Tonpursus Yonif 10 Marinir SBY Susup Wilayah Musuh

2028
Pesona Indonesia
F. Dalil Harahap/Batam Pos

Prajurit TNI dari Pleton Pertempur Khusus (Tonpursus) Yonif 10 Marinir Satria Bhumi Yudha (SBY) Batam, menggelar latihan rutin operasi amfibi di periaran jembatan III Batam, Kamis (2/3) siang. Sebanyak 200 prajurit dilatih untuk menaklukan medan dan peralatan tempur musuh di wilayah kekuasaan musuh melalui jalur laut.

Stimulasi latihan dimulai dengan pemetaan wilayah kekuasaan musuh yang akan didatangi dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi. Setelah memastikan jalur yang bisa masuk, prajurit diberangkatkan dengan empat perahu karet dan sua kapal motor sea reader.

Dalam perjalanan menuju lokasi target, prajurit diwajibkan siaga satu. Saat mendekati wilayah musuh atau sekitar 800 meter sebelum lokasi target, sepuluh orang prajurit dengan satu perahu karet diberangkatkan lebih dahulu untuk memantau situasi. Mereka akan memantau situasi di wilayah kekuasaan musuh agar pasukan lainnya bisa mendekat dengan aman.

Sebelum memasuki wilayah pantai, dua dari 10 prajurit yang diberangkatkan duluan tersebut harus berenang hingga ke tepi pantai untuk memastikan situasi di tepi panti.

“Dua orang perenang ini menjadi kuncinya. Mereka yang akan pastikan bahwa wilayah pendaratan perahu prajurit lainnya aman,” ujar Danyonif Marinir 10/SBY Letkol Marinir Carles Arianti Lumban Gaol di lokasi latihan, kemarin.

“Jika semua aman dan tiba di lokasi target baru dilakukan penyerangan dan pelumpuhan,” ujar Carles.

F. Dalil Harahap/Batam Pos

Dijelaskan Carles, kunci dari latihan tersebut ada pada tim pengintai. Peran tim pengintai sangat penting untuk memperkuat penyerangan ataupun meminimalisir korban dari pihak prajurit sendiri.

“Sebab kalau salah tafsir saja dari tim pengintai ini, maka prajurit semua yang akan kena. Musuh pasti akan lebih dahulu menyerang karena mereka menyerang wilayah musuh,” ujarnya.

Jika misi dari tim pengintai gagal atau terdeteksi musuh misalkan, maka operasi militer tersebut harus dibatalkan demi keselamatan prajurit.

“Kita yang nyerang wilayah musuh, jadi harus mundur kalau sudah ketahuan,” tutur Carles.

F. Dalil Harahap/Batam Pos

Latihan operasi amfibi tersebut diakui Carles sangat penting untuk sebuah operasi perang. Sebab dalam perang apapun sebelum melakukan penyerangan, prajurit sudah harus terlebih dahulu memahami sistuasi di lokasi target sekalipun itu wilayah kekuasaan musuh. (eja)

Respon Anda?

komentar