ilustrasi

batampos.co.id – PT Barata Indonesia (Persero) terus melobi rekanan perusahaan di Amerika Serikat.

“Kami sedang menjajaki kemungkinan peluang lain untuk ekspor ke AS sehingga nilai ekspor kita yang saat ini mencapai 5 persen dari market share perkeretaapian di Amerika menjadi naik 10 persen,” ungkap Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero) Silmy Karim, Kamis (8/3).

SCT adalah perusahaan asal AS yang sejak beberapa tahun lalu mengimpor produk dari Barata. Di antara LOI tersebut adalah tentang kesepakatan antara dua perusahaan pada 2017 di mana Barata akan mengekspor komponen kereta api melalui SCT dengan nilai USD11,8 juta atau Rp153 miliar.

Dalam kerjasama tersebut, Barata Indonesia sepakat untuk memasok komponen KA seperti bogie atau pendukung rangka dasar dari badan kereta api.

“Bagi Barata Indonesia, kerja sama ini salah satu bentuk mewujudkan pertumbuhan industri nasional dalam peningkatan konten lokal bagi industri perkeretaapian,” ungkap Silmy Karim seperti ditulis Indopos (Jawa Pos Group), Kamis (9/3).

Dia mengakui, Barata Indonesia yang berdiri sejak 1971 itu selama ini telah memasok komponen kereta api untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Untuk memenuhi standar kualitas ekspor, pabrik pengecoran milik Barata Indonesia telah mengantongi sertifikat Association of America Railroads (AAR) sebagai syarat untuk bisa menembus pasar ekspor ke USA & Canada.

Sementara itu, General Manager Standard Car Truck a Wabtec Subsidiary Company Phillip R Lindsell mengatakan, kerja sama yang dilakukan dengan Barata Indonesia tidak hanya saat ini, namun dilakukan sejak beberapa tahun lalu.

Silmy mengatakan, perwakilan dari pihak SCT dalam penandatangan kerja sama itu adalah General Manager dari SCT a Wabtec Subsidiary Company, Phillip R Lindsell.

“Bagi Barata Indonesia, kerja sama di bidang pengecoran ini tidak hanya terpaku pada produk kereta api saja, namun telah merambah sektor lain di antaranya sektor tambang dan juga industri semen,” katanya.

Untuk bidang tambang, Silmy menyebut Barata Indonesia telah berkerja sama dengan PT Antam (Persero) serta PT Bukit Asam (Persero) Tbk dengan memproduksi komponen alat-alat tambang seperti Crushers dan juga Mills.

“Ke depan, kami juga tak hanya akan berhenti bekerja sama dengan perusahaan BUMN dalam negeri saja, namun juga akan mencoba menyentuh pihak swasta seperti PT Freeport Indonesia,” harapnya. (ers/nas/JPG)

Respon Anda?

komentar