Ternyata WNI Jadi Dalang Penculikan Leng Leng

774
Pesona Indonesia
Seorang anggota Provam Polda Kepri mengawal empat pelaku penyekapan WN Malaysia bernama Leng Leng yang berhasil ditangkap saat ekpos di Mapolda Kepri, Senin (20/3). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Enam warga Batam yang menculik WN Malaysia, Kuang Leng Leng (bukan Ling Ling, red), mengaku dijanjikan bayaran Rp 150 juta per orang. Upah tersebut akan diberikan jika suami Leng Leng membayar tebusan sebesar Rp 45 miliar yang mereka minta.

Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian mengatakan, penculikan ini diotaki oleh WNI berinisial At. Saat ini At masih berstatus buron. Selain At, polisi juga masih memburu satu pelaku lainnya, Bn.

“Saat ini baru empat pelaku yang kami amanakan,” kata Kapolda saat konferensi pers di Malpolda Kepri, Senin (20/3).

Empat orang yang telah ditangkap tersebut yakni Muhammad Soleh, Pung Cahyadi alias Panjang, David Du, dan Hartani.

Sam kemudian menjabarkan kronologis penculikan Leng Leng. At yang menjadi otak pelaku penculikan sudah merancang sedari awal bagaimana kawanan penculik ini akan beraksi. Karena membutuhkan banyak orang, ia merekrut empat warga Batam, yakni Bn, Saleh, Pun Cahyadi, dan David Du.

Kemudian At memutuskan menculik Leng Leng pada 21 Februari sekitar 7 malam waktu Malaysia. At bersama empat pelaku lainnya mendatangi rumah Leng Leng yang beralamat di Jalan Nuri 26 Bandar Putra 81000 Kulai, Malaysia.

“Sebelum memasuki rumah Kuang Leng Leng, At memberikan pengarahan kepada para tersangka lainnya. Agar menjalankan perannya masing-masing,” ucapnya.

Setelah itu, berdasarkan rekaman CCTv, mereka melompati pagar rumah korban. Kemudian mereka menorobos ke dalam rumah melalui pintu belakang. Setelah itu para pelaku bergerak ke posisi masing-masing. Saleh berjaga di depan rumah, untuk mencegah ada orang yang keluar dari rumah tersebut. Bn dan Pun Cahyadi bertugas untuk memeganggi Kuang Leng Leng. Sementara At mengancam penghuni rumah dengan senjata api, sedangkan David Du bertugas mengawasi kondisi di luar rumah.

Setelah itu para tersangka membawa keluar korbannya, dan kabur dengan menggunakan mobil yang telah disiapkan di depan rumah. Para tersangka ini membawa Leng Leng ke dalam hutan Johor. Untuk memuluskan aksinya itu, mereka dibantu oleh enam orang WN Malaysia yakni Sin, Wei, Lee, Soh, Chew, dan Siau.

“Keenamnya sudah dibekuk Polisi Diraja Malaysia,” ucap Sam.

Setelah tiga hari di dalam hutan di Johor, pada 24 Februari para pelaku membawa Leng Leng ke pelabuhan ilegal yang berada di Pangeran Kuta Tinggi, Johor, Malaysia. Dari pelabuhan tikus tersebut, Leng Leng dibawa menuju Batam, juga melalui pelabuhan tidak resmi. Sesampai di Batam, Leng Leng dibawa ke rumah salah satu pelaku di Batuaji.

Selama 23 hari di Batam, korban dan keenam pelaku sempat beberapa kali pindah tempat. Hingga akhirnya mereka membawa korban ke rumah liar milik Hartani di Marina Kaveling Plus 3 Kecamatan Batuaji.

Sebelum disergap, At meninggalkan korban bersama lima pelaku lainnya dengan alasan akan kembali ke Malaysia untuk negoisasi dengan suami korban. Setelah At, tersangka Bn juga meninggalkan komplotan ini pada 17 Maret.

Sebelumnya para pelaku ini menghubungi suami korban sebanyak sembilan kali dengan menggunakan nomor ponsel yang berbeda-beda. “Setelah sembilan kali dihubungi, suami korban baru melaporkan kejadian ini ke Polisi Diraja Malaysia (PDRM),” ungkap Sam.

Pihak PDRM kemudian berhasil menangkap enam pelaku WN Malaysia di Johor. Dari keenam pelaku ini, PDRM mengetahui jika korban sudah dibawa ke Batam. Kemudian PDRM berkoordinasi dengan Mabes Polri untuk menita bantuan.

Pada 15 Maret, tim Mabes Polri yang dipimpin Kombes Pol Herry Heryawan melakukan pengejaran dan pencarian di Batam. Tim Mabes Polri ini berkoordinasi dengan Polda Kepri dan Polresta Barelang. Butuh empat hari bagi polisi untuk mengendus persembunyian kawanan penculik itu.

Hingga pada 19 Maret sekitar pukul 05.00 pagi, polisi bergerak menuju rumah Hartani, tempat Leng Leng disekap. Karena para pelaku diduga membawa senjata api, tim gabungan ini meminta unit operasi khusus dari Gegana Satbrimob Polda Kepri melakukan penyergapan. Penyergapan ini berlangsung dengan cepat, unit taktis ini dengan sigap melumpuhkan para tersangka.

