenaga kerja asing (TKA) dalam jumlah besar, sering pemberlakuan masyarakat ekonoki ASEAN (MEA) dan pembebasan visa. Bahkan, sangat mengejutkan karena peningkatannya diluar perkiraan. Jika pada tahun 2015 jumlah TKA di Batam haya 5.996 orang, tahun 2016 meledak. Data Pemko Batam, Januri hingga Juni 2016 saja, jumlah TKA yang bekerja di Batam menembus angka 145.177 orang. Bertambah sekitar 140 ribu TKA hanya dalam 6 bulan.

Pemko Batam belum merilis data TKA hingga akhir 2016, namun diperkirakan bertambah kurang lebih 140 ribu lagi. Dengan kata lain, 2016 saja, TKA bertambah sekitar 280 ribu orang. Jumlah ini diperkirakana akan terus meningkat di 2017 ini. Itu belum termasuk yang bekerja secara ilegal. Apalagi saat ini penerbangan Cina-Tanjungpinang dibuka sejak akhir 2016 lalu dengan estimasi 500-600 WN Cina masuk Kepri setiap harinya. Meski disebut sebagai turis, namun tak ada jaminan mereka menjadi pekerja legal maupun ilegal.

***

Lalu apa solusinya? Wali Kota Batam Muhammad Rudi satu suara dengan Kadisnaker Batam, Rudi Sakyakirti. Pembatasan pekerja antar kota antar daerah (AKAD) dan peningkatan keterampilan pencaker melalui pelatihan dan sertifikasi diakui Rudi tidak bisa berbanding lurus dengan pengurangan pencaker dan pengangguran di Batam, namun paling tidak bisa menekan.

Rudi justeru menaruh harapan besar di investasi. Rudi berharap beberapa tahun ke depan, banyak investasi di Batam yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.  Jika tidak, Batam pasti kebanjiran pengangguran.

Selain berharap dari investasi baru, Rudi juga mengatakan pentingnya percepatan Batam sebagai kota MICE (Meeting Incentive, Conference/Convention and Exhibition). Ini menjadi solusi bagi kaum tuna kerja Batam.

“Kenapa saya rencanakan Batam jadi kota MICE itu, supaya yang tak kerja di perusahaan bisa mandiri dengan membuka usaha,” ucap Rudi.

Menuju MICE, Pemko Batam mengawali membangun infrastruktur pendukung dan mempercantik kota. Setelah upaya tersebut selesai, wisatawan lokal maupun luar diharapkan akan berbondong-bondong ke Batam.

“Jalan dibangun, kota jadi indah nanti banyak orang akan datang,” ucap Rudi.

Semakin banyak wisatawan ke Batam semakin membuka kesempatan warga Batam berkreativitas dalam berwirausaha. Tak hanya itu, dengan MICE usaha hotel juga restoran serta usaha lain yang masih terkait wisata akan bergairah, dengan demikian akan semakin banyak pekerja yang akan diserap.

“Kita membangkitkan kreativitas mereka untuk berpikir, sekarang masih diam nih, kalau banyak yang datang, apa yang disuka wisatawan akan siapkan, seperti cinderamata dan lain-lain. (Provinsi) Bali kan begitu,” katanya.

Rudi menuturkan, pembangunan infrastruktur Batam dalam bingkai padat karya juga sengaja dilakukan untuk menyerap banyak tenaga kerja.

“Tak hanya jalan tapi pembangunan hingga ke kecamatan juga, yang tak ada kegiatan bisa ke situ. Kita bikin padat karya untuk memberi ruang pengangguran bekerja,” katanya. (cr17/cr13/leo/cr1/cr12/eja/rng/cr18/cr19/ska/cr14)

Respon Anda?

komentar