batampos.co.id –  PLN Batam terus memasok listrik di sebagian wilayah Hinterland (penyangga). Kini, warga hinterland seperti di wilayah Tanjungpiayu Laut bisa menikmati listrik selama 24 jam.

“Kami sangat senang listrik PLN Batam bisa masuk ke wilayah kami (Tanjungpiayulaut), lebih murah dan andal,” kata Ketua RT 01 RW 10 Tanjungpiayu Laut, Kelurahan Tanjungpiayu, Kecamatan Seibeduk, Abdul Rahman kepada Batam Pos, Selasa (11/4).

Siang maupun malam, warga bisa menikmati listrik untuk kebutuhan rumah tangga ataupun usaha.

“Anak kami yang sekolah juga terbantu, mereka bisa belajar maksimal,” katanya lagi.

Selain lebih andal, biaya pemakaian listrik PLN Batam juga lebih murah. Mereka cukup mengeluarkan sekitar Rp 200 ribu per bulan untuk listrik golongan R1/1300 VA yang umumnya dipergunakan masyarakat Tanjungpiayu Laut.

“Ketika menggunakan Genset, tagihan listrik Rp100 ribu per minggu atau Rp400 ribu per bulan,” ungkapnya lagi.

Padahal sebelumnya,  listriknya hanya bisa dinikmati masyarakat selama 12 jam saja.

“Nyala dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB. Itupun kadang hidup kadang mati,” ungkapnya lagi.

Karena itu, masyarakat menantikan kehadiran listrik yang andal dan murah. Bisa menikmati listrik sepertihalnya masyarakat di Kota Batam. “Sudah lama kami ajukan, alhamdulilah saat ini kami sudah bisa menikmati listrik 24 jam seperti warga di Kota Batam,” beber pria berumur 40 tahun ini.

Idrus warga Tanjungpiayu Laut lainnya menyambut gembira adanya pasokan listrik dari bright PLN Batam. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan itu bisa menikmati listrik selama 24 jam.

“Kini siang hari bisa mengosok pakaian, masak nasi, ataupun nonton TV,” kata pria asal Pulau Akar ini.

Corporate Communication bright PLN Batam, Benny Eka Putra mengatakan beberapa kawasan hinterland sudah dialiri listrik mulai tanggal 17 Maret 2017 lalu. Diantaranya Wilayah Tanjungpiayu Laut, Teluklengung, Nongsa serta wilayah Sembulang.

“Hal ini sebagai bentuk komitmen kami (PLN) melayani masyarakat Batam hingga ke wilayah Hinterland. Meskipun diantaranya berada di wilayah kerja PLN Persero,” kata Benny.

Padahal, investasi yang dikeluarkan PLN jauh lebih besar dari biaya penyambungan yang diperoleh dari masyarakat. Sepertihalnya di wilayah Tanjungpiayu Laut, PLN Batam harus menginvestasikan untuk jaringan hingga Rp 1,39 miliar.

“Sementara biaya penyambungannya hanya sekitar Rp 168 juta untuk 50 pelanggan,” bebernya.

Begitupun di wilayah Teluklengung, PLN Batam harus menginvestasikan Rp 830 juta. Sementara biaya penyambungannya hanya Rp183 juta untuk 64 pelangan.

“Investasinya besar karena jauh dari jaringan,” kata Benny lagi.

Namun, hal tersebut bukan halangan untuk anak perusahaan PLN Persero untuk menerangi kawasan hinterland.

“Bahkan dalam waktu dekat ini akan ada kawasan Hinterland yang kita pasang,” bebernya.

Menurutnya, PLN Batam siap memasok listrik di wilayah penyangga, karena mereka surplus daya sekitar 40 Mega Watt (MW).

“Pada intinya kami siap, daya kami surplus,”ungkapnya lagi.

Ditanya selalu ada pemadaman bergilir yang kerap terjadi, menurut Benny hal tersebut dikarenakan permasalahan jaringan.

“Kita sedang melakukan evaluasi. Bila perlu diganti, segera akan kita ganti,” ungkapnya.

Pihaknya juga berencana mengoptimalkan PLTG Tanjunguncang untuk sepenuhnya masuk kedalam sistem kelistrikan Batam. Sehingga ketika terjadi pemeliharaan di salah satu pembangkit, tidak perlu dilakukan pemadaman bergilir.

“PLTG Tanjunguncang memiliki daya sekiter 190 MW, yang masuk sistem baru 70 MW,” bebernya. (hgt)

Respon Anda?

komentar