Kapolda: Dari Kasus Ma’ruf Maulana Belajarlah Bijak Ber-Medsos

Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian memaparkan bahayanya info bohong di media sosial yang digelar oleh Posmetro Batam di Kopitiam Alamak, Hotel Vanilla, Penuin, (11/3). F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Polda Kepri masih melakukan pendalaman penyelidikan terhadap tersangka kasus pelecehan terhadap kinerja Densus 88, Ketua Kadin Kepri Maaruf Maulana. Selain itu untuk status Maaruf, disebutkan Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian masih dalam pendalaman dan pengakajian pihak penyidikan.

“Nanti akan kami nilai, statusnya dilanjutkan atau tidak,” katanya pada Batam Pos, Sabtu (11/3).

Alasan perlu adanya pengakajian ini, disebabkan semuanya perlu ada kepastian hukum bagi Maaruf. Lalu juga tak melupakan rasa keadilan yang ada. Namun Sam menegaskan, penegakan hukum kasus ini pasti akan dilanjutkan.

“Setiap kasus pidana akan kami selesaikan pemberkasannya,” tuturnya.

Ia juga membantah bahwa kasus ini ada unsur pesanan. “Berita dipesan, tidaklah,” ucapnya.

Kasus ini tetap lanjut, kata Sam denga alasan sebagai proses pembelajaran bagi publik. Agar selalu berhati-hati dalam bermedia sosial. Karena postingan Maaruf Maualana yang menyinggung Densus 88, itu disebarkan di media publik. Dan dibaca khalayak ramai.

“Semoga masyarakat dapat belajar ke depannya nanti. Bijaklah dalam bermedia sosial,” ujarnya.

Ia mengatakan gambar yang dishare oleh Ketua Kadin Kepri ini, tak lah terlalu menohok atau melecehkan kinerja kepolisian. Namun gambar itu menjadi kasus, adanya komentar yang mencoba menggiring opini publik.

“Karena komentarnya negatifnya, jadilah dia tersangka,” ungkap Sam.

Kasus Maaruf ini bermula pada 13 Desember tahun lalu. Dimana Maaruf mempostingan fotobom termos ini digambarkan seorang laki-laki yang memikul sebuah termos dan beberapa alat berupa remote layaknya bom menempel pada dada lelaki itu.

Pada foto itu ada tulisan “coba alihkan isu dengan bom termos”. Lalu ada tambahan komentar dipostingan tersebut “kalau pengalihan isu pake bom panci masih gagal”

Bila kasus ini berlanjut, maka Maaruf terancam hukuman penjara selama enam tahun. Hal ini berdasarkan  UU ITE pasal 45 ayat 3 nomor 19 tahun 2016 atas perubahan undang-undang nomor 11 tahun 2008.

“Bersangkutan dijerat pasal 27, pasal 45 dan pasal 207, dengan ancaman enam tahun penjara,” ungkap Sam pada beberapa waktu lalu. (ska)

Respon Anda?

komentar