Menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, Yonana Susana Yembise meninjau Selter Dang Merdu, Sekupang, Senin (10/4/2017). Foto. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise mengatakan, Batam sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan negara Singapura dan Malaysia menjadi faktor memudahkan terjadinya perdagangan manusia. Bahkan, menurut dia, kini Batam telah menjadi pusat human trafficking atau perdagangan manusia.

Untuk itu, masalah ini akan menjadi perhatian yang sangat serius dan harus segera ditangani. “Saya di Jayapura, tapi banyak laporan yang masuk bahwa Batam pusat perdagangan orang,” kata Yohana usai meninjau Selter Anak Dang Merdu di Sekupang, Senin (10/4/2017).

Yohana mengatakan, dalam waktu dekat ini pihaknya akan mengkaji dulu, serta bekerjasama dengan intelejen dan kepolisian untuk menghentikan perdagangan manusia di Batam.

Di samping permasalahan perdagangan manusia, juga menjadi perhatian Yohana adalah meningkatnya kasus kekerasaan pada perempuan di Batam. “Saya belum baca laporannya, tapi mereka bilang meningkat. Dan ini harus kita cari tahu bersama penyebabnya kenapa Batam meningkat kekerasan pada perempuan,” jelasnya.

Yohana menyebutkan, dari tiga perempuan, satu orang mengalami kekerasan. “Ini seperti fenomena gunung es, dan harus diselesaikan,” ucap perempuan kelahiran Manokwari, Papua pada 1 Oktober 1958 ini.

Selain itu, hal penting lainnya yang menjadi perhatian perempuan lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih ini, adalah eksploitasi anak yang kian marak, terutama di Kota Batam. Hak anak adalah bersekolah, usia 0-18 tahun mereka butuh pendidikan, bukan bekerja.

“Jangan ada lagi anak yang bekerja, mereka harus sekolah. Apalagi Batam sudah sebagai kota layak anak, tentunya sudah memenuhi kriteria sebelum menyandang gelar tersebut. Ibu wali dan instansi terkait saya titip untuk berkomitmen melindungi anak-anak dari eksploitasi ini,” paparnya.

Pemerintah Kota (Pemko) Batam juga diminta untuk mensosialisasikan prgram Three Ends, yaitu akhiri kekerasan pada anak dan perempuan, akhiri perdagangan orang, dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan.

Sementara itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kota Batam, Marlin Agustina Rudi yang turut mendampingi Yosana mengatakan, kekerasan pada anak di Kota Batam cukup mengalami peningkatan yang signifikan. Dia menyebutkan, dari Januari-Februari 2016 kasus kekerasan pada anak hanya tujuh kasus, namun Januari-Februari 2017 naik menjadi 27 kasus.

“Makanya untuk menekan hal, ini kami gencarkan sosialisasi hingga ke kalangan ibu-ibu dan sekolah, dan berharap tidak ada lagi kasus seperti ini,” tutupnya. (cr17)

Respon Anda?

komentar