IPAL Komunal Paling Top di Indonesia

704
Kelurahan Gending Juara Lomba IPAL Tingkat Nasional (Mulyo untuk Jawa Pos)

IPAL komunal di Dusun Wonokitri, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Gresik Jauara IPAL tingkat nasional yang diadakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

LAHAN seluas 200 meter persegi terlihat hijau. Aneka tanaman tumbuh subur dalam pot plastik. Ada tomat, cabai, sawi, dan aneka sayuran lainnya. Di bagian pinggir, terdapat sejumlah tanaman perdu yang tumbuh menjulang hingga menyentuh pagar besi yang membatasi lahan itu. Semuanya terlihat asri.

Areal tersebut merupakan lokasi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal. Di bawahnya, terdapat limbah domestik yang bersumber dari kamar mandi atau WC milik warga setempat.

’’Banyak yang tidak menyangka di bawah ada IPAL. Saking hijaunya,” kata Widodo kepada Jawa Pos kemarin (18/3).

’’Warga juga memanfaatkan lokasi itu untuk terapi kaki. Sebab, ada deretan batu yang berfungsi sebagai terapi refleksi,’’ lanjutnya.

Laki-laki 56 tahun tersebut adalah ketua kelompok pemanfaat dan pemelihara (KPP) IPAL komunal Dusun Wonokitri, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas. Sejak IPAL dibangun pada September 2014, dia bertanggung jawab untuk operasionalisasi.

Widodo menyebutkan, untuk dana operasional IPAL, tidak ada bantuan dari APBD. Karena itu, para pengurus menggagas unit-unit usaha. Dengan begitu, pengelolaan IPAL bisa dikelola secara mandiri. Salah satunya berupa budi daya lele.

Kini, di areal IPAL, terdapat lima kolam lele yang terbuat dari fiber. Kolam tersebut berukuran sekitar 2,5 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Per kolam dapat menampung sedikitnya 600 ikan.

’’Kami bisa panen dalam 3,5 bulan,” tuturnya.

Sekali panen, mereka bisa mendapat 2 kuintal lele. Warga lantas menjual ikan itu ke pasar dengan harga Rp 15 ribu per kilogram.

’’Hasil penjualan lele disisihkan untuk membiayai operasionalisasi IPAL,’’ terang Widodo.

Selain itu, warga mengambil untung dari penjualan tomat, cabai, terong, dan sawi.

Semua unit usaha tersebut menggunakan air yang sudah diolah dalam IPAL. Air yang dikeluarkan dari tabung cukup bening dan tidak berbau. Dengan begitu, air itu juga bisa dimanfaatkan untuk menyiram taman dan pekarangan rumah. Bahkan, bakteri pengurai di dalam bak efektif membunuh kuman.

’’Jadi, tidak perlu khawatir dengan ancaman penyakit,” kata Mulyo, sekretaris KPP.

Dana operasional IPAL komunal juga bersumber dari pengumpulan sampah warga. Bahkan, warga mendapat keuntungan dari penjualan sampah.

Uang diberikan setahun sekali menjelang Hari Raya Idul Fitri. Menurut Widodo, uang tersebut dianggap sebagai tunjangan hari raya alias THR.

’’Lumayan untuk menambah sangu Lebaran,” ujar Hamidah, salah seorang warga.

Pengelolaan IPAL komunal membuahkan hasil. Pada Maret 2015, Kelurahan Gedung, Kecamatan Kebomas, terpilih sebagai juara pertama pengelolaan IPAL tingkat nasional yang diadakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Keberhasilan warga Dusun Wonokitri dalam mengelola IPAL tersebar meluas. Banyak kalangan yang berkunjung ke lokasi itu. Bukan hanya masyarakat dalam negeri, tetapi juga peneliti mancanegara. Di antaranya, Bangladesh, Jerman, Australia, dan Belanda.

’’ Mereka sengaja berkunjung untuk mengetahui cara mengelola IPAL. Sebab, di negara mereka, pengelolaan IPAL belum maksimal. Katanya masih kotor,” ungkap Sekretaris Dinas PU Gresik Achmad Wasil.

Kabupaten Gresik memang terus menggencarkan pembangunan IPAL komunal. Selain berfungsi memperbaiki sistem sanitasi, IPAL komunal efektif menekan angka pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah domestik atau limbah rumah tangga.

Wasil menjelaskan, total ada 107 IPAL yang sudah dibangun. Lokasinya tersebar di berbagai tempat.

’’Bukan hanya perkotaan, di luar kawasan perkotaan juga banyak,” ucapnya.

Menariknya, tak ada satu pun yang menggunakan dana APBD. Seluruhnya menggunakan bantuan dari Kementerian PUPR melalui program urban sanitation and rural infrastructure (USRI).

Ada pula dari dana alokasi khusus (DAK) serta bantuan dari United States Agency for International Development (USAID). (*/c18/ai/sep/JPG)

Respon Anda?

komentar