Sanggar Tuah Pusaka Mewakili Bintan ke Tingkat Kepri

516
Ketua PKK Bintan, Deby Maryanti bersama Anggota DPRD Bintan dan Kepri menyerahkan Piala Festival Tari Bintan 2017 kepada Sanggar Tuah Pusaka di Lapangan Relief Antam, Kijang, Kecamatan Bintim, Sabtu (18/3). F. Harry Suryadi Puta/batampos

batampos.co.id – Sanggar Tuah Pusaka yang mewakili Kecamatan Bintan Timur (Bintim) menjuarai Festival Tari Bintan 2017 yang dihelat Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Bintan di Lapangan Relief Antam, Kijang, Sabtu (18/3).

Sanggar dengan nomor peserta 13 yang meraih poin 1532 ituĀ berhasil mengalahkan rivalnya Sanggar Sang Nila Utama asal Kecamatan Bintan Utara (Binut) yang pernah menyabet juara umum difestival sama 2016 lalu. Dengan raihan itu, Sanggar Tuah Pusaka akan dikirimkan Disbudpora untuk mewakilkan Kabupaten Bintan diajang Festival Tari Tingkat Provinsi Kepri.

Ketua Dewan Juri, Said Parman mengaku penampilan 13 sanggar yang mewakili 10 kecamatan se Kabupaten Bintan tidak berubah dari tahun sebelumnya. Bahkan garaapan penguasaan panggung, siasat ruang, olah lantai, dan musiknya tidak mampu ditafsirkan dengan baik oleh seluruh sanggar.

“Hampir semua olah garapan gerak dan tari yang ditampilkan peserta lari dari konteks diskripsi sinopsinya. Kemudian warna adat budaya melayu dalam tarian sangat sedikit. Hanya satu sanggar yang mendekati kesempurnaan yaitu Tuah Pusaka,” ujarnya.

Garapan olah gerak, tari dan musik, kata Parman, harus sesuai dengan tema dan sinopsisnya. Namun dari 13 sanggar yang tampil tidak satupun yang memenuhi seluruh unsur tersebut. Sehingga diyakininya sanggar tari dari Kabupaten Bintan sangat kecil kemungkinan untuk bersaing ditingkat provinsi maupun nasional.

Sebab, lanjut Parman, dari hasil penilainannya selama ini sanggar-sanggar tari dari daerah lain sangat kental dengan unsur tradisi dan adat budaya daerahnya masing-masing. Sedangkan sanggar tari di Kabupaten Bintan belum mencerminkan tradisi kemelayuannya.

“Ingat jangan takut menggunakan instrumen yang mendukung. Jangan terpaku dengan biola, arkodion dan gendang saja tetapi mampu mewarnainya dengan alat musik lain. Karena alat musik lain juga bisa menggambarkan tradisional kemelayuan daerah ini,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Disbudpora Bintan, Makhfur Zurachman mengatakan festival tari ini telah menjadi agenda tahunan di Kabupaten Bintan. Tujuannya sebagai wadah menyalurkan bakat, memotivasi bagi pengelola sanggar serta mempererat hubungan silahturahmi sesama sanggar.

“Kegiatan ini juga berfungsi sebagai upaya melestarikan adat budaya melayu. Kemudian menumbuhkan kesadaran bagi kaula muda untuk menjaga keberadaan tradisi-tradisi melayu yang hampir punah,” katanya.

Dari 13 sanggar yang tampil didalam acara ini, kata Makhfur, juara umum dinobatkan kepada Sanggar Tuah Pusaka asal Kecamatan Bintim. Disusul juara kedua, Sanggar YKPP asal Kecamatan Binut dan juara ketiga diraih Sanggar Bungsu Sakti asal Kecamatan Mantang.

Berikutnya untuk juara harapan satu, lanjut Makhfur, diberikan kepada Sanggar Sang Nila Utama asal Kecamatan Binut. Dan untuk juara harapan dua ditangan Sanggar Kreasi Guru utusan dari Kecamatan Bintim.

“Sanggar yang juara akan mendapatkan piala dan piagam. Kemudian juga diberikan uang pembinaan dari Rp 5 juta sampai Rp 14 juta,” jelasnya.

Sedangkan untuk kategori penata tari terbaik, sambung Makhfur, diraih oleh Arwiyanto dari Sanggar Tuah Pusaka. Selanjutnya kategori penata musik terbaik diberikan kepada Muhammad Farid dari Sanggar YKPP dan kategori penata rias dan busana terbaik ditangan Zaibun Nesa dari Sanggar Sang Nila Utama.

“Mereka juga mendapatkan piala dan piagam. Namun uang pembinaannya hanya Rp 2 juta untuk masing-masing penata. Baik itu tari, musik maupun rias dan busana,” sebutnya.

Terpisah, Bupati Bintan, Apri Sujadi mengaku sangat bangga dengan penampilan sanggar tari diacara festival ini. Apalagi peserta yang ikut berkompetisi merupakan generasi-generasi muda.

“Acara ini mejadi bukti kreatifitas putra dan putri daerah sudah semakin maju. Bahkan kemajuan itu juga didasari dengan cinta terhadap kebudayaan daerah,” katanya.

Kedepannya, kata Apri, festival seperti ini akan dibuat lebih meriah lagi. Kemudian hadiah yang akan disediakan akan ditambahkannya lagi. Tujuannya untuk memotivasi pegiat kesenian tari agar terus berkreatifitas serta mendorong generasi muda untuk mencintai tradisi-tradisi daerah.

“Semoga dengan kegiatan kebudayaan ini kenakalan remaja di Bintan menurun drastis. Karena remaja merupakan aset pemerintah yang bernilai tinggi,” ungkapnya. (ary)

Respon Anda?

komentar