Kepala Pusat Layanan Autis Batam Riniatun bersama dua orang terapis sedang bermain dengan anak penyandang autisme pada rangkaian peringatan Hari Peduli Autis Se-Dunia di Pusat Layanan Autis Batam, Jumat (7/4). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Batam memperingati Hari Peduli Autis Sedunia yang jatuh 2 April lalu dengan menyelenggarakan senam bersama, gotong royong dan potong tumpeng di Gedung PLA Batam, Batamkota, Jumat (7/4).

Kepala PLA Batam, Riniatun mengatakan kegiatan ini dilakukan serentak di seluruh PLA yang berada di Indonesia dengan tema Inclusion and Neurodiversity. Keselarasan dan perbedaan adalah suatu yang alamiah. “Kami ingin mengajak masyarakat untuk peduli dan menerima kehadiran Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) termasuk penyandang autisme. Kami juga mengharapkan orangtua yang memiliki anak autisme bisa terbuka,” kata Rini dijumpai saat acara.

Lebih lanjut ia menjelaskan autisme merupakan kelainan pada seseorang yang mengalami kesulitan membina hubungan sosial, komunikasi ataupun emosi. “Saat ini banyak juga, anak-anak yang mengidap autisme seperti speech delay yang disebabkan oleh pola asuh orang tua yang acuh. Anak-anak diberikan gadget atau tontonan televisi secara berlebihan sehingga tidak ada interaksi sosial,” ungkapnya.

Kebanyakan kasus, anak-anak seperti ini mengalami keterlambatan proses komunikasi. “Nah, di PLA ini anak-anak yang hendak diterapi sebelumnya diobservasi dulu sesuai kebutuhan mereka,” ucapnya.

Ada lima terapi berbeda, yakni sensori integrasi, terapi perilaku, okupasi, terapi wicara dan akademik. “Setelah melalui observasi, misalnya si A cenderung mengalami kesulitan berbicara dan sensori integrasinya kurang. Maka akan masuk dua terapi ini. Nah, tentu saja paling wajib diberikan adalah terapi perilaku,” jelasnya.

Terapi perilaku ini diberikan untuk mendorong kesiapan mental anak agar siap beradaptasi ketika masuk sekolah reguler ataupun Sekolah Luar Biasa (SLB). “Goalnya itu, anak-anak siap menempuh kegiatan belajar mengajar di sekolah,” ucap Wanita yang pernah menjadi Kepala Sekolah SLB Kartini ini.

Mengenai agenda senam bersama dan gotong royong ini sengaja dipilih Rini agar siswanya bisa mengenal dunia nyata.

“Jika biasanya anak-anak hanya di dalam ruang, jadi bisa lebih banyak interaksi dengan dunia luar,” ujarnya.

Banyak anak-anak yang terlihat takut dan merasa geli ketika diajak mencabut rumput di pekarangan gedung LPA. Setelah diarahkan, mereka akhirnya berani.

“Ada anak yang takut matahari, langsung mencuci tangannya ketika menyentuh rumput. Inilah yang ingin kami coba luruskan, interaksi sosial itu penting,” tegasnya.

Sementara di dalam gedung, PLA yang saat ini dibawah naungan Pemerintah Provinsi ini bisa memiliki sarana dan prasana yang memadai dengan tenaga terapis sembilan orang dan tiga orang guru transisi.

Di luar hal tersebut, Rini mengatakan rutin mengadakan parenting dan evaluasi.

“Kami siapkan waktu khusus untuk mengajarkan orang tua terapi-terapi yang bisa dilakukan di rumah,” pungkasnya.

Salah satu orangtua, Yudi menyambut baik peringatan hari peduli autis sedunia ini. Ia mengatakan kegiatan yang dilaksanakan sangat bagus sebagai pengenalan dengan lingkungan luar.

“Selain itu, mereka bisa melatih kemandirian dan bisa berinteraksi serta bersenang-senang dengan terapis dan teman-temannya,” kata Yudi.

Selain itu, orangtua dan para terapis bisa saling bersilaturahmi dan menerima ilmu untuk tumbuh kembang anaknya. (cr18)

Respon Anda?

komentar