“Setelah itu, kemarin (19/3) sore korban langsung dibawa ke Malaysia untuk diserahkan ke PDRM,” ungkap Sam.

Dari para tersangka tak ditemukan senjata api. Polisi hanya mengamankan tiga unit hape dan baju yang digunakan korban saat penculikan.

Batam Pos mendatangi rumah Hartani yang berada di kawasan Marina, kemarin. Rumah liar ini berada tak jauh dari lintasan offroad Capung, Marina. Rumah sangat sederhana ini sudah dipasangi garis polisi, kemarin.

Saat mengintip ke ruangan utama, terlihat seperti ruang tamu atau ruang bersantai keluarga. Satu kursi kayu memanjang, yang beralas dan bersandarkan bantalan menjadi barang yang pertama kali dapat dilihat jika pintu biru rumah ini dibuka oleh empunya. Bagian kiri kursi dilengkapi dengan meja kayu, yang di atasnya tergeletak bunya hiasan berwarna warni. Namun tak lagi tegak menghiasi ruangan tersebut.

Sudut lain ruangan ini diletakkan dipan. Yang kemungkinan digunakan untuk beristirahat, dengan bantal berbungkuskan sarung bantal, bergambar animasi angry bird. Menghadap langsung ke jendela yang memperlihatkan sisi depan rumah.

Seperti halnya rumah pada umumnya, rumah yang belum diketahui siapa pemiliknya ini, dilengkapi foto-foto yang menghiasi dinding ruang tamunya. Foto-foto yang terlihat, seakan momen yang spesial dari orang difoto tersebut. Foto pernikahan dan foto bersama dengan kalangan keluarga lainnya. Foto bayi dan juga foto seorang gadis yang diambil close up. Secara perawakan, terlihat berasal dari Indonesia bagian timur. Dan beberapa orang di foto tersebut terlihat lebih oriental.

Kamar tidur dari rumah tersebut, menjadi ruangan yang paling cerai-berai. Meski memiliki satu buah ranjang, namun dua buah kasur single justru diposisikan melintang. Dua buah bantal terlihat lusuh berada di atas kasurnya. Dengan ranjang yang dipenuhi dengan dua buntelan kain. Bagian lantainya pun tertutupi dengan kain tak beraturan. Seperti pakaian wanita lalu pakaian pria, tas, topi, sarung tangan, ember, sepatu bertebaran di seisi kamar tersebut. Sementara satu buah kulkas satu pintu beralih fungsi menjadi lemari.

Tali jemuran pakaian pun dipasang melintang tak karuan, dengan satu pasang pakaian dalam wanita, celana tidur dan selembar kaus wanita berbelang merah muda dan abu-abu yang digantungnya.

“Tak terlalu berurusan. Saya hanya mengurus kebun saya saja,” tutur salah seorang tetangga yang berada menyerong kiri di hadapan rumah penyekapan tersebut.

Wanita paruh baya berlogat Jawa ini hanya menjelaskan bahwa rumah tersebut berpenghuni sekitar sebulan lebih. “Setahu saya kakak adik yang tinggal di sana,” tutur wanita tersebut sembari memandangi rumah di seberangnya itu.

Ia menerangkan sepasang kakak adik inilah yang terlihat seperti penghuni rumah tersebut. Namun mengaku tak mengetahu pasti ras dari empunya rumah.

“Gak tahu saya. Saya cuma urus-urus kebun saya ini aja. Gak merhatikan yang lainnya,” ujarnya lagi.

Sementara itu, tepat di seberang rumah lokasi penyekapan, adapula Ewin dan Rino. Dua lelaki ini menuturkan orang yang bertempat tinggal di lokasi tersebut berganti-ganti. Yang ia tahu, rumah tersebut juga sempat didiami oleh Hari yang merupakan orang  Lampung.

Mereka juga melihat seringnya lelaki tersebut keluar masuk ke rumah¬† tersebut. Namun tak diketahui pasti berapa jumlah dan perawakan orang tersebut. “Tak jelas juga yang keluar masuk orang yang sama atau bukan,” ucap Ewin.

Sementara itu, rumah tersebut pun kerap kali dilalui oleh pemotor yang hendak memancing di kolam yang berada di daerah tersebut. Dengan tiga rumah yang berada di sekitar rumah penyekapan ini dalam radius 50 meter,

Terpisah, Kepala Kantor Imigrasi Kelas IA Khusus Kota Batam Teguh Prayitno memastikan Leng Leng masuk ke Batam lewat jalur tak resmi. Hal itu dipastikan setelah pihaknya mengecek nama korban di data jalur masuk WNA yang ada di Imigrasi.

“Kami pastikan korban tidak masuk lewat pintu resmi. Kita sudah cek datanya, karena itu kita pastikan tak ada,” terang Teguh, kemarin. (ska/aya/eja/she)

Respon Anda?

komentar