Kurir Narkoba Dituntut Hukuman Mati

822
Terdakwa kasus sabu dan ekstasi seberat 96 kg, Edo (kiri) dan idris menangis saat dituntut hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Senin (20/3). f.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Tangis haru keluarga Idrizal Efendi, 26, dan Edo Rinaldi, 24, pecah di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, usai Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut kedua terdakwa yang merupakan kurir narkoba seberat 96 kilogram yang terdiri dari sabu dan ekstasi, agar dihukum mati.

Ruang sidang II PN Tanjungpinang, Senin (20/3) sore, ramai dipadati pengunjung. Sore itu, pengunjung yang terdiri dari keluarga kedua terdakwa, sejumlah wartawan yang biasa meliput, pegawai PN sendiri dan juga istri Jaksa. Yang mana kehadiran mereka untuk mendengarkan tuntutan JPU dari Kejari Tanjungpinang terhadap kurir narkoba sindikat internasional tersebut.
Suasana hening terlihat ketika JPU membacakan tuntutannya. Majelis hakim, yang dipimpin Wahyu Prasetyo Wibowo, didampingi dua hakim anggota yakni Acep Sopian Sauri dan Santonius Tambunan, kedua terdakwa dan seluruh pengunjung sidang pun dengan seksama mendengarkan halaman demi halaman uraian dalam tuntutan yang dibacakan JPU Haryo Nugoroho dan RD Akmal secara bergantian.
Namun, di dalam ruang sidang itu terdapat beberapa mata yang bulir air matanya mulai turun membasahi pipi ketika JPU meminta majelis hakim yang menyidangkan perkara dua orang kurir sabu yang ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) di Tanjungpinang, (4/8) tahun 2016, di Jalan Gatot Subroto, kilometer lima, agar dihukum mati.
Tangis Wanita yang mengenakan baju warna merah dengan kerudung berwarna hitam yang merupakan keluarga dari salah satu terdakwa itu pun semakin histeris, saat dirinya keluar dari ruang sidang dengan memeluk salah seorang anggota keluarganya usai JPU membacakan tuntutannya. Ia terus menangis dan memeluk anggota keluarganya itu hingga kebagian belakang PN Tanjungpinang.
Dalam tuntutannya, JPU menyatakan kedua kurir tersebut terbukti bersalah sebagaimana dalam dakwaan pertama  melanggar Pasal 114 ayat 2, pasal 112 ayat 2 junto pasal 132 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
”Untuk itu kami meminta kepada majelis hakim agar kedua terdakwa dihukum mati. Karena, kedua terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, memberi, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan Narkotika Golongan Satu,”ujar JPU.
Dikatakan JPU,sebelum menjatuhkan tuntutan. Pihaknya juga mempertimbangkan beberapa hal yang memberatkan diantaranya kedua terdakwa tidak mengungkap siapa jaringan mereka, selalu berbelit-belit dalam memberikan keterangan dan tidak mengakui perbuatannya yang tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkoba. ”Untuk hal yang meringankan tidak ada sama sekali,”kata JPU.
Sedangkan untuk barang bukti berupa sabu seberat 96 kilogram, sambung JPU, dirampas untuk di musnahkan. Sementara dau unit mobil Daihatsu Feroza BP 1463 JL dan Suzuki Escudo BP 1649 NM dirampas untuk negara.
”Penyelundupan narkoba yang dilakukan terdakwa merupakan kegiatan yang ketiga kalinya. Yang mana sebelum ditangkap BNN, ┬ásekitar bulan Mei dan Juli di tahun 2016 telah berhasil menyelundupkan sabu melalui Tanjungpinang untuk dikirim ke Pontianak dan Makassar,”ucap JPU.
Menanggapi tuntutan yang dibacakan JPU, terdakwa melalui Penasehat Hukum (PH) nya, Syafaad, akan mengajukan Pledoi (Pembelaan) dan meminta waktu untuk menyusun pembelaan yang akan dibacakan pada sidang selanjutnya.”Kami akan mengajukan banding. Karena tuntutan JPU itu hukuman maksimal,”ujar Syafaad.
Setelah mendengar tuntutan yang dibacakan JPU dan tanggapan Penasehat hukum terdakwa. Majelis hakim pun menunda sidang selama tujuh hari untuk mendengarkan pledoi kedua terdakwa yang dilanjutkan dengan tanggapan JPU (replik) dan tanggapan PH terdakwa (Duplik) atas Replik JPU. (osias)

Respon Anda?

komentar