Ketika Ibu-ibu Rajin Menyimpan Video Masakan di Facebook

1800

Kemajuan teknologi berdampak jauh. Bahkan sampai ke dapur. Jika dulu hendak memasak enak mesti melihat buku resep dulu, kini tak lagi. Ibu-ibu di Batam tinggal membuka Facebook mereka.

Layar gawai Melina (22) sedang sibuk. Dari sepetak layar lima inci itu, ditampilkan panduan memasak berdurasi singkat. Hanya kurang dari semenit. Lima puluh dua detik kemudian, video ditutup dengan sajian masakan yang tampil menggugah selera.

Tanpa berpikir dua kali, Melina menyentuh sisi kanan bawah layarnya. Dan kembali menyentuh pilihan simpan video. “Ada banyak loh menu yang aku simpan,” tuturnya malu-malu, kemarin.

Itu jenis kegemarannya yang baru di balik bermain Facebook. Sudah cukup lama Mena, panggilan akrab Melina, melakukannya. Menonton video memasak, menyimpan di lini masanya. Tapi, kata dia, hanya beberapa saja yang baru dipraktekannya di rumahnya, di Tiban.

“Ada 27 ternyata. Tapi baru Mena coba tiga menu,” tuturnya.

Aktivitas menyimpan menu masakana, bagi Mena, adalah sesuatu yang seru. Tiap kali tampilan Facebook memperlihatkan menu masakan baru, ia mengaku selalu iseng menonton dan akhirnya timbul keinginan mencoba. Lagipula itu tidak memakan cukup waktu. Pasalnya, durasi yang ditampilkan pada kebanyakan video di bawah 90 detik. Dan itu menimbulkan tantangan baginya untuk mencobanya langsung di dapur rumahnya.

“Habis kayanya gampang aja bikinnya,” tutur gadis berambut pendek ini masih menatap video memasak yang ada di gawainya.

Beberapa waktu belakangan, kegemaran menampilkan tutorial memasak sebuah sajian memang menjadi tren tersendiri di kalangan perempuan, utamanya remaja dan ibu rumah tangga, yang aktif memakai Facebook.

Kebanyakan dari mereka menuturkan, tampilan tutorial yang menarik dan terlihat dengan jelas, juga dilengkapi keterangan yang mudah dipahami membuat tak sedikit dari mereka yang ‘gatal’ untuk mencoba. Namun tak dapat dipungkiri pula, menu yang sudah disimpan ini, seringkali hanya tersusun rapi di laman video tersimpan.

“Saya lebih milih untuk share dan tag ke anak-anak. Biar mereka yang masak maksudnya,” ujar Fanja, ibu dua anak.

Diakui Fanja, tampilan cara memasak menu-menu yang ada selalu menggoda. Bukan hanya menggoda selera namun juga menggoda untuk dicoba. “Kelihatan gampang dan bahan-bahan masakan banyak yang mudah dibeli juga,” ujar Fanja.

Kalangan profesional pun ternyata menjalani hal yang sama. Nagoya Mansion Executive Chef, Sumali Yolono telah aktif sejak setahun lalu. Tak hanya mengikuti tautan menu-menu, Chef Sumali justru kerap kali ikut mengunggah video serupa dari dapurnya.

“Menyemarakkan dunia permasakan juga,” tutur Sumali yang telah banyak mengunggah video di channel Chef Sumali.

Begitu pula halnya dengan pegiat kuliner, Agnes Dhamayanti. Ibu rumah tangga yang juga memikiki usaha di bidang kuliner, turut memanfaatkan video yang berseliweran di media sosial. Namun ketertarikannya pada tampilan makanan yang disajikan.

“Tampilan garnis ini yang lebih sering kucoba untuk orderan,” ucapnya.

Menurutnya, jika berbicara dari sisi komersial kuliner, makanan juga menjadi seni. Sehingga makanan yang ditawarkan tidak mentok tampilannya. “Jadi memang harus rajin belajar dan cari referensi. Pelanggan senang-senang aja, bisa ngasih hal baru,” tuturnya.

Pada akhirnya, keberadaan video memasak di laman Facebook, membuat ibu-ibu tidak lagi melirik buku-buku resep yang masih banyak beredar di toko buku. Kini mereka tinggal meraih gawainya dan membuka laman Facebook-nya yang berlimpah ruah tutorial memasak.

“Kan lebih murah meriah. Kalau sukses prakteknya, bisa di-share ke orang lain,” tambah Mena, yang berjanji akan mempraktekkan satu menu yang telah disimpannya akhir pekan mendatang. (FARA VERWEY, Batam)

Respon Anda?

komentar