Keberadaan peternakan babi di kawasan Dam Duriangkang membuat pelanggan air bersih di Batam jadi waspada tercemar. (rezza hREZZA erdiyanto / batampos)

batampos.co.id – Air Dam Duriangkang diduga tidak hanya tercemar oleh telur cacing yang diakibatkan ternak babi ilegal di kawasan tersebut. Namun juga oleh logam berat, yang terindikasi mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Dendi Purnomo mengatakan setiap enam bulan sekali pihaknya mengambil sample air dari empat titik kawasan Dam Duriangkang. Dan hasil tes membuktikan, indikasi pencemaran organik relatif meningkat.

“Pencemaran parameternya naik 5 sampai 10 persen setahun. Namun masih dibawah ambang batas,” kata Dendi di kantor DPRD Kota Batam, Selasa (6/3).

Tak hanya organik, air Dam Duriangkang juga tercemar logam berat. Namun kapasitasnya tidak terlalu besar dan secara survei DLH masih aman untuk masyarakat.

“Logam berat ada, secara dampak lingkungan aman. Namun kalau layak diminum apa tidaknya itu survei WHO yang dilakukan ATB setiap harinya. Kalau kita hanya lebih ke dampak,” jelas Dendi.

Menurut dia, dari tujuh waduk air di Batam, satu diantaranya tidak aman dari segi lingkungan. Hal itu dikarenakan air di dam tersebut sudah banyak tercemar limbah logam berat dan limbah oleh masyarakat.

“Enam dam aman dari segi lingkungan, satunya sudah tercemar. Yakni dam Baloi sudah tidak layak karena sudah sangat tercemar, banyak bahan kimia dan logam berat,” jelas Dendi.

Sementara, Humas PT ATB Batam, Wijaksono Iksa menjelaskan pengelolaan air yang dilakukan ATB sudah sesuai dengan Permenkes RI no 492 tahun 2010. Dimana sudah diatur cara pengujian air secara mikrobiologi, fisika dan kimia untuk mengetahui parameter ,bakteri, warna, kekeruhan, suhu dan kandungan mineral atau non mineral didalam air.

“Air yang kita produksi sudah sesuai dengan Permenkes. Apalagi ATB sudah mendapat pengakuan akreditasi dari komite nasional. Sehingga aman untuk di konsumsi oleh masyarakat,” jelasnya.

Dikatakannya, sebelum disalurkan kepada konsumen, ATB melakukan dua kali pengolahan air dari waduk. Pertama menguji kualitas air baku untuk departemen produksi. Kedua adalah pengujian kualitas air bersih.

“Jadi ada dua kali pengolahan air sebelum disalurkan kepada konsumen. Yang intinya air dari ATB aman,” beber Iksa.

Iksa juga tak membantah jika air yang ada di waduk Baloi sudah tercemar. Pihaknya tidak mengolah air di waduk tersebut karena butuh proses pengelolaan air yang cukup lama.

“Pada dasarnya semua air baku bisa diolah. Namun kualitas air menentukan cara pengolahan. Untuk waduk Baloi pengelolaanya cukup panjang dan butuh biaya besar. Berbeda dengan Dam Duriangkang yang bisa dengan cepat diproduksi,” pungkas Iksa. (she)

Respon Anda?

komentar