batampos.co.id – Meskipun Gubernur Kepri, Nurdin Basirun telah menaikan Tarif Listrik Batam (TLB). Tetapi kebijakan tersebut tidak membuat pelayanan listrik yang disuplai melalui sistem interkoneksi Batam-Bintan (Babin) terjamin. Pasalnya beberapa hari belakang ini, Pulau Bintan masih dilanda black out atau padam total.

“Sistem interkoneksi tidak menjadi jaminan, bagi pelayanan listrik di Pulau Bintan. Karena masih rentan gangguan pada sistem jaringannya,” ujar Anggota Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua menjawab pertanyaan Batam Pos, Kamis (6/4) di Tanjungpinang.

Legislator Dapil Tanjungpinang tersebut juga mengatakan, faktor lain yang menjadi catatan pentingnya adalah mengenai kehandalan jaringan yang ada di Tanjungpinang. Menurut Rudy, jaringan yang ada masih belum bisa suport dengan jaringan 150 kv.

“Kita juga melihat, PLN Tanjungpinang punya ketergantungan besar dengan sistem interkoneksi. Sehingga tidak punya energi cadangan yang memadai untuk mengatasi gangguan interkoneksi Babin,” papar Rudy.

Politisi Partai Hanura tersebut menjelaskan, pihaknya sudah mendorong Tanjungpinang harus memiliki PLTU sendiri. Karena tidak cukup jika hanya mengandalkan interkoneksi. Apalagi kapasitas daya cadangan yang ada, tidak bisa memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Bintan. Ditegaskan Rudi, untuk kebutuhan Tanjungpinang saja, yakni 45 sampai 48 mega watt tidak cukup.

“Memang sudah ada rencana PLN Area Riau Kepri untuk membangun PLTU dengan kapasitas 2 x 25 MW di Tanjungpinang. Pemko menyarankan di Tanjungmoco, Dompak. Rencana ini harus terus ditindaklanjuti,” jelas Rudy.

Anggota Komisi III DPRD Kepri, Irwansyah menilai, sistem interkoneksi 150 kv Babin sekarang ini sudah handal. Gangguan yang terjadi di Tanjungpinang, lebih disebabkan sensitifnya jaringan yang ada. Menurut politisi Partai Persatuan

Pembangunan (PPP) tersebut, jaringan tersebut harus segera di upgrade. “Kalau kita lihat kehandalan, sistem interkoneksi Babin sudah sangat handal. Persoalannya, jaringan yang ada di area Tanjungpinang tidak suport. Sehingga rentan terjadi black out ketika terjadi hujan atau petir,” ujar Irwansyah.

Wakil rakyat Dapil Batam tersebut juga mengatakan, PLN Area Tanjungpinang tidak memiliki capital expenditure (capex) untuk peremajaan jaringan. Atas dasar itu, selama belum dilakukan peremajaan jaringan, pelayanan listrik di Tanjungpinang tidak akan prima.

“Persoalan ini harus segera dituntaskan. Karena menyangkut pelayanan kepada masyarakat,” papar Irwansyah.

Sementara itu, Humas PLN Area Tanjungpinang, Musril mengatakan pemadaman listrik di Tanjungpinang terjadi sekitar pukul 12.23 WIB. Lantaran terjadi gangguan pada sistem 150 kv Babin. Karena disebabkan sambaran petir yang sangat kuat, antara Gardu Induk(GI) 150 kv Sri Bintan (Bintan Bunyu) dengan GI 150 kv Kijang.

“Karena kejadian itu, proteksi relay di gardu induk tidak bekerja. Sehingga terjadi black out atau mati total listrik di daerah Tanjung Uban sekitarnya, Kawal, Kijang, dan Tajungpinang sekitarnya lebih kurang satu jam,” ujar Musril

Menurut Musril, sekitar pukul 13.10 WIB semua sistem 20 kv sudah normal kembali. Pihaknya PLN meminta maaf atas ketidaknyaman pelayan yang terjadi. Dikatakannya juga, saat ini PLN sedang berusaha untuk menyempurnakan sistem proteks relaynya.

“Semoga kedepan gangguan-gangguan seperti ini tidak terjadi lagi,” harap Musril. (jpg)

Respon Anda?

komentar