Jodoh Boulevard Jadi Sarang Pencopet, Sering Ditemukan Dompet di Depan Toko

940
Petugas kebersihan menyapu kawasan Jodoh Boulevard, Rabu (8/6/2016). Kawasan ini banyak kios kaki lima, sampah banyak, fasilitas pada rusak dan kumuh. Parahnya lagi tempat ini menjadi sarang preman buat mabuk-mabukan. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Jodoh Boulevard bukan hanya tampak tak elok, tapi juga mencekam bagi para pengunjung. Dengan kondisi yang memprihatikan, taman yang diharapkan menyerupai Bugis Street Singapura itu menjadi sarangnya para pencopet dan preman.

Salah satu warga yang tinggal di ruko dekat Jodoh Boulevard (ruko Tanjung Pantun), Kasan mengaku sering mememukan dompet di depan tempat tinggalnya itu. “Pagi-pagi sering ketemu dompet. Kadang dompetnya saja, kadang ada yang masih ada KTP atau kartu-kartu lain di dalam dompet,” ujarnya.

Menurutnya, dompet-dompet itu hasil curian yang sengaja dibuang para pencopet. Tidak diketahui pasti apakah para pencopet beraksi hanya disekitar Jodoh Boulevard saja. “Bisa jadi mencopet di tempat lain, tapi disini mereka kumpul untuk bagi hasil,” terang pekerja swasta ini.

Belum lagi, aksi preman nakal yang kerap menggoda pengunjung yang melintas di ruas-ruas jalan di kawasan Jodoh Boulevard tersebut. Hal tersebut cukup mengganggu.

Sebagai warga setempat, Kasan mengaku gerah dengan keadaan tersebut. Hingga muncul keinginannya bersama warga sekitar untuk membuat spanduk berisikan tentang pembongkaran kawasan yang menjadi mimpi dan harapan Pemko Batam tahun 2006 silam.

“Saya setuju kalau kawasan ini dibongkar dan ditata kembali, agar bisa benar-benar menyerupai boulevard yang ada di Singapura dan Malaysia,” harapnya.

Sementara pedagang di ruko Tanjung Pantun, Harjono berpendapat sama. Ia yang berdagang perlengkapan sekolah itu tak bisa lagi mengharapkan hasil dari dagangannya.

“Sejak lima tahun belakangan pembeli mulai surut. Bahkan sekarang tidak ada pemasukan sama sekali,” bebernya.

Harjono menambahkan, tokonya yang masih buka hingga kini di lantai dua ruko Tanjung Pantun tersebut dikarenakan hanya untuk menghabiskan waktu.

“Kami ini sudah tua, tidak mampu lagi bersaing dengan toko-toko lain,” ungkapnya dengan tawa.

Ia yang juga tinggal di dekat kawasan Jodoh Boulevard tak jarang mendengar tentang rawannya kawasan tersebut. “Iya, banyak bilang disini ngeri. Tapi saya sampai sekarang belum pernah mengalami peristiwa yang mengerikan itu,” tutur Harjono lagi.

Jika kawasan itu dibongkar, ia pun berpendapat setuju. “Asal untuk kebaikan bersama, saya setuju saja,” tutupnya. (nji)

Respon Anda?

komentar