Ilustrasi dokumen jpnn

batampos.co.id – Antrean pengisian premium dibeberapa SPBU Kota Batam sering mengular. Hal itu diduga karena sering kosongnya persediaan premium sejak dua bulan terakhir. Padahal secara kasat mata, masyarakat Kota Batam terutama pemilik kendaraan roda dua lebih memilih premium. Apalagi selisih harga antara premium dan pertalite yang lumayan jauh.

Endes, salah satu pengendara sepeda motor merasakan dampak dari panjangnya antrean mengisi premium. Bahkan, ia pun harus rela antre hingga setengah jam dan langsung mengisi penuh kendaraannya dengan premium.

“Sekarang untuk isi bensin (premium) harus antre lama. Dimana-mana selalu antre, mungkin karena bensin sering kosong,” katanya Minggu (19/3).

Pekerja di kawasan Nagoya ini lebih memilih premium karena harganya yang jauh lebih murah dibanding pertalite. Dimana harga untuk satu liter premium di Batam Rp 6550, sedangkan pertalite Rp 7750 perliternya.

“Harganya selisih seribu lebih. Lumayan juga untuk kita yang penghasilan pas-pasan ini. Tapi sekarang premium sering kosong,” jelas Endes lagi.

Sementara itu, Area Manager Communication & Relations Pertamina MOR I Sumbagut, Fitri Erika mengatakan penyaluran BBM jenis premium ke 36 SPBU di Batam tetap berjalan sesuai dengan permintaan. Terminal BBM pun melakukan order kemudian penebusan sesuai dengan permintaan.

“Kita menyalurkan sesuai dengan permintaan, rata-rata 450 kl per hari untuk wilayah Batam,” kata Erika yang ditemui di Kepri mal, Sabtu (18/3) sore.

Menurut dia, tren konsumsi BBM jenis premium di Batam tahun 2017 cenderung meningkat dibandingkan tahun 2016. Pada tahun 2016 penyaluran BBM ke Batam berkisar 17000 kl perbulannya. Namun awal 2017 naik 18000 kl perbulannya. Artinya, ada kenaikan 6 persen.

Meski begitu, penyaluran premium tetap berlangsung normal, bahkan stok yang tersedia cukup.

“Akhir tahun konsumsi pertalite naik pesat. Awal tahun tren premium juga naik, mungkin karena selisih harga. Meski begitu kami tetap melakukan pembenahan,” terang Erika.

Kenaikan tren konsumsi juga terlihat dari pertalite. Naik sekisar 15 persen dibanding tahun 2016. Dimana tahun 2016 konsumsi pertalite hanya 5380 kl, sedangkan tahun 2017 jadi 6200 kl.

“Baik premium dan pertalite tetap tersedia dalam jumlah yang cukup dan didistribusikan secara normal,” pungkas Erika. (she)

Respon Anda?

komentar